Menag Tak Ingin PTKIN Diminati Hanya Karena Gampang dan Murah

pendidikan agama Program Pendidikan

JAKARTA:  Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas melihat saat ini minat siswa yang ingin kuliah di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sedang tinggi.  Yaqut berharap meningkatnya peminat tersebut disebabkan oleh kualitas yang membuat PTKIN itu memang layak diburu.

Menurut Yaqut, hal tersebut menjadi kabar baik bagi PTKIN jika naiknya peminat disebabkan oleh diburunya kualitas pendidikan di kampus keagamaan tersebut.  Namun sebaliknya, hal ini justru bisa menjadi sinyal negatif jika PTKIN makin diminati, semata-mata hanya karena biaya pendidikannya yang lebih murah ketimbang perguruan tinggi umum.

“Jadi kalau ternyata faktornya mudah dan murah, ya dimahalin saja. Coba sesekali dimahalin saja. Apakah tetap tertarik apa tidak,” kata Yaqut dalam Peluncuran SPAN-UM PTKIN secara daring, Kamis, 14 Januari 2021.

Dia tidak ingin besarnya peminat PTKIN hanya disebabkan oleh murahnya biaya kuliah dan mudahnya menembus masuk ke PTKIN.  Sebaiknya, kata Yaqut, besarnya peminat disebabkan oleh terjaminnya kualitas pendidikan di PTKIN.

Oleh karena itu, dia meminta jajarannya untuk mengkaji kembali besarnya peminat PTKIN saat ini. Dia tidak ingin pihaknya berbangga terlebih dahulu atas besarnya peminat tersebut.

“Karena orang cepat berbangga itu tdk mau melakukan instropeksi pak. Apakah benar karena memang PTKIN kita itu memiliki kualitas dan mutu yang bisa dibanggakan, memiliki kualitas yang diharapkan calon mahasiswa,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, dia meminta adanya evaluasi di PTKIN. Agar lulusan PTKIN dapat berguna bagi bangsa dan negara.

“Jangan sampai lulusan PTKIN ini tidak memberikan kemanfaatan. Kalau tadi ada prestasi-prestasi tapi tidak memberikan kemanfaatan kita evaluasi penghargaannya,” sambung Yaqut.

Pun dia tidak ingin lulusan PTKIN malah melanggar pemaknaan kata Islam yang berada di tengah nama PTKIN. Dia tidak ingin lulusan PTKIN malah mencoreng ajaran-ajaran Islam.

“Saya tidak ingin lulusan PTKIN yang menjadikan Islam sebagai nama di dalam perguruan tingginya, kemudian terjerat kasus yang tidak islami. Korupsi misalnya, saya tidak ingin,” pungkas dia.

Sumber : medcom  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *