Potret Sekolah Katholik, Antara Pesimis sekaligus Optimis

OPINI

Oleh : Kris Fallo

"Non ut discam vivo, sed ut vivam disceo" "Saya hidup bukan untuk belajar, melainkan saya belajar untuk hidup."

I. Realitas pendidikan kita

Dunia pendidikan menjadi sasaran empuk yang tidak pernah habis dibahas dan dikritik. Bertahun-tahun sektor pendidikan terus melakukan pembaharuan dan reformasi diri. Semuanya bermuara pada tujuan final yakni mencerdasakan kehidupan bangsa. Namanya sekolah kehidupan, tidak kenal istilah tamat, artinya sekolah sampai akhir hayat.

Reformasi di tubuh pendidikan yang terjadi dari saat ke saat mengindikasikan bahwa, bangsa kita seakan belum menemukan model pendidikan yang cocok dan ampuh.

Penemuan metode pendidikan yang sanggup menjawapi masalah pendidikan tentu bukanlah hal yang mudah mengingat, karakter bangsa yang prluralis, serta tingkat perkembangan setiap daerah tidak sama. Misalnya, penerapan standar kelulusan di pulau Jawa tentu berbeda dengan pulau-pulau lain di luar jawa, seperti Nusa Tenggara, Papua, Maluku.

Setiap menteri pendidikan yang berkuasa, selalu saja dengan metode dan programnya tersendiri. Selalu saja bebeda. Contoh konkret, pernah ada istilah “bongkar pasang kurikulum.” Model kurikulum yang selalu berubah dari waktu ke waktu.

Jaman dulu kita kenal model Pembelajaran Taman siswa yang dicetuskan oleh; Ki Hadjar Dewantara, “Ing Ngarso Sung Tulodholng Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif, (SBSA), Kurikulum Tinhgkat Satuan Pendidikan, (KTSP), Kurikulum 2013, (K-13), hingga kini Kurikulum Merdeka Belajar yang di cetus oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

Selain “bongkar pang kurikulum”, hal lain yang menjadi sorotan adalah  ketidakberesan penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar (KBM), profesionalitas dan kualitas pendidik atau tenaga pengajar, manajemen pendidikan dan pendanaan pendidikan.

Fakta lain ditemukan bahwa, Tripusat pendidikan; orang tua, guru dan siswa, belum berperan maksimal. Kerja sama antara tripusat pendidikan belum maksimal.

Faktor lain  yang sering diperdebatkan adalah tentang minimnya subsidi pemerintah hingga membuat dunia pendidikan harus sedikit bekerja ekstra. Konsekuensi logis dari situasi ini adalah adanya usaha untuk ‘menyerap’dana dari pemasukan para (orang-tua) siswa.

Sikap pemerintah yang terkesan mengaanaktirikan sekolah swasta, ketidakseimbangan perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan khususnya sekolah swasta, ini menyisahkan problem tersendiri. Akibatnya, sekolah swasta menerapkan biaya yang mahal dan mencekik.

Persoalan baru dalam dunia pendidikan kini adalah, pemerintah cendrung menerapkan standar administatif, hal ini menyebabkan pendidik lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan administratif ketimbang masuk kelas dan mengajar, ditambah lagi aktual saat ini adalah penyebaran virus corona hingga memaksa pelaku pendidikan untuk belajar daring dan belajar dari rumah, (BDR). Lengkaplah sudah penderitan ini.

II. Titik Focus Sekolah Katholik SMPK Don Bosco Atambua

Sekolah Menengah Pertama Katholik, (SMPK) Don Bosco Atambua, merupakan sekolah swasta yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan As’Tanra milik Keuskupan Atambua.

Sekolah ini berdiri sejak tahun 1969 dan tetap eksis hingga saat ini. Dari segi usia, SMPK Don Bosco boleh dibilang sudah matang, teruji dan memiliki nama. Sekolah Katholik ini sudah ada seblum sekolah-sekolah nergri yang lain berdiri. Liku-liku perjalanannya mengisahkan banyak hal positif, membanggakan dan layak diapresiasi.

Kenyataan ini bukan berarti tanpa rintangan tantangan. Ada juga pasang surut, seiring perjalanan waktu. Sejauh pengamatan dan juga wawancara langsung dengan guru senior yang berkarya di sekolah tersebut, ada banyak kendalah yang turut menyertai dan mengiringi perjalanannya.

Masalah klasik yang saya rangkum, dan sering dihadapi adalah;

*Tenaga pengajar/pendidik

Masalah umum dalam hal tenaga pengajar adalah soal sumber daya manusia, (SDM). SDM yang minim, sering menjadi penyebab utama dalam hal perkembangan dan kemajuan pendidikan di sekolah dimaksud.

Tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana mengharuskan pembelajaran secara online, daring, belajar dari rumah, (BDR), sering menjadi kendala tersendiri. Bila guru gagap teknologi, bagaimana mungkin bejar daring dan online bisa berjalan?

Guru jaman dulu yang masih saja eksis hingga kini, (guru tua), dan sulit menyusuaikan diri dengan perkembangan jaman. Jaman sudah berubah tetapi guru yang tetap sama. Hal ini berakibat pada output yang dihasilkan. Dunia pendidikan sekarang dengan kurikulum Merdeka Belajar,  menjadi sulit karena tenaga pengajar yang tidak ter-up date.

Hal lain adalah mentalitas pengajar. Guru jaman sekarang kesannya kurang militan mengalah terhadap tantangan, kurang memiliki daya juang dan semangat pemberikan diri untuk kemajuan pendidikan menjadi lemah.

Sebagian guru kurang memiliki kreatifitas dan inisiatif lemah. Kenyataan ini menjadi sulit bagi kita, jika kita menginginkan kemajuan dalam dunia pendidikan, padahal tuntuan sekarang kita butuh tenaga pendidika yang smart dan kreatif.

*Siswa/peserta didik

Kendalah yang dihadapi dalam kaitannya dengan peserta didik adalah soal mentalitas instan, harap gapang, daya juang lemah, dan kurang gesit. Siswa belum sepenuhnya sadar bahwa pendidikan itu utama dalam kehidupan. Sekolah ibarat nafas bagi kehidpan, tanpa nafas kita akan mati.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, lebih menyita waktu dan perhatian siswa, daripada pergi ke sekolah, mengikuti pejaran, belajar dan mengerjakan tugas lebih baik, mengikuti kemauan sendiri. Peserta didik lebih tertarik dengan games, jejaring sosial, pempilan, ketimbang keintiman dalam pendidikan formal.

Hal lain yang menjadi kendalam saat ini adalah, masih banyak siswa, teristimewa mereka yang berada di daerah terpencil lamat dalam hal teknologi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri jika harus belajar daring dan online

*Orang tua

Ada kesan bahwa masih ada orang tidak yang bersikap apatis terhadap anak. Orang tua kurang aktif dalam mengontrol anak, dan menyiapkan sarana yang dibutuhkan anak dalam hal belajar. Orang tua masih merasa bahwa urusan sekolah adalah urusan siswa dan guru dan bukan tanggungjawab orang tua, padahal, siswa lebih banyak di rumah ketimbang di sekolah, apa lagi pada situasi pandemi covid-19 sekarang, siswa lebih belajar dari rumah saja.

III. Kiprah Sekolah Katholik: Dulu dan Sekarang

Sekolah katholik, yang dulu dikenal sebagai institusi pendidikan yang ‘unggulan’, karena bukan sekedar menghadirkan pendidikan secara akademis, namun juga aspek religiositas dan karakter menjadi poin yang turut diperhatikan.

Kita mengenal sekolah Katolik yang sungguh dibanggakan pada zaman dahulu karena berbagai macam kualitas yang ada. Disiplin yang tinggi, membangun karakter dan kedisiplinan anak karena merupakan sekolah warisan Belanda. Semangat toleransi yang dijunjung setinggi-tingginya karena menerima murid-murid yang memeluk agama lain. Namanya sekolah katholik tetapi berlaku umum.

Tidak ada budaya toleransi dalam hal jahat. sekolah katholik cendrung menerapkan bentuk kedisiplinan lain yang menerapkan sanksi keras dan tegas. Hal yang paling utama adalah lulusan atau output yang teruji.

Tidak mengherankan, sekolah-sekolah katholik adalah sekolah yang dicari dan bahkan diperebutkan, di tempat di mana sekolah tersebut berada. Bisa dikatakan, Sekolah Katolik pernah memiliki masa kejayaan dan ‘era-keemasan’, yang bisa menjadi representasi betapa berkualitasnya dunia pendidikan (kala itu).

Perubahan zaman disertai dengan sekian banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Ada kemajuan, ada kemerosotan. Berubahnya situasi hidup, terkadang membawa perubahan besar. Hal serupa ini pun sekarang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Keadaan sekarang berubah banyak, bahkan berubah total. Kita bisa memperhatikan keadaan sekolah katholik saat ini adalah demikian:

  • Peminat terhadap sekolah katholik semakin berkurang, dengan akibat yang yang nyata yaitu penutupan berbagai sekolah, atau menggabungkannya dengan sekolah sejenjang. Situasi demikian, langsung maupun tidak langsung berdampak luas bagi keberlangsungan sekolah katholik ini. Dengan jumlah peminat makin sedikit, penerimaan uang sekolah juga makin mengecil.

Mesti diakui bahwa penerimaan uang sekolah ini adalah sumber vital untuk menyelenggarakan sekolah. Namun masih untung bahwa Yayasan pengelola masih mempunyai unit-unit sekolah, yang memiliki keuntungan surplus, sehingga masih ada kemungkinan untuk mengadakan ‘subsidi-silang’.

  • Ciri khas sekolah katholik yang semakin luntur, yang dahulu menjadi keunggulan sekolah-sekolah ini. Misalnya, paling tampak dalam hal kedisiplinan, prestasi siswa, dan ketegasan sekolah.
  • Semakin terkikisnya semangat perhatian kepada mereka yang lemah, kecil, miskin dan tersingkir. Biaya pendidikan di Sekolah katholik menjadi mahal dan sulit terjangkau oleh kalangan umat katholik sendiri. Berbagai keluhan kerap didengar dari umat, karena tidak mampu membayar uang sekolah atau uang gedung, serta minimnya fasilitas.

Semua kenyataan ini, tidak bisa terlepas dari fenomena yang menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran mendasar secara substansial dalam praktek pendidikan kita. Semangat dasar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya hanya menjadi sekedar retorika politik saja, karena yang terjadi hanya mencerdaskan sebagian warga saja, yaitu mereka yang kaya dan memiliki akses dalam menyekolahkan anak-anaknya.

IV. Pesismisme dan optimisme ke depan

Menimbang dan merasakan segala yang terjadi bukan berarti kita menjadi putus asa terhadap Sekolah katholik, karena dimanapun Allah menyelenggara, disitu tetap ada harapan. Usaha-usaha sederhana ini bisa terus dibangun, sehingga segala hal terus berjalan sebagaimana mestinya, meski kita juga masih memasuki ‘daerah abu-abu’ masa depan sekolah katholik.

Hal yang bisa diusahakan misalnya, terus berkomitmen untuk menjadikan dan mengusahakan sekolah katolik sebagai tempat anak-anak berkembang menjadi manusia yang dewasa, yang dibarengi dengan kematangan pribadi serta religiusitas yang kuat, karena pada dasarnya sekolah katholik adalah tempat untuk belajar nilai-nilai kemanusiaan yang membebaskan.

Selain itu, perlu ada relasi, komunikasi yang kuat antara pendidik dan orang tua, karena pendidik di sekolah, adalah pendidik formal, yang waktu perjumpaannya masih terbatas, dan peran orang tua menjadi penting, supaya pendidikan karakter itu terus berkesinambungan bagi anak-anak ini. Barangkali masih ‘berbau’ hal-hal operasional, yaitu dengan mengupayakan serta menghidupkan semangat subsidiaritas, yang kalau dalam bahasa iman kita dikenal dengan ‘semangat berbagi’, dengan harapan bahwa yang kuat akan membantu yang lemah, diserta dengan usaha untuk menghemat pembiayaan pendidikan, termasuk di dalamnya: sarana dan prasarana yang tersedia.

Sekolah Katolik perlu berbenah dan menegaskan diri, tanpa perlu kehilangan arah dan roh Kekatholikan. Ada keyakinan bahwa, yang terutama adalah dengan terus memegang prinsip pembebasan sebagai semangat utama pendidikan, karena di negara manapun, terlebih di negara miskin dan berkembang, pendidikan diselenggarakan untuk membebaskan masyarakat dari sekian banyak persoalan yang membelitnya. Kalau pendidikan formal tidak sanggup menghadirkan spirit pembebasan, diperlukan kerja-kerja sosial untuk membantu masyarakat keluar dari situasi tersebut.

Sekolah katholik, harue tetap mempertahankan ciri khas, karena didasari oleh semangat kristiani, bisa mengambil bagian untuk mengisi kekosongan sekaligus kerinduan tersebut. Terlebih, apabila sekolah katholik hadir dalam keprihatinan-keprihatinan, sehingga dalam hal ini juga terdapat bentuk-bentuk kesaksisan-kesaksian iman.

Menjadi kewajiban setiap penyelenggara pendidikan untuk mengusahakan supaya setiap orang menerima pendidikan, terutama mereka yang akan memenuhi harapan Gereja, (Gravissimum Educationis art. 2), karena pada dasarnya, pendidikan bukan sekedar untuk pendewasaan pribadi manusia saja, melainkan untuk mencapai pemahaman tentang misteri keselamatan, dan makin hari menyadari karunia iman yang telah mereka terima, sehingga nama Allah Bapa senantiasa dimuliakan dalam Roh Kebenaran.

Aspek lain yang dipandang penting adalah, perlu adanya regenerasi dan manejemen yang baik. Sekolah katholik harus mengembangkan khasannya, misalnya di SMPK Don Bosco ada yang namanya pengembangan minta dan bakat; musik, seni tari, vokal, dan hal positif lainnya sehingga menjadi daya tarik tersendiri.

Perlu dilakukan pengkaderan bagi para pendidik, serta pelatihan-pelatihan agar SDM peserta didik dapat ter-up  date. Yayasan dalam hal ini pemilik sekolah, harus memainkan perannya, teristimewa dalam perekrutan tenaga pengajar, pendampingan dan pengawasan keberlangsungan sekolah.

Model dan spiritualitas yang mesti ditampakan adalah, spiritualitas sang Guru Ilahi yakni Yesus Kristus, “aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.” Sekolah katholik harus menyedari bahwa selama ini, metode yang diterapkan untuk para pendidik adalah metode pengabdian, jadi kesejahteraan guru lebih banyak dikemas dalam semangat pengabdian. Hal ini tentu tidak salah tetapi untuk jaman sekarang, sekolah katholik perlu memikirkan keseimbangan antara hak dan kewajiban.

V. Catatan akhir

Sebagai akhir dari catatan ini, saya menaruh respek terhadap tenaga pendidik yang selama ini telah berkorban untuk mempertahankan ciri khas kekatholikan. saya juga saya mengajak para pelaku pendidikan, marilah kita bahu-membahu untuk terus menigkatkan mutu pendidikan katholik, jika bukan kita, siapa lagi? kalau bukan sekarang kapan lagi?

 Kemajuan hanya bisa dicapai bila ada kerja sama yang baik dari pelaku pendidikan teristimewa tripusat pendidikan yakni, siswa, guru dan orang tua. Hanya dengan kerja sama yang baik, kita akan mencapai kemajuan. Sekolah katholik harus memiliki keyakinan kuat bahwa Ia tidak berjalan sendirian, iman katholik itulah yang menjadi tumpuan dan harapan untuk bergerak maju.

Sumber : kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *