Perkembangan Pendidikan Inklusif di Indonesia

OPINI

Oleh : Ready Aqsaperada

Semenjak  dikeluarkannya  Undang-undang  pendidikan  nomor  12  tahun  1954 pendidikan  bagi  anak-anak  yang  memiliki  kelainan  fisik  dan  mental  sudah  terjamin secara  hukum.  Jaminan  itu  diberikan  dalam  bentuk  sekolah  bagi  anak-anak  penyandang disabilitas yang diakomodir oleh berbagai macam sekolah luar biasa. SLB-A untuk Tuna netra,  SLB-B  bagi  tuna  rungu-wicara,  SLB-C  untuk  tuna  grahita,  SLB-D  untuk  tuna daksa,  SLB-E  untuk  tuna  laras,  SLB-G  untuk  tuna  ganda.  Jaminan  pendidikan  itu semakin  menguat  khususnya  semenjak  keluarnya    program  pemerintah  tahun  1984 tentang    program  wajib  belajar  enam  tahun.  Imbas  dari  program  tersebut  menghendaki seluruh anak usia sekolah dasar  wajib bersekolah dan menamatkan pendidikan minimal enam  tahun.  Berbagai  program  pendukungpun  disusun,  mulai  dari  pendirian  sekolah baru,  paket  A,  sekolah  kecil  hingga  sekolah  terbuka.  Perubahan  juga  dirasakan  oleh sekolah-sekolah   luar   biasa   yang   ada,   dengan   daya   tampung   yang   terbatas   maka pemerintah melebur  SLB yang ada menjadi SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa), SMPLB (Sekolah Menengah Luar Biasa) dan SMALB (Sekolah Menengah Atas Luar Biasa).

Pada tanggal 3 Desember 1992 dicanangkan sebagai hari Disabilitas Internasional oleh Badan Perserikatan Bangsa – Bangsa. Kementrian  Pendidikan  dan  Kebudayaan  lewat  Direktur  Jenderal  Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) merilis data bahwa dari 514 kabupaten/kota di seluruh  tanah  air,  masih  terdapat  62  kabupaten/kota  yang  belum  memiliki  SLB.  Lebih lanjut  disampaikan  bahwa  dari  1,6  juta  anak  berkebutuhan  khusus  di  Indonesia,  baru  18 persen  yang  sudah  mendapatkan  layanan  pendidikan  inklusi.  Sekitar  115  ribu  anak berkebutuhan  khusus  bersekolah  di  SLB,  sedangkan  ABK  yang  bersekolah  di  sekolah reguler pelaksana Sekolah Inklusi berjumlah sekitar 299 ribu (blog Kemdikbud, 2017). Untuk   menjalankan   amanah   undang-undang   pemerintah   melakukan   berbagai upaya  agar  penyelenggaraan  Pendidikan  Inklusif  terus  digalakkan  di  berbagai  daerah  di Indonesia   termasuk   dengan   memberikan   Piagam   Penghargaan   bagi   Provinsi   dan Kabupaten/kota  yang  mendeklarasikan  diri  menjadi  penyelenggara  Pendidikan  Inklusif. Diantara  Provinsi  yang  telah  mendeklarasikan    diri  menjadi  penyelenggara  Pendidikan Inklusif   diantaranya;   Pada   tahun   2012   dimulai   oleh   Provinsi   Kalimantan   Selatan, kemudian pada tahun 2013 dilanjutkan oleh Provinsi Aceh, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Sulawesi  Selatan,  dan  DKI  Jakarta. 

Pada  tahun  2014  Provinsis  Sulawesi  Tenggara mendeklarasikan  diri  dengan  disusul  oleh  Provinsi  Sumatra  Barat,  Provinsi  Bali  dan Provinsi  Lampung.  Kemudian  pada  tahun  2015  hanya  Provinsi  Sumatera  Utara  yang tercatat  mendeklarasikan  diri.  Baru  pada  tahun  2016  Nusa  Tenggara  Timur  dan  Jawa Timur menjadi Provinsi yang mendeklarasikan penyelenggara pendidikan Inklusif (diolah dari berbagai sumber). Kita    bersyukur    dengan    provinsi-provinsi    yang    telah    turut    serta    dalam mensukseskan    program    nasional    ini    untuk    memberikan    akses    bagi    anak-anak berkebutuhan khusus dapat bersekolah di sekolah reguler dan bergaul dengan anak-anak penyelenggara pendidikan inklusif sedangkan  seperti  yang  kita  ketahui  bahwa  kebutuhan  anak  berkebutuhan  khusus  sudah sangat  mendesak,  dengan  adanya Legal  Standing  dari  masing-masing  daerah,  maka sekolah-sekolah  yang  ada  di  tingkat  kabupaten/kota  akan  mendapatkan  akses,  fasilitas, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk mensukseskan Pendidikan Inklusif itu sendiri.

Akhir kata saya ucapkan Asalammualikum Wr.Wb “Mahasiswa tak perlu dipandang sebagai juru selamat atau ratu adil yang kedatangannya perlu dinantikan. Mahasiswa juga tidak perlu dipandang eksklusif sehingga harus selalu berjuang sendirian. Mari berkolaborasi untuk Indonesia yang lebih baik” ( Ready Aqsa Perada, Mahasiswa, Bintaro, Minggu 10, Januari 2021).”

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *