Pendidikan Life Skill Berbasis Alquran

OPINI

Oleh : Samsudin

SALAH satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan melakukan inovasi program pendidikan melaui pendidikan kecakapan hidup (life skills), yaitu pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri. Terlebih di era industri seperti sekarang ini diperlukan pola pendidikan yang dengan sengaja dirancang untuk membekali peserta didik dengan kecakapan hidup, yang secara integratif memadukan kecakapan generik dan spesifik guna memecahkan dan mengatasi problema kehidupan.

Lingkup pendidikan kecakapan hidup meliputi kemampuan komunikasi secara efektif, kemampuan mengembangkan kerjasama, melaksanakan peranan sebagai warga negara yang bertanggungjawab, memiliki kesiapan serta kecakapan untuk bekerja, dan memiliki karakter dan etika untuk terjun ke dunia kerja. Tentu hal ini seirama dengan pesan agama dimana seseorang seharusnya memiliki tujuan yang jelas dari setiap aktivitas hidupnya di masa datang. Dalam hal ini, al-Qur’an menggunakan redaksi ghad (esok) pada surat  al-Hasyr ayat 18 untuk menunjukkan arti masa depan.

Oleh sebab itu, pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup (life skills) menjadi sebuah alternatif pembaharuan pendidikan yang prospektif untuk mengantisipasi tuntutan masa depan. Dengan titik berat pendidikan pada kecakapan untuk hidup, diharapkan pendidikan benar-benar dapat meningkatkan taraf hidup dan martabat masyarakat.

Diskursus pendidikan kecakapan hidup melalui pendidikan formal menjadi aktual untuk dibahas karena pendidikan life skills mengorientasikan siswa untuk memiliki kemampuan dan modal dasar agar dapat hidup mandiri dan survive di lingkungannya. Secara garis besar kecakapan hidup (Life Skill) dapat dikelompokkan menjadi dua; yaitu kecakapan hidup yang bersifat umum (General Life Skill) dan kecakapan hidup yang bersifat khusus (Specific Life Skill).

Kecakapan Hidup yang bersifat umum merupakan kecakapan yang diperlukan oleh siapapun, baik yang bekerja, yang tidak bekerja dan yang sedang menempuh pendidikan. Kecakapan ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu kecakapan personal (Personal Skill) dan kecakapan sosial (Social Skill).

Sebagai kitab petunjuk (hudan), Alquran telah memberi isyarat bahwa permasalahan pendidikan sangatlah penting. Alquran mengungkap beberapa prinsip dasar pendidikan yang dijadikan sumber inspirasi untuk dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu. Landasan normatif dalam Alquran yang berkenaan dengan pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup termaktub dalam surat al-Baqarah: 31-33, tentang keunggulan manusia akibat memiliki life skills dari proses pembelajaran yang dilakukan Allah, ini membuat Malaikat menghargai manusia sebagai makhluk yang layak menyandang khalifah yang digambarkan Alquran dengan cara bersujud.

Bahkan Alquran mengungkapkan istilah pendidikan dengan kata tarbiyah dan ta’lim. Kata tarbiyah digunakan untuk makna yang lebih luas yaitu proses pembinaan dan pengarahan bagi pembentukan kepribadian dan sikap mental, sedangkan kata taklim digunakan untuk makna yang lebih khusus yakni proses pemberian bekal berupa pengetahuan dan keterampilan.

Berdasarkan kedua istilah tersebut maka pendidikan menurut Alquran dirumuskan sebagai usaha yang dilakukan secara terencana dan bertahap untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental. Hal ini menunjukkan adanya relevansi konsep pendidikan kecakapan hidup dengan pandangan Alquran. Karena pada prisipnya kehadiran al-Qur’an untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat. Alquran telah menyatakan dirinya sebagai kitab pemberi penjelasan (tibyan) terhadap segala sesuatu, termasuk dalam perspektif pendidikan kecakapan hidup.

Sejalan dengan era industri, pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup yang diselenggarakan di lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu menciptakan simbiosis mutualistis dengan lembaga pendidikan pada umumnya, sehingga dapat memperkuat pilar jati diri pendidikan nasional. Sebagaimana diungkapkan Achmadi dalam bukunya yang bertitel Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma humanisme Teosentris, menjelaskan bahwa paradigma ideologi pendidikan Islam mengacu pada pendekatan Humanisme-Teosentris, yakni prinsip-prinsip ajaran Islam yang bersifat universal, yang implementasi ajaran ini dapat fleksibel, menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan karena untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Salah satu lembaga pendidikan Islam yang concern dengan pendidikan life skills berbasis Alquran adalah Kuttab. Di Indinesia terdapat 17 Kuttab al-Fatih yang tersebar di berbagai kota dan kabupatan. Semuanya telah berkomitmen mengokohkan jati dirinya sebagai pilar peradaban Islam dengan mengikhtiarkan diri mengembalikan kegemilangan ilmu. Kuttab merupakan lembaga pendidikan Alquran yang efektif untuk anak-anak. Di mana dengan metode yang sesuai dengan jiwa anak-anak dapat menjadikan metode pembelajaran di kuttab menjadi menyenangkan. Sisi inilah yang menjadikan kuttab menjadi model pembelajaran di dunia Islam.

Menilik catatan sejaran pendidikan Islam, sebelum munculnya lembaga pendidikan formal di dunia Islam sebenarnya telah berkembang lembaga pendidikan dasar yang hidup di tengah-tengah masyarakat, yaitu dikenal dengan sebutan Kuttab/Maktab. Pada awalnya, kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak.

Menurut Fahruddin, keberadaan kuttab di Indonesia telah mengalami transformasi. Transformasi kuttab di Indonesia dapat dilihat dari keberadaan nggon ngaji atau tempat santri-santri untuk belajar mengaji di serambi Masjid atau rumah guru. Nggon ngaji ini juga menginspirasi pendirian Madrasah formal ataupun Madrasah Diniyyah. Begitu juga dengan keberadaan lembaga pendidikan seperti Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) yang mengambil sumber-sumbernya dari lembaga pendidikan seperti Kuttab dan nggon ngaji. Keberadaan kuttab, nggon ngaji dan TPA sebagai lembaga pendidikan Islam untuk anak-anak sampai hari ini masih terpelihara dengan baik.

UU No. 20 Tahun 2003 pasal 13 menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi sebagimana ketentuan dalam pasal 14. Jika dikaitkan dengan bentuk kuttab yang merupakan lembaga pendidikan untuk anak-anak, maka kuttab termasuk dalam lembaga setara dengan pendidikan dasar. Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 17 ayat 1.

Pengembangan Kecakapan Hidup Berbasis Alquran

Di antara pengembangan model implementasi pendidikan kecakapan hidup adalah dengan berbasis karakter iman serta meletakkan kitab suci Alquran sebagai sumber tadabbur. Kata tadabbur berasal dari kata tadabbara-yatadabbaru dimaknai sebagai memikirkan, memahami, merenungi dan meresapi setiap lafadz dan makna ayat untuk mengungkapkan kebenaran dan kemukjizatan Alquran. Selain itu tadabbur juga diartikan sebagai mengambil pelajaran serta burusaha mengamalkan pesan-pesan yang terkandung dalam Alquran.

Pendekatan tadabbur yang kemudian dijadikan sebagai pentahapan dalam berinteraksi dengan al-Quran tentu bukan tidak ada maksud. Merujuk pada model pembelajaran ulama terdahulu yang mampu melahirkan generasi-generasi muslim yang gemilang melalui pengembangan ilmu berbasis Alquran. Sebagai Pedoman hidup bagi umat Islam, Alquran adalah kitab yang begitu besar perhatiannya terhadap aktivitas pemikiran dan keilmuan. Ini, misalnya, tergambar dari penyebutan kata “al-‘ilm” dan derivasinya yang mencapai 823 kali.

Memahami makna yang terkandung dalam al-Quran melalui buku-buku tafsir yang ditulis para ulama akan melahirkan ilmu pengetahuan yang luas. Namun ketika memahami makna al-Quran melalui karya-karya mufassir disertai dengan pendekatan tadabbur, maka akan melahirkan dua output sekaligus yaitu ilmiah amaliyah, ajaran al-Quran yang bermuara pada pengamalan isi kandungannya.

Mendudukkan Alquran sebagai basis pendidikan ini didasarkan pada salah satu hadits Nabi Muhammad sebagaimana yang diriwayatkanJundub ibn ‘Abd Allah r.a. yang menceritakan bahwa, “Kami dahulu bersama Nabi saw, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Alquran. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Alquran.”

Hadits diatas merupakan panduan dalam penerapan pendidikan berkarakter iman sebelum memasuki pembelajaran Al-Quran. Dapat dipahami maksud hadits tersebut, bahwa belajar keimanan sebelum mempelajari Akran akan mendorong lahirnya keyakinan yang kokoh. Demikian seterusnya, ketika al-Quran didudukkan sebagai landasan normatif sebelum mempelajari ilmu pengetahuan, akan berdampak pula pada keteguhan jiwa serta peningkatan keimanan. Persoalan keimanan adalah hal fundamental bagi seorang muslim. Tanpa dilandasi keimanan, tentu manusia akan menjadi makhluk yang rapuh, sebagaimana rapuhnya rumah tanpa adanya pondasi yang kuat dan kokoh.

Diskursus tentang mana lebih dahulu, iman atau ilmu. Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya. Namun demikian, ilmu harus selalu berada dalam kontrol iman. Artinya iman selalu diletakkan di depan sebagai pengontrol Ilmu, pemberi fondasi moral yang kokoh, sehingga mampu menciptakan hidup secara seimbang. Bahkan secara eksplisit Alquran menjelaskan hubungan integral antara iman dan ilmu, sehingga dengan demikian yang terbentuk adalah ilmu amaliah yang berada dalam jiwa yang imaniah.

Kuttab Al-Fatih mengembangkan pendidikan kecakapan hidup yang berwawasan pada karakter iman melalui pendekatan tadabbur Alquran diawali dari juz 30. Pertimbangannya didasarkan pada urutan dan prioritas pembelajaran fase Makiyyah – Madaniyyah. Selain itu, bagian al-Quran yang pada umumnya dihafalkan oleh peserta didik dimulai dari juz 30. Dalam mengupayakan proses internalisasi makna dan kandungan al-Quran, Kuttab al-Fatih menerbitkan modul tadabbur juz 30 per surat sebagai bahan ajar bagi peserta didik. Secara spesifik, ayat-ayat yang dihafal peserta didik dapat ditadabburi, dikaji dan dipahami sehingga imannya semakin bertambah dan semakin kuat.

Ada tiga Pendekatan dalam juz 30 ini, yaitu kisah, alam dan manusia. Modul bagian ini khusus mengenai penanaman iman melalui pendekatan alam dalam juz 30. Setelah melakukan pencarian dan pengkajian, terdapat tujuh tema besar berkaitan dengan alam yang tersebar mulai dari surat an-Naba (permulaan juz) sampai surat an-Nas. Ketujuh tema besar tersebut memiliki perincian tema dan subtema tersendiri.

Semua tema atau bagian yang dikaji dan disampaikan kepada peserta didik, penekanannya pada iman. Dari sekian banyak cabang iman, pembelajaran dimulai dari penanaman arkan al-iman (rukun iman), yaitu rukun iman yang berjumlah enam. Dan ruh utama rukun iman adalah iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir. Kedua iman ini dapat ditanamkan pada diri peserta didik melalui pendekatan tadabbur juz 30, karena isinya banyak mengulas penjelasan mengenai surga, neraka dan hari akhir.

Penekanan pada ranah keimanan saat pembelajaran melalui pendekatan tadabbur ini dapat dilacak melalui buku-buku pelajaran yang diterbitkan oleh Kuttab. Salah satu contoh ketika membahas tentang kehancuran bumi sebagai penanda terjadinya hari akhir, guru menjelaskan gambaran tentang bumi yang retak, terbelah dan berlubang, sebagaimana termaktub dalam suratAbasa ayat 26, “Kemudian Kami merekahkan tanah dengan sebaik-baiknya.” Penjelasan tersebut kemudian disambung dengan firman Allah yang tertulis dalam surat Al-Insyiqaq ayat 4, “Serta ia (bumi) memuntahkan segala isinya, dan ia pun menjadi kosong.” Bahkan proses kehancuran bumi dilukiskan dalam surat Al-Zalzalah ayat 1- 4 seperti “Dak” (dihancurkan dengan keras atau dihantam), sebuah penegasan untuk menunjukkan guncangan yang berturut-turut.

Mengimani hari akhir akanberimplikasi pada kesadaran spiritual yang mampu memunculkan keyakinan bahwa kenikmatan hidup di dunia hanya sementara, efeknya akan membuat peserta didik lebih menjaga ibadah, lebih banyak berbuat baik terhadap orang tua, keluarga, orang lain dan lingkungannya.

Kita berharap lembaga pendidikan Islam Kuttab mampu berkontribusi untuk bangsa dan negara dalam menyiapkan generasi bangsa yang cerdas, beriman, bertaqwa dan berakhlakul karimah melalui tempaan pembelajaran yang menekankan pada internalisasi nilai tauhid, akhlak, adab, sopan dan santun dalam bermasyarakat, adab dan sopan santun dalam keluarga, pendidikan kepribadian, dan kesehatan. Sisi inilah yang menempatkan Kuttab menjadi model pembelajaran dalam khazanah pendidikan Islam. Dan pada sisi ini pula, Kuttab memiliki kekuatan dalam mengimplementasikan pendidikan life skillberbasis al-Quran.

Sumber : suaramerdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *