Belajar dari Bekal Kebaikan Pendidikan bagi Anak

OPINI

Oleh : Sr Patmi

Sejak lahir manusia sudah memiliki banyak bekal untuk menjalani kehidupan berupa pendidikan. Pendidikan dari ibu sebagai sekolah pertama bagi anak hingga pendidikan formal yang dijalani setelah memasuki kematangan usia. Bekal pendidikan ini sudah disiapkan oleh diri sendiri dan orang tua. Salah satu persiapan orang tua adalah pilih sekolah.

Jangan sampai terbuai oleh harapan dan angan-angan yang mengawang hingga akhirnya salah pilih sekolah. Kenali dulu karakteristik dan kebutuhan untuk pendidikan anak. Jika pendidikan dijadikan bekal perjalanan hidup, maka tentukan tujuan orang tua dan anak agar satu persepsi dan sejalan. Berikut ini tips dan trik untuk pilih sekolah :

SUDUT PANDANG ORANG TUA

1. Cermat dan Teliti Kemampuan Anak

Sedari kecil, orang tua sudah mampu menilai dan mengerti arah tujuan si anak. Hal kecil yang mudah dideteksi adalah kemampuan softskills yaitu berupa  Soft Skill adalah kepribadian, atribut personal, serta kemampuan komunikasi yang dibutuhkan untuk sukses dalam sebuah pekerjaan.

Biasanya dapat ditunjukkan melalui pikiran serta perkataan yang positif, kemampuan mendengar yang baik, kemampuan memimpin, mudah beradaptasi dengan orang lain, mudah berkomunikasi, kemampuan mengatur waktu, tahu kapan saat berbicara dan mendengar dan berpikir kritis.

Kemampuan softskills ini adalah kunci sukses untuk anak menggapai apa yang diinginkan. Menjadi bekal pokok sebelum ia terjun ke dunia sesungguhnya dalam kehidupan manusia. Nah.. dari sini orang tua mulai menunjukkan perannya untuk memunculkan bakat yang sudah ada agar mencuat dan mengarahkan.

Setelah softskills diarahkan lebih baik, orang tua dapat berfokus pada hard skills yaitu kemampuan yang dapat ditingkatkan melalui latihan, pengulangan, dan pendidikan. Biasanya aspek hardskills ini menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Kenali bagaimana anak mulai mengerti tentang kehidupan ini dari mulai membaca, menulis, berhitung, dan caranya menilai lingkungan luar serta dirinya sendiri.

2. Orang Tua juga Memiliki Pendidikan untuk Menjadi Coach, Trainer dan Terapis

Harus ada yang menjembatani antara ideologi orang tua dan anak. Jembatan keduanya adalah sama-sama saling belajar, orang tua belajar mengerti keinginan dan kebutuhan anak dengan sentuhan seorang psikolog. Jadikan orang tua adalah satu-satunya lembaga konsultasi bagi anak.

Tentukan cara mendidik sesuai usia mereka. Berikan hadiah dan hukuman untuk menunjukkan jika kehidupan ini berjalan seimbang diantara keduanya. Orang tua juga harus menjadi sekolah pertama bagi anak. Jika anak sudah mengerti makna sekolah yang sesungguhnya dalam lingkungan keluarga, berikan ia kebebasan untuk mengaplikasikannya dengan teman sebayanya. Bagaimana anak harus bersikap, menentukan pilihan, mengembangkan segala potensinya dengan pengawasan orang tua.

SUDUT PANDANG ANAK

1. Kesiapan mental untuk menerima

Kematangan mental seorang anak dapat dilihat dari caranya berpikir dan mengenali lingkungan sekitarnya. Bagaimana ia menjadi roleplayer dalam ruang lingkup lingkungan kecil. Kematangan itu dapat dilihat dari caranya mengejawantahkan nilai yang ditanamkan pada sekolah pertama, lingkungan keluarga. Nilai itu memang tidak terlihat tetapi dekat dan mampu dirasakan. Bagaimana seorang anak membentuk lingkungan, bukan lingkungan yang membentuk anak. Disitulah indahnya seni mengajar.

2. Membangkitkan Semangat Jiwanya yang masih padam.

Kehadiran lingkungan luar seperti teman sebaya, keluarga, dan pendidikan adalah bentuk benturan untuk membangkitkan jiwanya. Disini, anak akan mencoba mengenali dirinya sendiri. Siapa dirinya sesungguhnya? Nilai kebenaran apa yang sedang ia anut. Daya berpikir kritis ini butuh dipupuk dengan sebuah benturan ego. Anak kecil berkelahi dan bertikai, ia akan mengetahui benarkah itu bentuk ego/sebatas kenakalan semasa kecil?

Dari sederetan persiapan internal dan eksternal, maka akan diperoleh keputusan dengan metode fenomena bola salju. Dimana segala bentuk informasi yang terkumpul menjadi sebuah bola raksasa sumber kekuatan bagi anak untuk menghadapi lingkungan sekolah, pendidikan, teman dan keterasingan dari norma yang baru saja ia terima pada lingkungan baru. Bekal ini dianggap sebagai fundamental dalam penentuan pilih sekolah yang tepat. Apapun niat dan maksud orang tua dengan segala nilai kebaikan bagi anak, belum tentu nilai kebenaran yang patut untuk ditetapkan pada anak.

Sekolah bagi anak memang penting, tetapi apakah bekal yang diberikan sudah cukup?

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *