Memaknai Lagu Dolanan Anak Cublak- Cublak Suweng

OPINI

Oleh : Evaristus Astarka

Cublak-cublak suweng

Suwenge ting gelenter

Mambu ketundung gudhel

Pak Empong lerak-lerek

Sopo ngguyu ndelekakhe

 Sir-sir pong dele kopong

Sir-sir pong dele kopong

Mungkin anak zaman milenial tidak pernah  (dibaca belum pernah) mendengar lagu Cublak- Cublak Suweng. Sebuah lagu permainan anak- anak yang membuat pemainnya bergembira bersama. Lagu dolanan anak ini merupakan salah satu karya besar Sunan Giri, seorang yang panutan besar dan salah satu Wali Songo. Beliau memperkenalkan ajaran Islam lewat lagu dolanan anak tersebut.

Pada masanya lagu ini banyak dinyanyikan anak-anak. Dan ternyata lagu ini penuh dengan makna yang mendalam yang bisa kita jadikan inspirasi dalan berkehidupan di dunia ini.

Cublak Suweng merupakan tempat suweng. Suweng artinya anting perhiasan wanita Jawa. Sehingga dapat dimaknakan tempat yang paling berharga atau harta sejati.

Suwenge teng gelenter bermakna antingnya berserakan. Harta sejati sebenarnya berupa kebahagiaan itu sendiri. Dan kebahagiaan ini ada di sekeliling manusia, tinggal kita peka dengan kebahagiaan yang telah kita dapatkan ini atau tidak.

Mambu ketundhung gudel bermakna bahwa banyak orang berusaha mencari harta sejati tersebut. Bahkan sampai  gudel ( diibaratkan orang kurang pintar) juga tetap ikut mencari harta sejati walaupun dengan penuh nafsu, serakah, bahkan korupsi.

Pak empo lera-lere bermakna orang yang kurang pintar seperti orang tua ompong yang linglung alias kebingungan. Walaupun harta melimpah ternyata harta itu palsu, bukan kebahagiaan sejati seperti yang diharapkan hatinya.

Sopo ngguyu ndelikake artinya yang tertawa merupakan orang yang menyembunyikan harta tersebut. Bermakna barang siapa bisa bijaksana dialah yang akan mendapatkan harta sejati. Dia orang yang tersenyum bahagia yang menikmati dan bersyukur atas apa yang didapat. Tidak serakah dan tidak mengambil hal orang lain.

Sir pong dele kopong artinya kedelai yang kosong. Bermakna hati nurani harus kosong dari kecintaan duniawi, menomorsatukan harta benda, mendapatkan harta dengan serakah, dan hati buruk lainnya. Dengan demikian tuntutannya adalah rasa bersyukur dan menikmati yang ada.

Sungguh mendalam dan sangat bermakna tinggi lagu dolanan anak tersebut. Maka seyogyanya pejabat- pejabat negara ini yang punya sifat serakah, bermental korupsi, hendaknya kembali mendengarkan lagu Cublak- Cublak Suweng.  Konon pepatah mengatakan urip kui gur mampir ngombe, hidup itu sementara. Maka carilah harta dengan jalan yang lurus, hindari hawa nafsu yang berlebihan, semua kembali pada hati nurani kita sebagai manusia yang punya rasa, punya pikiran, dan secitra dengan Allah. 

Ingat, jika dengan hati nurasi niscaya akan menemukan kebahagiaan hakiki, dan jika kita sedikit melenceng pun  mungkin lebih mudah untuk kembali ke jalan yang benar. Yuk, kita kembali menyanyikan lagu dolanan anak, salah satu hasil maha karya yang adi luhung.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *