Matematika dan Simbol Diskriminasi Sekolah

OPINI

Oleh : Ahmad Fatoni

Jika anda mulai banyak melihat baliho Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah di perempatan jalan dan dipaku di pohon, saya ucapkan selamat datang di musim sekolah sedang berlomba mendapatkan siswa baru. Ya, sekolah butuh siswa sebanyak-banyaknya, semakin banyak siswa di suatu sekolah tentu semakin besar pula modal dana BOS yang diterima berdasarkan rasio jumlah siswa dikali rupiah yang akan diterima sekolah. (itupun jika sekolah tidak ada SPP)

Calon wali siswa diberikan hak untuk memilih sekolah. Rata-rata pandangan mereka sangat sederhana bagaimana melihat sekolah itu bagus atau kurang bagus, lihat saja prestasi sekolah tersebut! Bagaimana lulusan sekolah tersebut? Apa saja fasilitas sekolah tersebut?

Semakin banyak prestasi yang diraih berbanding lurus dengan daya minat calon wali siswa terhadap sekolah itu sendiri.

Sekolah menjadi berlomba-lomba membangun “image” sekolah berprestasi. Baliho siswa membawa piala yang lebih tinggi dari tinggi badan siswanya sendiri menjadi pancingan yang menarik bahwa sekolah itu adalah sekolah yang berprestasi? maka dari itu “Ayo sekolah di sekolah kami,” ucap mereka.

Sekolah sangat butuh dengan siswa cerdas sebagai bukti bahwa sekolah bisa mencerdaskan putra-putri bapak/ibu, apa buktinya? piala yang kami pajang tentunya.

Tak jarang juga sekolah hanya numpang tenar, tidak merasa ikut membina dan membantu biaya ada siswanya juara olimpiade matematika hasil dari belajar dengan guru lesnya, sekolah itu segera ambil peran “ini lho siswa kami juara olimpiade matematika”.

Soal prestasi sebenarnya sangat subjektif, banyak sekolah yang tak terlalu punya prestasi mandiri, mereka membuat acara lomba sendiri dan menjuarakan siswanya sendiri. Biasanya photo di balihonya diberi keterangan “Juara blablabla Tingkat Provinsi/Kabupaten”. Meskipun sekolah lain juga tahu itu hanya pembohongan publik dan manipulatif toh siapa yang peduli. Setidaknya masa pandemi ini jadi penghambat sekolah mengaku berprestasi.

Sekolah dengan peminat terbanyak melakukan seleksi, alasan paling klisenya adalah “sekolah kami daya tampungnya tidak mencukupi sehingga kami harus menyeleksi siswa yang masuk, jika lewat jalur seleksi kami pilih dari siswa yang memperoleh urutan nilai tertinggi”. Apa mata pelajaran yang diujikan? ada matematika tentunya.

Nah loo!!!

Di belahan lain ada sekolah yang tak terlalu mengejar kemampuan bernalar matematis siswanya atau prestasi, sekolah itu menawarkan program yang lebih ubudiyah mendidik kebiasaan siswanya untuk beribadah dan berdoa.

Pelajaran umum diisi secukupnya biar siswanya tidak terlalu tawaduk dan pasrah. Sekolah formal semacam ini akan cukup sulit mengukur indikator keberhasilan belajar siswanya, atau mungkin menunjukkan ketidak kompetenan gurunya karena juga kerja paruh waktu dengan profesi yang lain.

“Sekolah sukses di prestasi akademik adalah simbol sekolah sukses berisi anak-anak cerdas terukur,” kata Guru Matematika.

Siapa yang tak tertarik menyekolahkan anaknya pada sekolah yang mampu menampilkan kecerdasan siswanya dalam bentuk angka-angka dan piala, pandai mengerjakan matematika adalah simbol sekolah model perkotaan dengan biaya yang mahal.

Calon wali siswa berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke sana, sekolah keterbatasan kelas mengadakan seleksi dengan hanya menyaring siswa cerdas? Bagaimana cara menyeleksinya? Tentu saja mengerjakan soal matematika.

Sumber : kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *