Intip 3 Rahasia, Mengapa Membaca Buku Itu Penting bagi Generasi Milenial?

OPINI

Oleh : Frederikus Suni

Ah, membaca buku itu adalah kegiatan yang sangat membosankan! Lebih baik berselancar di media sosial untuk mencari hiburan, daripada membaca buku!

Okelah, tak ada yang melarang kamu untuk berselancar di dunia maya. Toh, pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa, kita hanya sebatas orang-orang kesepian, tatkala postingan kita tak ada yang menanggapi dengan like dan komentar.

Kendati minat baca masyarakat kita 1:10, tapi tak apalah dari pada stigmatisasi masyarakat Internasional terus melekat dalam kehidupan kita, lebih baik kita mengubahnya dengan mulai membaca buku.

Ya, minimal sehari kita membaca satu-dua halaman. Cukup! Daripada kita terus kepoin status WA, atau Facebook orang lain, lalu mengundang irama-irama kebencian dalam kehidupan kita. Kan kita sendiri yang nantinya menyesal, bila irama-irama kebun binatang di Taman Safari Indonesia mulai bertebaran di dunia maya.

Iiiiiiiiih, malu-maluin, bila usia muda kita hanya berputar di dunia maya. Memang, tantangan era 21 tak muda bagi generasi milenial, tapi milikilah sikap tegas bahwa perjalanan hidup kita masih panjang daripada generasi pendahulu kita.

Pemilik panggung masa depan bangsa adalah kita generasi milenial. Tak nyaman kan, kalau label atau stigma masyarakat Internasional terus menghantui perjalanan kita ke depan.

Dilansir dari Edukasi .Kompas.com “Programme for Internasional Student Assesment (PISA). Untuk nilai kompetensi membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara.

Ya, itulah realita minat baca kita di mata Internasional.

Nah, simak 3 rahasia, mengapa membaca buku itu penting bagi generasi milenial?

Kaya Informasi

Membaca adalah bagian dari riset. Riset akan membantu kita untuk mengumpulkan banyak informasi. Informasi akurat dan dipercaya memudahkan kita untuk terjual ke salah satu bidang pekerjaan tertentu.

Membaca dapat memperkaya khazanah pengetahuan kita tentang dunia. Perlahan-lahan, tapi pasti, kita akan mengubah label atau stigma tersebut, bila kita mau mengubah mindset untuk mulai membaca. Jadikan budaya membaca buku sebagai identitas kita sebagai generasi milenial yang semakin terbuka dengan dunia.

Sampai kapan kita akan berada di peringkat 72 dari 77 negara yang di atas?.  Tak ada kata terlambat dalam kamus kehidupan kita untuk mengubah stigmatisasi tersebut. Maka, mulailah bersahabat dengan budaya membaca.

Pikiran lebih Fresh

Tahu enggak, kalu membaca adalah bagia dari terapi pikiran. Pikiran mumet, lemas dan tak bergairah, bisa diobati dengan membaca, loh.

Karena membaca adalah kegiatan rekreasi yang sangat menyenangkan. Destinasi membaca akan membawa kita berkelana, menyusuri belahan dunia mana pun, bersama sang penulis buku. Imajinasi penulis buku akan menular ke dalam kehidupan kita.

Ide dan pengalaman baru yang kita dapatkan selama membaca buku, sangat membantu kita untuk berpikir jernih dalam melihat dunia. Kawan, jangan bosan-bosan ya untuk membaca buku. Karena kita tak hanya butuh nutrisi untuk tubuh, melainkan nutrisi untuk otak berupa bacaan.

Relasi Baru

Siapa sangka hanya dengan membaca buku akan membawa kita pada relasi yang lebih luas. Budaya membaca akan membantu kita dalam mengenal sesama dari berbagai latar belakang apapun. Syukur-syukur, kita dapat jodoh, hanya karena hobi yang sama di dunia literasi membaca. Anggap saja itu bonus.

 Tapi, yang terpenting adalah kita sebagai generasi milenial bertanggung jawab untuk perkembangan literasi membaca negara kita.

sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *