Mengelola Kemampuan Anak Disleksia Melalui Seni

OPINI

Oleh : Ima Rochmawati

Akhir tahun 2019 sampai sekarang Ayah mengajar di sekolah Indigrow Bandung, sebuah sekolah tumbuh kembang anak khusus disleksia dan berkebutuhan lainnya. Sekolah ini dikelola dan dikembangkan oleh dr. Purboyo Solek dan dr. Kristiantini Dewi, pasangan dokter anak yang mensosialisasikan disleksia dari 11 tahun yang lalu.

Saya tidak mengajar di sana, tapi sedikit banyak ikut belajar saat suami mengikuti seminar, pelatihan, pengajaran menggunakan aplikasi zoom. Pemaparan dari para ahli, dokter maupun psikolog dan diskusi bareng Ayah menjadi momen instimewa buat saya berkenalan dengan disleksia, memahami gelagat anak-anak kami dan mengenal diri kembali. Karena anak disleksia itu faktor keturunan.

Melalui proses pemaparan para dokter dan psikolog, saya akhirnya mengerti aktivitas seni dapat mengelola mental dan kemampuan seseorang bertambah baik.

Dari pemaparan mereka pun saya akhirnya mengerti, kemungkinan besar kesulitan saya berkomunikasi dan kesulitan menyampaikan emosi dengan cara yang tepat karena faktor disleksia. Dari beberapa ciri dan kejadian masa kecil-remaja-dewasa mendekati cirri khas disleksia.

Hanya saja, saya sering kali dipertemukan dengan kegiatan-kegiatan yang mengintervensi kemampuan berbahasa dan merelease emosi semakin rapi.

Kesukaan saya memebaca komik, majalah, ketertarikan saya pada warna, bentuk, gambar, senang ikut cross country alias tadabur alam bersama guru dan teman-teman (trekking), lalu saat kuliah beralih pada kegiatan seni teater.

Ternyata kegiatan-kegiatan ini melatih kemampuan interaksi, emosi dan berbahasa saya semakin baik meski tertatih dan bisa dibilang terlambat. Melalui puisi, menggambar dan beragam bacaan yang saya serap membawa saya menjadi lebih baik. Meski kesulitan mengingat objek dan nama orang masih menjadi kendala.

Melihat anak-anak yang mendapat terapi seni di Indigrow, saya sedih sekali. Saya melaluinya dengan pelan dan tertatih. Tapi satu sisi banyak hal yang disyukuri, perkenalan saya dengan seni, secara tidak langsung melatih executive function anak disleksia.

Executive function adalah kemampuan seseorang untuk meregulasi dirinya, meliputi bagaimana anak dapat mengelola rencana, menyusun sesuatu, memulai tugas, fokus, mengatur diri sendiri dan mengontrol diri untuk fokus pada tugas yang sedang dikerjakan.

Persoalan dasar anak disleksia adalah kesulitan dalam berbahasa, mengidentifikasi objek. Maksudnya, mereka seringkali kesulitan mengidentifikasikan huruf, objek, kejadian maupun emosi dirinya.

Seringkali apa yang dia fikirkan sulit dijabarkan dalam kalimat atau penuturan yang tepat. Sehingga lawan bicara seringkali kesulitan memahami maksudnya. Dalam perjalanannya dalam kehidupan sosial, anak ini akan kesulitan berinteraksi dan sering disalah fahami. Situasi ini berbahaya.

Seni, seperti menggambar, musik, memotret dan aktivitas kreatif lain, menjadi media menuangkan emosi dan memaparkan apa yang ada dalam pikirannya dalam bentuk karya. Ini bisa merelease dan menjadi jembatan kesulitan mereka dalam berkomunikasi.

Kini hampir tiap pagi di ruang depan ramai suara anak-anak, wangi kopi dan hangat roti. Riuh rendah semangat berkarya bersamaan hangatnya matahari dan decit tongeret di balik pepohonan halaman rumah. Suara besar Ayah yang riang memandu anak-anak disleksia yang tengah belajar seni menggambar menggunakan media zoom. Tiap rumah yang beraktivitas di rumah saja mempunyai kehangatan masing-masing. Suasana ini berlangsung dari bulan Januari 2020 hingga sekarang melewati masa school from home akibat pandemi.

Beberapa pekan lalu, Ayah mengajar menggambar doodle. Ketika dia mengajarkan pola dan bentuk, ingatan saya seperti terbangun lagi. Waktu saya anak-anak hingga remaja, saya sering sekali menggambar dengan pola seperti itu. Tapi saya tidak tahu jenis gambar itu namanya doodle.

Lalu kini ada nama lain dari pola gambar doodle tersebut yaitu mandala dan zentangle. Ketiganya ada kedekatan pola meski ada perbedaan bentuk dan prinsip.

Menariknya belajar menggambar doodle ini, anak-anak diajak untuk menggambar bentuk dengan pola yang berulang. Pola doodle ini, kita diajak untuk mengisi setiap ruang dengan menggunakan patern atau motif. Patern itu beragam, seperti spiral, bunga, garis-garis, lingkaran, segitiga, lingkaran, persegi panjang, garis melengkung, bunga-bunga, daun, semua ini digambar dengan berulang menghasilkan motif yang menarik.

Bagi anak disleksia, membuat patern ini menstimulasi mereka mengolah tangan dalam membuat garis, lingkaran, titik, memperkirakan jarak hingga akhirnya membuat bentuk.

Cara ini dapat melatih executive function karena mereka harus merencanakan gambar, mengeksekusi ide dengan mempersiapkan peralatan, proses menggambar sampai selesai dan merapikan semua peralatan termasuk menghasilkan karya yang rapi (tidak robek), anak-anak bisa memahami dan mengikuti instruksi.

Karena dibeberapa situasi, anak-anak sering berinisiatif menciptakan ide sendiri dengan mengabaikan instruksi. Pada hal-hal yang khusus, anak-anak harus mengikuti instruksi namun pada hal-hal umum anak-anak bisa mengembangkan ide.

Misalnya, instruksinya membuat burung (hal khusus), anak-anak bisa mengembangkan burung ditambah gambar topi atau diberi warna pelangi (hal umum). Karena anak disleksia seringkali mengabaikan instruksi. Bukan ngeyel, tapi otaknya sering memotong informasi dan seringkali beberapa instruksi yang panjang seperti blank atau hilang. Sehingga mereka menggambar sesuai daya serap info yang dia dapatkan.

Kegiatan berkarya seni bagus dilakukan oleh anak-anak disleksia yang sering kesulitan berkomunikasi secara verbal. Dalam hal ini sulit memilah kosakata yang tepat dalam mendeskripsikan suatu keadaan.

Dalam proses menggambar, kemampuan motorik halus meraka akan terolah bersamaan dengan olah sukmanya. Saat guru menginstruksikan harus menggambar ikan, rumah, pohon, daun atau berbagai bentuk lain, anak-anak akan terstimulasi untuk menggerakan tangan untuk membuat bentuk, garis, lingkaran, kotak, hingga memilih warna dan menuangkannya ke atas kertas.

Lalu setelah menggambar, anak-anak diajak untuk menerangkan gambarnya. Kemampuan mereka dalam berbahasa akan lebih terlatih karena gangguan utama anak disleksia adalah kesulitan berbahasa.

Interaksi mereka dalam menggunakan media-media gambar, pelan-pelan akan melatih emosi dan melatih kemampuan organ tubuhnya. Meski disleksia tidak akan sembuh, namun jika kesulitan berbahasa dan kesulitan mengindentifikasi huruf ini segera di intervensi dengan berbagai latihan. Maka anak-anak akan mempunyai coping strategi sendiri dalam mengantisispasi kekurangannya.

Misal, anak sulit mengidentifikasi nama orang, namun coping strategi dia adalah dengan mengingat hal khusus seperti dari nada suara atau kejadian yang menarik.

Selama ini kita seringkali menganggap anak-anak yang kesulitan berkomunikasi pemalu dan bodoh. Tapi ternyata pikiran mereka seringkali melampaui dan lebih cepat dari orang pada umumnya. Hanya saja sering terhambat dengan rasa tidak yakin dan minder karena rasa percaya dirinya terkikis oleh sikap dan labeling yang dilontarkan oleh lingkungan.

Saya percaya, setiap zaman memberi ruang belajar yang berkembang terus, bertambah baik dan menghadirkan generasi yang tak henti mengolah diri.

Sumber : kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *