Dana Abadi dalam Penyelenggaraan Perguruan Tinggi

OPINI

Oleh : M. Nur Rianto Al Arif

Professor in Islamic Economics from Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta, Indonesia; Vice Dean of Students Affairs, Alumni, and Cooperation Faculty of Economics and Business; Senior Research Associate CSEAS Indonesia

Dana abadi atau biasa pula dikenal sebagai endowment merupakan sejumlah dana yang diinvestasikan sedemikian rupa sehingga nilai pokoknya tetap tidak disentuh untuk suatu periode waktu tertentu, dimana pendapatan dari investasinya dapat digunakan untuk keperluan kegiatan organisasi. Definisi lain yang dapat dikutip mengenai endowment, yang seringkali dikenal pula sebagai financial endowment sebagaimana yang dikutip dari wikipedia ialah:

financial endowment is a transfer of money or property donated to an institution, usually with the stipulation that it be invested, and the principal remain intact in perpetuity or for a defined time period. This allow for the donation to have a much greater impact over a long period of time than if it were spent all at once.

Dana abadi dikumpulkan dengan berbagai cara, cara yang lazim diterapkan di Amerika Serikat ialah dengan menerima sumbangan berupa uang, surat berharga, atau tanah yang diberikan oleh donatur perorangan, perusahaan, atau yayasan. Alumni atau perkumpulan alumni seringkali turut menjadi donatur. Dana abadi ini dikumpulkan dan menjadi sumber yang sangat penting bagi pendapatan perguruan tinggi. Pemberian dana abadi oleh donatur dapat dengan syarat atau tanpa syarat. Dana abadi dengan syarat dibagi dua, yaitu dengan syarat sementara dan dengan syarat permanen. Dana abadi dengan syarat biasanya hanya boleh digunakan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk perpustakaan, beasiswa, untuk pemberian honorarium guru besar tertentu, untuk bangunan gedung baru, dan sebagainya. Pendapatan dari dana abadi tanpa syarat dapat digunakan untuk berbagai keperluan sesuai dengan kegiatan dan misi perguruan tinggi.

Penumpukan dana abadi merupakan salah satu strategi dalam wealth management penyelenggaraan perguruan tinggi. Pengelolaan dana abadi yang sehat dapat memperkokoh, meningkatkan stabilitas, dan kemandirian perguruan tinggi. Perguruan tinggi besar di Amerika Serikat biasanya menggunakan pendapatan dari dana abadi ini untuk menutup kebutuhan biaya tetap, sedangkan biaya variabel ditutup oleh pendapatan dari sumber lain. Dana abadi menstabilkan pendapatan perguruan tinggi manakala terjadi perubahan besar dalam pendapatan.

Dana abadi dimaksudkan bukan hanya untuk menopang kebutuhan setahun atau dua tahun, tetapi untuk beberapa generasi, bahkan terus menerus tanpa henti. Tugas utama wealth management dalam hal ini adalah menjaga keutuhan dan pengembangan dana abadi, mengusahakan pendapatan optimal dari dana abadi, dan berusaha mencari tambahan dana abadi. Tugas ini, antara lain juga menyangkut hal-hal berikut:

  • Mengalokasikan investasi untuk mencegah erosi daya beli
  • Mengusahakan aliran pendapatan yang tetap, berkelanjutan, dan dapat diperkirakan sebelumnya
  • Memumpuk tambahan dana abadi untuk mengantisipasi kebutuhan yang semakin meningkat.

Perguruan tinggi unggul di dunia seperti Harvard telah mulai memupuk dana abadi sejak berdirinya yaitu tahun 1636, antara tahun 1636 sampai 1715 Harvard University telah memperoleh endowment sebesar 10.090 yang terdiri dari endowment  terikat sebesar 4.738, endowment tidak terikat 4.705, dan endowment permanen sebesar 1.628. Nilai abadi tersebut terus meningkat sehingga pada tahun 2005, nilainya sudah menjadi US$ 25.473 miliar, yang dikumpulkan dari sekitar 10.800 sumber yang berbeda. Pada waktu ini endowment dari Harvard University merupakan jumlah endowment terbesar yang dimiliki oleh perguruan tinggi di Amerika Serikat dan di dunia.

Pemberian dana abadi dari donatur perorangan, perusahaan, atau yayasan belum merupakan tradisi yang berkembang di Indonesia sehingga cara lain harus dicari untuk memupuk dana ini. Pemupukan dana abadi untuk penyelenggaraan perguruan tinggi sangat berguna, antara lain, untuk keperluan berikut (Indrajit dan Djokopranoto, 2011: 360)

  • Menciptakan sumber pendapatan permanen
  • Menstabilkan pendapatan
  • Mengurangi beban biaya yang dipikul mahasiswa

Perguruan tinggi di Amerika Serikat, khususnya perguruan tinggi swasta adalah perguruan tinggi di dunia yang paling banyak memiliki dana endowment. Perguruan tinggi swasta di Amerika Serikat menjadikan endowment sebagai bagian yang paling besar dari komponen kekayaan mereka, yaitu antara 51,6% – 83,5%, sedangkan endowment perguruan tinggi negeri relative lebih kecil, yaitu antara 15,0% – 54,7%. Hal ini dapat dimengerti karena perguruan tinggi negeri dapat mengandalkan pendanaannya dari pemerintah, sedangkan perguruan tinggi swasta harus berusaha sendiri memupuk dananya.

Di Inggris, endowment juga merupakan komponen besar dari aset perguruan tinggi unggulan. Di Inggris penggolongan perguruan tinggi tidak berdasarkan swasta dan negeri karena semua perguruan tinggi (baik yang didirikan oleh swasta maupun Negara) disebut public universities, semuanya didanai oleh pemerintah (public funds). Hanya ada satu perguruan tinggi yang betul-betul swasta.

Dana abadi yang tidak terikat dipergunakan untuk investasi jangka panjang. Imbal hasil dari investasi dana abadi yang tidak terikat inilah yang merupakan bagian dari pendapatan tahunan perguruan tinggi yang digunakan untuk menunjang kegiatan sehari-hari. Namun, dana investasi tidak hanya berasal dari dana abadi yang tidak terikat ini, tetapi juga dari sumber lain, misalnya dari sisa hasil usaha, meskipun sebagian besar investasi berasal dari dana abadi.

Sumber : kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *