Membangun Pendidikan Berparadigma Al Quran

OPINI

Oleh : Jumarni

Selama orang Islam (muslim) berkeinginan memiliki anak shalih, berakhlak mulia, yang dapat mendoakan kedua orangtuanya, birrul walidain, Islam memberi petunjuk bahwa anak adalah amanah yang dibebankan kepada masing-masing orang tua agar diddik sebaik-baiknya. Menunaikan amanah itu ternyata tidak mudah. Kesulitan itu kian dirasakan oleh hampir semua orang.

Tidak sulit menemukan keluhan orang tua semisal anaknya sering bolos, berani kepada orang tua, serba menuntut yang berlebihan, shalat lima waktu tidak tertib, tidak dapat membaca Al-Qur’an secara lancar, dan bahkan lebih dari itu, tidak sedikit anak-anak terlibat minuman dan obat terlarang, dan sebagainya.

Problem seperti itu, kian hari bukanlah semakin berkurang, malah sebaliknya justru berkembang. Menurut hasil penelitian tentang kehidupan remaja, surat kabar, majalah, atau bahkan juga perbincangan informal dalam berbagai kesempatan, kehidupan anak-anak remaja semakin memprihatinkan.

Kenakalan anak, remaja, dan bahkan menginjak dewasa terjadi dimana-mana dalam bentuk beraneka ragam. Menghadapi persoalan ini, timbul pertanyaan, apa yang salah dalam pelaksanaan pendidikan kita, baik yang ada di rumah tangga, di sekolah, atau di masyarakat.

Ada sinyalemen bahwa factor yang berpengaruh terhadap pendidikan cukup banyak. Diantaranya, informasi yang semakin terbuka luas, yang disalurkan lewat media massa baik cetak maupun elektronik, masyarakat yang semakin terpengaruh oleh budaya materialisme, nilai-nilai religius ataupun budaya materialism, nilai-nilai religius ataupun budaya luhur yang semakin terabaikan dan ditinggalkan kualitasnya.

Itu semua ditenggarai berpengaruh terhadap perilaku anak-anak atau remaja yang sedang berkembang terutama dari kejiwaannya. Dengan demikian, Orang tua, para tokoh masyarakat merasa terpanggil untuk mencari jalan keluar dari persoalan semua itu.

Implikasinya, pendidikan dipandang sebagai factor yang dianggap menjadi variabel yang harus diperhatikan. Jika demikian, maka pertanyaan yang segera muncul adalah pendidikan seperti apa yang relevan dengan tantangan saat ini, baik dari tataran konsep maupun operasionalnya.

Mencandra Pendidikan Saat Ini

Mengamati pendidikan yang berkembang saat ini maka akan diperoleh gambaran, yang dalam beberapa hal, kurang menyenangkan. Pendidikan, selain bersifat parsial, prakmatis, tetapi  dalam banyak hal bersifat paradoks. Fenomena yang tampak parsial, terlihat lebih sebatas mengembangkan intelektual dan keterampilan. Kehidupan seseorang tidak cukup jika hanya dibekali dengan ilmu dan keterampilan.

Cukup banyak bukti, bahwa seseorang yang memiliki kekayaan ilmu keterampilan, jika tidak dilengkapi dengan kekayaan akhlak atau moral, maka justru ilmu dan keterampilan yang disandang akan melahirkan sikap-sikap individualistik dan materialistic.

Dua sifat ini jika tumbuh dan berkembang pada diri seseorang akan menampakkan perilaku yang kurang terpuji seperti serakah, tidak memetingkan orang lain, kurang peduli seperti serakah,, tidak mementingkan orang lain, kurang terpuji seperti serakah, tidak mementingkan orang lain, kurang terpuji pada etika, dan akan menghilangkan sifat-sifat manusiawi yang seharusnya lebih dikembangkan.

Pendidikan yang berorientasi praktis dan pragmatis tampak dengan jelas dari orientasi yang dikembangkan. Isu pendidikan lebih banyak terkait dengan lapangan pekerjaan. Kemudian, muncullah konsep-konsep yang terkait dengan lulusan siap pakai, siap kerja, siap latih, dan sejenisnya.

Selain itu, orang mengukur hasil pendidikan dengan ukuran-ukuran yang sederhana, seperti misalnya berapa lama kuliah dapat diselesaikan, berapa indeks prestasi yang dapat dicapai, berapaa NEM, dan sejenisnya.

Pendidikan disebut berhasil jika lulusannya cepat di terima dilapangan kerja, dan bergaji tinggi. Padahal, bukankah ukuran-ukuran seperti ini, sesungguhnya adalah jauh dari konsep yang lebih luhur, misalnya agar bertaqwa, beriman, berbudi luhur, berpengetahuan luas, terampil, dan seterusnya.

Oleh karenanya, jika ukuran-ukuran yang selama ini dikembangkan masih bersifat sederhana seperti yang disebutkan, maka maka pendidikan belum menyentuh aspek yang lebih substansi atau yang lebih bersifat hakiki.

Manusia Seutuhnya

Konsep manusia seutuhnya pernah dijadikan jargon pembangunan. Misalnya pendidikan, yang harus mampu mengantarkan anak manusia menjadi manusia seutuhnya. Begitu pula pembangunan nasional diarahkan agar mampu meningkatkan kualitas manusia seutuhnya. Tetapi, yang patut dipertanyakkan adalah, apakah yang dimaksud dengan manusia seutuhnya itu. Benarkan konsep itu telah dipahami sepenuhnya?

Manusia utuh berarti parsial, frakmental, apalagi split personality. Utuh artinya lengkap meliputi semua hal yang ada pada diri manusia. Manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani, akal dan juga pengembangan keterampila. Manusia membutuhkan saluran pengembangan intelektualnya agar memiliki kepintaran dan kecerdasan.

Manusia membutuhkan jasmani yang sehat, oleh karena itu, diperlukan gizi, olahraga, dan zat lain untuk menyegarkan tubuh. Selain itu, manusia juga memerlukan pemenuhan kebutuhan spiritual, yakni berkomunikasi atau berdialog dengan Dzat yang Maha Kuasa.

Manusia memerlukan keindahan atau estetika. Lebih dari itu semua, manusia juga memerlukan penguasaan keterampilan tertentu agar ia dapat berkarya baik untuk memenuhi kepentingan diri maupun orang lain.

Semua kebutuhan itu harus dapat dipenuhi secara seimbang. Tidak dapat sebagian saja dipenuhi dengan meninggalkan kebutuhan yang lain. Orang tidak cukup hanya sekadar cerdas dan terampil, tetapi dangkap spiritualitasnya. Begitu pula sebaliknya, tidak cukup seseorang memiliki kedalaman spiritual, tetapi tidak memiliki kecerdasan dan keterampilan. Dengan demikian, istilah manusia yang utuh ialah manusia yang dapat mengembangkan berbagai potensi positif yang ada pada dirinya.

Ketika pemahaman terhadap manusia seutuhnya seperti itu yang dijadikan pegangan maka pendidikan harus mengembangkan berbagai aspek. Pendidikan tidak dibolehkan hanya mengembangkan satu aspek, namun melupakan aspek lainnya.

 Artinya, tidak selayaknya pendidikan hanya memprioritaskan pengembangan keagamaan dengan maksud meningkatkan budi pekerti dan akhlak namun mengesampingkan pengembangan intelektualitasnya. Hal yang sama tidak dibolehkan jika pendidikan hanya mengedepankan pengembangan kecerdasan dan keterampilan dan mengabaikan pengembangan spiritualitasnya lewat pedalaman dan penghayatan agama.

Di Indonesia, terjadi dualisme dalam penyelenggaraan pendidikan. Terdapat sekolah yang diselenggarakan oleh diknas yang disebut sekolah umum. Selain itu, terdapat sekolahh yang berada di bawah  Departemen Agama, berupa madrasah dan pondok pesantren. Pada sekolah umum sekalipun diajarkan agama, namun jumlah jam pelajaran yang disediakan amat kecil.

Demikian pula sebaliknya, di pondok pesantren lebih menguatkan pendidikan agama, dan dalam banyak kasus tidak memberikan pengetahuan umum. Sedangkan madarasah, akhir-akhir ini sudah dilakukan perbaikan kurikulum dengan memberikan pengetahuan umum dan agama secara seimbang, atau sama banyak jumlahnya.

Hanya saja, menyangkut terakhir ini, belum ditemukan pola pendidikan agama yang lebih produktif. Kegiatan yang terjadi baru berupa pengajaran agama, belum memberikan nuansa pendidikan yang lebih komprehensif.

Sebenarnya, sedikitnya porsi pendidikan agama di sekolah tidak mengapa, asal kekurangan itu dapat ditambal oleh kegiatan di keluarga atau di masyarakat. Kenyataannya, pendidikan agama dikeluarga ataupun di masyarakat sudah semakin melemah. Atas dasar alasan-alasan kesibukan orang tua atau juga keterbatasan pemahaman agama, pendidikan agama di keluarga tidak dapat dimaksimalkan.

Demikian pula pendidikan agama di masyarakat, bahwa kegiatan mengaji di langgar, musholla, masjid tampaknya sudah semakin berkurang, tidak hanya di perkotaan tetapi juga di pedesaan.

Kenyataan seperti ini menjadikan yang utuh semakin sulit diperoleh. Yang terjadi adalah pendidikan berjalan secara terfragmentasi atau terpilah-pilah yang mengedepankan sebagian dan mengabaikan bagian lainnya. Fenomena seperti ini berakibat pada rendahnya pemahaman dan penghayatan agama oleh sebagian orang yang tidak menyenyam pendidikan agama.

Oleh karena itu, akibat dari lemahnya pemahaman agama, mereka tidak merasa gelisah bahkan merasa tidak perlu terhadap kitab suci, walaupun dia mengaku sebagai seorang yang beragama.

Bagaimana Al-Qur’an Berbicara Tentang Pendidikan

Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat adalah merupakan petunjuk, penjelas, pembeda, dan sumber inspirasi bagi manusia. Orang yang bertaqwa adalah yang tertinggi bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, orang yang bertaqwa tidak saja selamat di dunia, tetapi juga selamat di akhirat.

Ukuran keberhasilan hidup sebagaimana yang disebutkan dengan konsep taqwa, ternyata dalam kehidupan sehari-hari kurang dihayati. Kalaupun digunakan, sifatnya formal, semisal seorang calon pejabat pemerintah dipersyaratkan bertaqwa kepada Tuhan. Persyaratan seperti itu dalam prakteknya tidak jelas. Ukuran-ukuran tentang ketaqwaan itu tidak pernah dirumuskan, sehingga semua orang telah dianggap bertaqwa.

Kesimpulan

Orang mengukur keberhasilan kehidupan dengan bermacam-macam cara sesuai dengan tradisi atau budaya masyarakatnya. Orang jawa misalnya, seseorang disebut sukses dalam hiudpnya secara gradual ketika telah bekerja, menikah, memiliki rumah, kendaraan, simbol kekuatan dan dapat menyalurkan hobi.

Maslow, membagi kebutuhan manusia menjadi beberapa tingkat, mulai kebutuhan bersifat fisiologis, rasa aman, kebutuhan memiliki dan sosial, penghargaan, status dan aktualisasi diri. Oleh karenanya, ketaqwaan bukanlah sekadar hal materialistik semata akan tetapi aktualisasi keimanan dari ketaqwaan menjadi akhlak dan amal solih.

Sebagian orang telah mulai sadar bahwa kebahagiaan tidak cukup diraih dengan hanya berbekalkan harta atau jabatan. Sekalipun kelebihan di bidang tersebut tetap dianggap penting, tetapi bukan segalanya. Saat ini orang mulai merasakan betapa pentingnya kekayaan lain, berupa keluhuran budi pekerti dan kedalaman spiritual.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *