Ketika (Pelajaran) Bahasa Indonesia Menjadi Terlupakan

OPINI

Oleh : Belfin Siahaan (Guru dan pengamat pendidikan)

Kebetulan saya mengajar di sebuah sekolah yang menerapkan kurikulum internasional. Sebuah kurikulum yang memang mengadopsi kurikulum yang diadaptasi dari pembelajaran internasional. Kata adopsi di sini (dugaan saya) justru menjadi sumber bencana karena beberapa hal. Pertama, adopsi ini yang membawa perubahan signifikan kepada sekolah, siswa, orang tua, dan guru. Kedua, adopsi ini yang nantinya dikhawatirkan lebih menitikberatkan pada konten, bukan value (nilai) yang diajarkan kepada siswa. Ketiga, adopsi ini yang mengubah pola pikir siswa menjadi tidak nasionalis, bahkan menjadi egois karena terlalu holistik, terutama kepada bahasa Indonesia.

Tulisan ini saya tulis sebagai refleksi pembelajaran, khususnya kepada diri saya sendiri sebagai guru. Lebih tepatnya sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ada ketakutan dan kekhawatiran mengenai masa depan guru Bahasa Indonesia. Ketakutan ini muncul bukan karena tidak akan adanya profesi guru Bahasa Indonesia di sekolah, namun lebih kepada esensinya. Apakah guru Bahasa Indonesia masih diperlukan ataukah hanya sebagai formalitas untuk melengkapi nilai-nilai dasar sebagai warga negara Indonesia. Lebih sederhananya begini, apakah mata pelajaran ini hanya dianggap seperti kacang yang tidak lupa pada kulitnya ataukah memang pada intinya masih menjadi hal yang diperlukan demi masa depan dan identitas bangsa. Kekhawatiran saya ini diperkuat lagi dengan minimnya kecintaan siswa kepada bahasanya sendiri dan mengganggap bahasa asing lebih menarik dan mengangkat prestise, serta kekinian.

Ada sebuah lelucon yang seringkali terdengar yang mengatakan bahwa guru-guru Bahasa Indonesia yang ditemui di sekolah terlihat ‘tua’ dan klasik. Anggapan ini sepertinya terkesan negatif karena mengganggap mereka (baca: saya atau kami), enggan dengan perubahan, tidak menarik, dan begitu-begitu saja. Nah, anggapan ini menjadi semakin diperburuk ketika pelajaran Bahasa Indonesia bukanlah pelajaran favorit, tenggelam oleh populernya mata pelajaran yang lain. Bahkan yang lebih ironisnya, menyukai pelajaran Bahasa Indonesia tentu tidak memiliki prospek pekerjaan di masa depan. Minimnya penghargaan ini menjadi tantangan terbesar para guru Bahasa Indonesia untuk tetap eksis dan berwibawa di tengah kepungan mata pelajaran lain yang dianggap lebih layak di masa depan.

Nah ada sebuah pengalaman menarik yang saya temukan beberapa kali. Cerita ini mengenai respon siswa terhadap bahasa Indonesia. Bahkan, yang lebih menggelitik urat syaraf saya adalah konflik yang saya alami di kelas mengenai komentar siswa yang terkesan meremehkan dan merendahkan bahasa pemersatu ini. Waktu itu, terdapat seorang siswa yang sepertinya tidak begitu senang dengan pelajaran ini hingga pada akhirnya ia mengatakan kepada saya bahwa, “Tidak ada gunanya belajar bahasa Indonesia. Saya tidak berencana tinggal di Indonesia!”. Bahkan ada pula yang sempat menanyakan, “Untuk apa mempelajari bahasa Indonesia, kan sudah dipakai sehari-hari!”. Atau bahkan ada yang enggan berbicara, tetapi menulis komentar di buku catatannya, “Pelajaran ini tidak akan berguna di masa depanku!”. Ironis, tapi itulah kenyataan sekaligus tantangan yang kami hadapi, khususnya saat mengajar sisswa-siswi dengan latar belakang keluarga yang berasal dari keluarga mampu yang telah membiasakan diri dengan asimilasi budaya barat dan kebiasaan berbahasa Inggris sejak kecil.

Terlepas dari latar belakang yang mempengaruhi mereka tidak menyenangi pelajaran itu, saya tidak pernah menyalahkan pendapat mereka. Justru pendapat itu yang menantang saya untuk melihat betapa generasi muda ini perlu diberi pendidikan untuk menghargai bahasa yang bahkan mereka dengar dan pakai sehari-hari. Untuk mengembalikan mereka pada identitas mereka sebagai warga negara Indonesia adalah tantangan kami sebagai guru Bahasa Indonesia. Terlepas dihargai atau tidak, tugas kami adalah meneruskan dan mempertahankan bahasa ini sebagai identitas utama bahasa Indonesia di mata dunia.

Pemandangan ini justru kontras saat saya mengajari siswa-siswi asing yang tengah asyik mempelajari bahasa Indonesia. Meski berlangsung di pendidikan informal, saya merasa bahwa semangat dan nilai-nilai pembelajaran yang dibawa oleh siswa-siswa asing ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu saya transferkan ke tempat saya mengajar. Ironis memang. Nasionalisme yang seharusnya berada di rumah sendiri, justru saya dapatkan dari orang asing yang notabene juga tidak paham dengan sejarah bangsa ini. Hasrat dan kecintaan mereka pada negeri ini justru berbanding terbalik dengan siswa yang saya ajar di kelas. Apakah hal yang sama juga terjadi dengan siswa-siswi asing ini? Mereka mencintai negeri orang lain dan ‘membenci’ negerinya sendiri? Tampaknya tengah terjadi keseimbangan alam yang tak pernah terpikirkan oleh saya. Atau justru asumsi saya salah. Semoga saja salah.

Nah, tidak bisa dipungkiri kalau peran kami sebagai guru Bahasa Indonesia memang sedikit lebih berat karena diwarnai oleh beban sejarah untuk mempertahankannya sebagai bahasa yang tetap mempersatukan negeri ini dari Sabang sampai Merauke. Hal yang sama mungkin terjadi di pelajaran PKn atau Agama. Persoalannya adalah: bagaimana caranya untuk membuat pelajaran ini tidak sekadar pelajaran, tetapi dikenang sebagai pengalaman hidup yang berarti? Memang, konsep tulisan ini sebenarnya mempertanyakan bagaimana nasionalisme harus dibangun sedini mungkin melalui pengenalan sejarah dan bahasa. Sebuah bangsa akan kehilangan identitasnya apabila sejarah dan bahasanya tidak dikenal dan tidak dilestarikan. Apakah itu artinya bahwa bahasa Indonesia akan menjadi langka dan antik?

Sebenarnya pertanyaan ini menjadi kekhawatiran utama saya. Bahasa Indonesia semakin tergerus oleh zaman. Hal yang saya alami ini terjadi di sekolah bertaraf internasional, yang bisa jadi juga tidak terjadi di sekolah lain. Semoga saja. Namun, saya meyakini bahwa peran media dan teknologi justru memberikan dampak yang signifikan terhadap generasi muda. Lihat saja contohnya penggunaan bahasa pada produk-produk yang disenangi anak muda seperti gawai, komputer, e-commerce, media sosial, dan lain-lain. Hampir semua menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Bahkan, imej menggunakan bahasa Inggris semakin menenggelamkan popularitas bahasa Indonesia. Bahkan yang lebih parah, orang yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dianggap langka, aneh, kaku, terlalu formal, basa-basi, dan tidak keren. Anggapan-anggapan ini dilengkapi dengan munculnya idola-idola anak muda seperti selebriti, pemain film dan lain-lain yang secara tidak langsung mempersuasi generasi muda untuk menggunakan bahasa asing sebagai bahasa andalan di kehidupan sehari-hari.

Nah, saya setuju dengan program pemerintah yang mewajibkan bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran/kuliah wajib di sekolah dan universias. Namun, program ini perlu didukung dengan realisasi di lapangan. Pelajaran ini tak seyogyanya berhenti dalam konteks wacana. Pemerintah selaku pemangku kebijakan juga seharusnya menerapkan penggunaan bahasa Indonesia di publik, semisal penanda di transportasi umum, ruang publik, bahkan dalam interaksi dan komunikasi sehari-hari. Selain itu, pengenalan terhadap sejarah munculnya bahasa Indonesia perlu dimasukkan dalam kurikulum supaya setiap warga negara menyadari peran sejarah dalam menentukan identitas bangsa.

Pada praktiknya, di setiap sekolah, menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia masih perlu digalakkan. Jangan menempatkan pelajaran dan penggunaan bahasa ini sebagai formalitas. Akan tetapi, sebagai pemimpin sekolah dan pendidik yang berwarga negara Indonesia, kita memiliki visi dan misi yang sama seperti yang terdapat dalam Sumpah Pemuda yaitu menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sudah seharusnya terpatri dalam benak kita bahwa bahasa inilah yang menjadikan identitas kita.

Bagi saya pribadi, kecintaan ini harus dimulai dari diri kita. Tak perlu merasa inferior jika dibandingkan dengan bahasa lain. Ini bukan masalah keren-kerenan, bukan pula prestise yang harus diperjuangkan. Bukankah bahasa itu akan selalu ada jika masih ada yang setia dengannya? Saya meyakini bahwa penggemar kepada bahasa itu harus ada jika kita tidak mau kepunahan terjadi.

Semoga saja, upaya dan kecintaan kami tidak luntur kepada bahasa ini. Bukan karena profesi kami sebagai guru, tapi lebih kepada kesadaran untuk mengajarkan nasionalisme kepada generasi muda. Jadi, untuk guru Bahasa Indonesia, ayo semangat. Jangan biarkan bahasa ini kehilangan penggemarnya, apalagi dijadikan barang antik yang akan lekang oleh waktu dan dimuseumkan sebagai kenangan. Bila itu terjadi, Indonesia hanya akan tinggal nama dan punah!

Sumber : kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *