Mewujudkan Kegiatan Menulis sebagai Suatu Kebiasaan Baru dalam PJJ di Masa Pandemi

OPINI

Oleh : Dany Darmawan

Peningkatan mutu pendidikan adalah hal yang sangat penting. Berbagai metode dalam pembelajaran dilakukan oleh guru demi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Di masa pandemi Covid-19 ini adalah sebuah tantangan bagi guru untuk tetap bisa membuat anak bangsa mengembangkan skill dan pengetahuan mereka. Salah satu metode untuk tetap mengembangkan skill dan pengetahuan siswa di masa pandemi ini adalah dengan menerapkan kebiasaan menulisbagi siswa.

 Karena, menurut Giroux penggunaan tugas menulis terkait erat dengan membuat siswa berteori tentang pengalaman mereka sendiri daripada mengartikulasikan makna teori orang lain. Dengan menulis, siswa bisa menuangkan ide-ide mereka dalam bentuk tulisan. Selain itu, siswa juga dapat menambah wawasan mereka dan meningkatkan kreativitas mereka dengan menulis.

Walaupun bagi beberapa kalangan siswa, menulis merupakan hal yang membosankan karena tidak semua siswa suka menulis. Disinilah peran guru dibutuhkan untuk mengatur strategi agar membuat siswa bersemangat menulis dan mewujudkan pedagogi kritis yang dimaksudkan oleh Henry Giroux.

Strategi guru dalam mewujudkan kebiasaan menulis bagi siswa

Untuk membiasakan kebiasaan menulis, terlebih dahulu haruslah menumbuhkan kebiasaan membaca. Karena membaca dan menulis adalah hal yang saling terkait. Semakin sering individu membaca, semakin sering pula dapat menulis. Di negara Eropa dan Jepang aktifitas membaca dan menulis diberlakukan khusus selama 5-7 jam perhari.

Sedangkan di Indonesia, belum ada pemberlakuan waktu khusus untuk aktivitas membaca dan menulis (0 jam). Sebab itu, pelajar di Indonesia masih banyak yang kurang untuk memiliki minat membaca dan menulis. Karena itu, sebaiknya guru menyelipkan kegiatan membaca dalam proses pembelajaran.

Membaca dalam hal ini bukan sekedar membaca secara sekilas. Membaca disini adalah dengan mengaitkan pengetahuan eksternal dan membaca dengan konsentrasi yang tinggi.

Agar dapat memahami isi bacaan siswa harus memahami kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan paragraf demi paragraf sehingga timbul pemahaman yang jelas terkait isi bacaan. kegiatan membaca tidak hanya sebatas memahami isi informasi bacaan saat itu saja (short term*memory), tetapi dianjurkan dipahami untuk jangka panjang (long term memory).

Tujuan nya adalah untuk menumbuhkan pemikiran kritis pada siswa setelah membaca dimana nantinya setelah timbul pemikiran kritis akan memudahkan munculnya ide bagi siswa untuk menulis.

Nurhadi (2009) memberikan jurus latihan untuk meningkatkan kemampuan sikap kritis saat membaca sebagai berikut. 1) Kemampuan mengingat dan mengenali (ide pokok, gagasan, dan sebab akibat). 2) Kemampuan menginterpretasi (menafsirkan dan membedakan fakta-fakta). 3) Kemampuan mengaplikasi konsep (menerapkan konsep). 4.) Kemampuan menganalisis (mengklasifikasi, membandingkan). 5) Kemampuan membuat sintesis (simpulan, mengorganisasi*dan meringkas), 6) Kemampuan menilai (kebenaran, relevansi, keselarasan dan keakuratan).

Dengan keenam cara tersebut, diharapkan siswa mampu menjadi lebih kritis terhadap situasi. Segala persoalan yang diberikan oleh guru tentang materi dengan mengaitkan masalah kehidupan sehari-hari dapat di selesaikan oleh siswa dengan menuangkannya melalui tulisan.

Selain itu, sebagai bentuk latihan untuk meningkatkan kualitas menulis, guru bisa menganjurkan siswa untuk menulis karya ilmiah yang biasanya kegiatan tersebut terdapat dalam ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Karena dalam proses penyusunan suatu karya tulis ilmiah memang sangat diperlukan pengetahuan dan wawasan luas pada suatu bidang ilmu yang akan dikaji.

Pemerolehan wawasan dan ilmu pengetahuan tersebut tentunya diperoleh dari suatu tindakan yang dilakukan dengan sengaja. Tindakan yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pengetahuan seseorang tentang suatu hal yaitu dengan aktivitas membaca.

Oleh karena itu,  siswa yang dinilai sudah cukup tinggi kemampuan membaca kritisnya tentu dapat dilihat dari hasil tulisan karya ilmiahnya. Dengan kebiasaan membaca yang intens siswa mendapatkan wawasan  yang luas dan bahan yang maksimal untuk menyusun karya tulis ilmiah. Namun perlu diketahui bahwa selam kegiatan membaca juga diperlukan   kemampuan untuk memahami bacaan secara cepat dan tepat. Kemampuan ini yang dinamakan kemampuan berfikir kritis.

Oleh karena itu kemampuan berfikir kritis ini juga sangat berpengaruh dalam proses penyusunan karya tulis ilmiah siswa. Sehingga kebiasaan menulis dan berfikir secara kritis sangat berpengaruh dalam keterampilan menulis karya ilmiah siswa. Setelah mengikuti tulis karya ilmiah, tentu diharapkan siswa semakin mengembangkan kemampuan menulis mereka dengan semakin kritis.

Hambatan dalam menulis bagi siswa

Pertama, hal yang sering terjadi dalam memulai penulisan adalah biasanya siswa bingung untuk memulai menulis darimana dan bingung menentukan judul yang akan dibahas. Dalam hal ini, guru perlu sedikit membantu mereka dengan menyarankan beberapa topik yang luas yang nantinya akan diperkecil ruang bahasannya oleh siswa. Siswa juga perlu membaca gaya penulisan yang sesuai dengan topik mereka jika kebingungan di tengah proses penulisan sebagai referensi menulis.

Kedua, biasanya siswa khawatir bahwa tulisan yang mereka kembangkan tidak akan bagus hasilnya. Guru perlu meyakinkan siswa untuk tetap menulis karena kesalahan dalam menulis adalah hal yang biasa, terlebih bagi siswa pemula. Bagus atau tidaknya tulisan tergantung seberapa sering praktik.

Maka dari itu, dari kesalahan di awal penulisan akan muncul pemahaman siswa dalam menulis yang baik dan benar yang kesalahan tersebut dijadikan pembelajaran untuk semakin mengembangkan tulisan mereka. Guru boleh sesekali memberikan sedikit reward untuk siswa yang tulisannya bagus agar semakin membuat mereka semangat dalam menulis.

Ketiga, masalah lain yang sering dihadapi oleh siswa dalam menulis adalah tidak percaya diri (minder) untuk memulai. Biasanya banyak pikiran yang jadi penghambat ketika keinginan sudah menggebu-gebu.

Di antara pikiran yang sering mengganggu siswa dalam menulis adalah takut tulisannya tidak dimuat, takut kalau tulisannya tidak dibaca orang lain dan sebagainya. Jika rasa tidak percaya diri ini berlarut-larut bisa jadi keinginan menulis akan berhenti di tengah jalan.

Sebaliknya, kalau rasa percaya diri terus dipupuk maka apapun pikiran-pikiran negatif itu tidak akan berpengaruh. Jadi, percaya diri adalah modal penting dalam meraih kesuksesan.

Maka dari itu, pentingnya peran guru untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menulis kepada siswa. Keempat, adalah rasa malas untuk memulai. Rasa malas memang merupakan momok yang seringkali muncul.

Untuk menghilangkan rasa malas, siswa bisa melakukan hal hal positif yang mereka sukai untuk mendapatkan mood mereka dalam menulis. Jika perlu, siswa sebaiknya membuat jadwal khusus untuk menulis dirumah minimal satu sampai dua jam untuk menuangkan sedikit pikiran mereka. Cara ini lebih efektif dibandingkan menulis berjam-jam seharian sedangkan hari berikutnya tidak menulis.

Pada akhirnya, dengan menerapkan kebiasaan menulis kepada siswa, tentu siswa dapat menuangkan ide ide pikiran mereka dalam bentuk tulisan sehingga tetap dapat meningkatkan kekritisan mereka   walaupun belajar dari rumah. Kegiatan menulis ini tentu akan mewujudkan pedagogi kritis  sesuai yang dimaksud oleh Henry Giroux. Dimana dalam penuturannya ia menyuarakan menulis sebagai sebuah praktik pedagogi. Namun, di Indonesia sendiri masih kurang kebiasaan menulis di kalangan pelajar.

Berdasarkan penelitian ini, faktor yang membuat kurangnya kebiasaan menulis di kalangan pelajar adalah faktor internal dari diri mereka sendiri seperti malas mencari sumber referensi, kurangnya latihan menulis, merasa krisis ide, dan merasa takut melakukan kesalahan dalam menulis.

Mewujudkan kebiasaan menulis sangatlah penting terlebih di masa pembelajaran jarak jauh karena akan terhalang kesempatan siswa untuk menyuarakan pikiran mereka seperti terkendala sinyal, minimnya kuota internet dan sebagainya.

Karena itu, kelas harus menjadi tempat di mana menulis menawarkan kesempatan untuk “melibatkan daripada menggantikan suara agresif, subjek berteori [siswa] melalui diskusi didalamnya, terlebih di masa pembelajaran jarak jauh seperti saat ini.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *