Figur Pendidikan Masyarakat Kota dan Desa

OPINI

Oleh : Sumire Chan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan diartikan sebagai pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Artinya dalam hal ini ada proses yang wajib dilewati  sebagai upaya pengubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik.

Mengenyam pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Namun, pada kenyataannya masih ada saja anggapan bahwa pendidikan tidak lebih penting dari bekerja. Sebuah asumsi jika halnya untuk mengenyam pendidikan kita perlu mengeluarkan uang sedangkan untuk bekerja kita akan mendapatkan uang. Benar atau tidak hal tersebut bergantung pada sudut pandang pemikiran kita masing-masing.

Mari kita tengok pendidikan di desa dan di kota. Akses transportasi, signal, sumber daya manusia, sarana prasarana  juga kebiasaan. Sudahkah hal-hal tersebut merata? Adakah kesenjangan yang literal dalam proses pendidikan masyarakat desa dan kota? Ada kalanya pembangunan yang tidak merata menuntut hasil yang sama.

Pendidikan Masyarakat Desa

Mendengar kata desa, identik dengan sebuah wilayah yang cukup jauh dari perkotaan. Akses yang sedikit sulit dibumbui dengan habit masyarakat yang masih tradisional. Lokasi geografis yang demikian berdampak pada keadaan sumber daya manusia seperti guru. Jika halnya bukan penduduk asli, sedikit guru yang mau mengabdi di wilayah desa. Kebanyakan mereka menjadikan desa sebagai persinggahan untuk bisa mutasi ke kota. 

Pada umumnya masyarakat desa  bekerja sebagai petani, buruh dan pedagang. Keadaan ekonomi terbilang masih sulit. Biasanya warga yang mumpuni adalah mereka yang telah berhasil menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dikirim ke luar negeri. Mereka pulang dengan membangun rumah atau menjadikan hasil jerih payah sebagai sebuah modal usaha. Meskipun tak sedikit dari mereka yang pulang ke kampung halaman karena suatu kasus sehingga tidak membawa apapun.

Banyak anggapan tidak penting tentang sebuah pendidikan. Selain dari banyaknya yang mengalami masalah perekonomian, adanya anggapan tentang sejauh apapun karier seorang perempuan ujungnya adalah “dapur”. Maksudnya adalah tidak perlu pendidikan yang tinggi untuk seorang perempuan jika halnya setelah menikah mereka hanya dituntut untuk melayani suami dan anaknya. Padahal hal itu tentu akan berbanding lurus jika pendidikan tinggi seorang perempuan diiringi dengan sikap loyal kepada keluarganya.

Terlepas dari anggapan tersebut, kondisi  yang sering ditemui adalah berkenaan dengan akses transportasi yang sulit seperti  tidak adanya angkutan umum, kondisi jalan rusak semakin menyurutkan motivasi belajar. Hal lainnya adalah berkenaan dengan kebiasaan masyarakat. Sebagai contoh mengenai pembelajaran di masa pandemi sekarang ini.

Pembelajaran masa pandemi menuntut pembelajaran secara daring (dalam jaringan) yang menuntut kuota belajar lebih banyak. Namun demikian, jumlah kuota yang banyak tidak akan berarti jika wilayah desanya sulit mendapatkan signal.  Apalagi jika stekholder sekolah tidak memverifikasi nomor ponsel para siswa untuk mendapatkan bantuan kuota.

Kondisi ekonomi  orang tua/ wali yang sulit jelas tidak akan mampu membeli kuota.  Apa akibatnya? Pada akhirnya mereka lebih memilih bekerja baik di luar maupun di dalam kota untuk membantu ekonomi orang tua.

Pendidikan Masyarakat Kota

Sedikit berbeda dengan kondisi masyarakat desa pada umumnya. Masyarakat kota lebih melek dalam hal pendidikan. Pada dasarnya akses kemudahan dan fasilitas belajar di wilayah perkotaan sudah cukup mumpuni..

Di sekolah wilayah perkotaan, siswa datang ke sekolah dengan diantarkan orang tua atau bahkan  membawa dan memiliki kendaraan sendiri untuk tingkat menengah atas. Sedangkan untuk siswa sekolah dasar  mereka ditunggui orang tua sosialita. Ibu-ibu ber-geng sebagaimana persahabatan anak-anaknya.

Selesai sekolah formal sebagai sebuah kewajiban, mereka juga menempuh sunahnya semisal les, kursus atau halnya bimbingan belajar di luar jam sekolah. Meskipun demikian, aspek segala kemudahan yang diberikan bukan jaminan pendidikan moral dan karakter yang lebih baik.

Siswa sekolah menengah kejuruan seringkali terlibat masalah tawuran. Tidak jelas apa yang diributkan dan dimasalahkan, tatkala bertemu tanpa hal muasal yang jelas mereka berkelahi begitu saja.  Ironisnya hal tersebut terkadang menelan korban yang tidak terlibat aksi tawuran. 

Dapat dikatakan solusi dari segala permalasalahan di atas sebagai efek domino yang berkelanjutan. Aspek kesadaran penuh tentang pentingnya mengenyam pendidikan perlu dikokohkan kembali di benak kita. Pendidikan adalah aset terbesar bangsa untuk membangun masyarakat yang berdikari. Sejatinya pendidikan merupakan usaha sadar untuk belajar dimanapun dan kapanpun.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *