Pendidikan Gaya Bank

OPINI

Oleh : Neti Natijatul Pikriyah

Pendidikan bercerita-dengan guru sebagai pencerita-mengarahkan murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Lebih buruk lagi, ketika muridnya diubah menjadi “bejana-bejana” , wadah-wadah kosong untuk diisi oleh guru. Semakin penuh dia mengisi wadah-wadah itu, semakin baik pula seorang guru. Semakin patuh wadah-wadah itu untuk diisi semakin baik pula mereka sebagai murid.

    Pendidikan karenanya menjadi sebuah kegiatan manabung, di mana para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya. Yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi guru menyampaikan pernyataan-pernyataan dan “mengisi tabungan” yang diterima, dihafal dan diulangi dengan patuh oleh para murid. Inilah konsep pendidikan “gaya bank” , di mana ruang gerak yang disediakan bagi kegiatan para murid hanya terbatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan. Memang benar mereka mempunyai kesempatan untuk menjadi pengumpul dan pencatat barang-barang simpanan. Namun, pada akhirnya manusia sendirilah yang disimpan karena miskinnya daya cipta, daya ubah dan pengetahuan, dalam sistem pendidikan yang dalam keadaan terbaik pun masih salah arah ini. Padahal tanpa usaha mencari, tanpa praksis, manusia tidak akan menjadi benar-benar manusiawi. Pengetahuan hanya lahir melalui usaha penemuan dan penemuan ulang, melalui pencarian manusia yang begitu gelisah dengan pengetahuan bahkan tidak sabar, terus-menerus dan penuh harapan di dunia, dengan dunia dan bersama orang lain.

    Dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap diri berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Menganggap bodoh secara mutlak pada orang lain, ini sudah dalam sebuah ciri-ciri penindasan, berarti menginginkan pendidikan dan pengetahuan sebagai proses pencarian. Guru menampilkan diri di hadapan murid-muridnya sebagai orang yang berada pada pihak yang berlawanan; dengan menganggap mereka mutlak bodoh, maka dia mengukuhkan keberadaan dirinya sendiri. Para murid yang bagaikan budak terasing dalam dialektika Hegel, menerima kebodohan mereka sebagai pengesahan keberadaan sang guru-tetapi, tidak seperti budak, mereka tidak pernah menyadari bahwa mereka mendidik gurunya.

       Lagi-lagi kita berbicara soal Pendidikan, anak sekolah yang duduk di bangku SD sampai SMA sangatlah mudah menambah pengetahuan, akan tetapi hari ini mereka terhalang oleh covid-19, bahkan lebih-lebih lagi mahasiswa, terutama para mahasiswa yang baru masuk kampus. Penulis sendiri mengatakan bahwa pendidikan di area globalisasi ini sangat tidak seperti yang dialami oleh para mahasiswa ataupun anak sekolah yang dulu.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *