Pendidikan Vokasi di Tengah Pandemi, Dirjen Diksi Optimis

Kemdikbud Program Pendidikan

JAKARTA,– Ditjen Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus menjalankan kebijakan dan program untuk kemajuan pendidikan vokasi di Tanah Air. Hal ini tetap digencarkan, meskipun pandemi Covid-19 belum juga dinyatakan berakhir.

Sejumlah strategi pendidikan vokasi dijalankan, diantaranya: Pertama, menerapkan kebijakan program link and match paket 8 + 1 yang tak sekedar perjanjian di atas kertas melainkan penerapan secara berkelanjutan. Kedua, Re-branding pendidikan vokasi, dan ketiga, merombak mindset SDM pendidikan vokasi.

Terkait link and macth mencakup penyelarasan kurikulum satuan pendidikan vokasi dengan dunia industri (dudi), pengembangan soft skill melalui project base learning, program guru tamu dari industri untuk mengajar di satuan pendidikan vokasi (minimal 50 jam per semester per prodi).

Selain itu, dijalankan pula kegiatan magang minimal satu semester, penerbitan sertifikasi kompetensi, pendidikan dan pelatihan pengajar pendidikan vokasi di industri, riset terapan yang menghasilkan produk untuk masyarakat, serta komitmen serapan lulusan oleh dunia usaha dan industri.

Sedangkan +1 dari program link and match tersebut adalah bantuan, beasiswa maupun ikatan dinas yang diberikan oleh dunia usaha dan industri.

Menyoal re-branding, Ditjen Pendidikan Vokasi melakukan strategi pemasaran dengan pelbagai konten yang menarik minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi, terutama pemanfaatan platform digital bagi kaum milenial.

“Selain media cetak (konvensional), juga dilakukan branding melalui media sosial dalam bentuk video, film maupun lagu, dan lainnya oleh Sekretariat Ditjen dan termasuk yang dilakukan oleh Direktorat Kemitraan dan Penyelerasaan Dunia Usaha dan Industri (Mitras DUDI),” kata Dirjen Diksi Wikan Sakarinto dalam keterangan tertulis, Jumat (8/1).

Sementara itu masih kata Wikan, untuk merombak mindset SDM pendidikan vokasi harus dimulai dari keberanian para pimpinan maupun pengajar satuan pendidikan vokasi untuk mengubah karakternya demi melakukan berbagai inovasi bagi pendidikan vokasi.

Tercatat, lebih dari 3.500 pimpinan dan pengajar SMK telah mendapatkan training mindset, leadership, dan kompetensi produktif pada 2020 lalu. Kemudian Ditjen Pendidikan Vokasi kata Wikan akan memberikan dukungan, baik bantuan dana maupun kebijakan, agar hasil yang diharapkan dari pendidikan vokasi dapat terwujud, yakni menghasilkan SDM yang kompeten, unggul, dan match (hard skills, soft skills maupun karakter yang kuat).

“Kami juga membentuk Forum Pengarah Vokasi (Rumah Vokasi) dengan 50 anggotanya saat ini yang berasal dari para pemimpin dunia usaha dan industri, misalnya Kadin, Apindo, BUMN, asosiasi profesi, dan kawasan industri,” tutur Wikan.

Lewat berbagai program yang telah diluncurkan oleh Ditjen Pendidikan Vokasi, diketahui enam bulan belakangan ini telah terjadi peningkatan pemahaman dan juga gairah, baik dari satuan pendidikan vokasi maupun dunia usaha dan industri.

Hal tersebut dibuktikan dengan berjalannya program link and match secara nyata dan tuntas antara satuan pendidikan vokasi dengan DUDI. “Paket 8 + 1 sudah banyak diwujudkan oleh ribuan SMK serta ratusan perguruan tinggi vokasi (PTV) dan lembaga kursus dan ketrampilan (LKP),” tegas Wikan.

Selain itu, tambah Wikan, terjadi perubahan mindset dari para pimpinan satuan pendidikan vokasi Tanah Air yang kini lebih terbuka dan berani melakukan terobosan untuk mewujudkan link and match seutuhnya. “Karenanya, kami akan terus meningkatkan mindset dan leadership SDM pendidikan vokasi secara pesat dan cepat,” tegasnya.

Tak hanya satuan pendidikan vokasi, pihak industri juga kian terbuka untuk melakukan kerja sama dengan satuan pendidikan vokasi.

“Kami pun telah memberikan penghargaan kepada 40 IDUKA (indusri, usaha, dan kerja) baik swasta maupun BUMN karena mereka turut membina puluhan, bahkan ratusan, satuan pendidikan vokasi. Mereka semakin menerima karena dengan link and match, lulusan pendidikan vokasi sesuai dengan kebutuhannya,” jelas Wikan.

Demi mewujudkan keterserapan lulusan pendidikan vokasi, perubahan kurikulum menjadi dasar melakukan link and match. Semisal untuk SMK, dilakukan lima aspek perubahan. Pertama, mata pelajaran yang bersifat akademik dan teori akan dikontekstualisasikan menjadi vokasional, misalnya matematika dan Bahasa Indonesia akan menjadi matematika terapan dan Bahasa Indonesia terapan.

Kedua, magang atau praktik kerja industri (prakerin) minimal satu semester atau lebih. Lalu, ketiga, terdapat mata pelajaran project base learning dan ide kreatif kewirausahaan selama 3 semester.

Keempat, SMK akan menyediakan mata pelajaran pilihan selama 3 semester, misalnya siswa jurusan teknik mesin dapat mengambil mata pelajaran pilihan marketing. Terakhir, terdapat co-culiculer wajib di tiap semester, misalnya membangun desa dan pengabdian masyarakat.

“Pada program SMK CoE 2020, kami juga telah memasukkan paket 8+1, sedangkan pada 2021 akan diluncurkan program SMK Pusat Keunggulan (PK), yakni penyempurnaan SMK CoE dengan melibatkan PTV untuk membina SMK,” jelas Wikan.

Adapun menyoal road map ke depannya, Ditjen Pendidikan Vokasi sendiri telah memiliki langkah-langkah strategis demi mencapai tujuannya, yakni:

Pertama, menciptakan SDM lulusan yang kompeten, unggul, dan sesuai dengan kebutuhan industri skala nasional maupun global

Kedua, terjadi peningkatan produktivitas, inovasi, serta daya saing yang signifikan hingga memajukan pertumbuhan ekonomi

Ketiga, meningkatkan kesejahteraan dan karir lulusan vokasi lebih baik

Keempat, menciptakan generasi wirausaha yang tangguh dan inovatif

Kelima, input peserta didik pendidikan vokasi harus passion dengan dunia vokasi

Keenam, keterlibatan dunia industri dan kerja semaksimal mungkin

Ketujuh, meningkatan soft skills dan karakter lulusan agar menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat

Kedelapan, mampu menjawab tantangan kebutuhan kompetensi masa kini dan mendatang

Kesembilan, riset terapan yang menghasilkan produk nyata yang dihilirkan ke pasar industri dan masyarakat.

Sumber : gatra.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *