Mendidik Panca Indra

OPINI

oleh : Marendra Agung J.W

Pada ranah pendidikan formal, dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia,  karya puisi kerap kali menjadi muatan pelajaran  menarik bagi siswa-siswa. Puisi begitu lembut, karena tidak seperti matematika, yang tidak menyediakan ruang untuk segala bentuk kemungkinan makna. Puisi mampu masuk ke dalam ranah logika, estetika dan etika sekaligus. Untuk itu, begitu asyik apabila menikmati puisi dalam ketiga unsur tadi.

Kalau tidak salah, penyair  Sapardi Djoko Damono  pernah menyampaikan bahwa sastra bukanlah mata pelajaran atau fakultas. Lebih dari itu sastra adalah seni berbahasa, semacam taktik menyampaikan pesan. Menarinya  lagi, pesan dalam karya itu sendiri dapat begitu elastis. Hal ini dikuatkan dengan banyak pemikiran para ahli sastra   seperti tentang interpetasi, semiotik, reseptif, konotasi, dan lain sebagainya.

Maka, bolehlah sesekali kita iseng-iseng mengapresiasikan karya sastra dengan menikmati makna pesan, yang liar, muncul bergitu saja di benak kita. Pada kesempatan ini saya akan mulai dengan karya sastra lama, yaitu Gurindam 12 pasal 3 karya Raja Ali Haji. Terkesan usang memang, tapi sepertinya “makna” tidak akan pernah usang dalam zaman yang masih kurang lebih sama.  Zaman yang sama-sama didominasi oleh manusia.

Raja Ali Aji .Gurindam 12 Nomor Tiga.

Apabila terpelihara mata,

Sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping,

Khabar yang jahat tiadaiah damping.

Apabila terpelihara lidah,

Niscaya dapat daripadanya paedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,

Daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh,

Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.

Anggota tengah hendaklah ingat,

Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki,

Daripada berjalan yang membawa rugi.

(Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/gurindam-dua-belas/)

Puncak kehebatan peran manusia sering kali diyakini sebagai pemimpin dunia. Pada umumnya, kita menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang berhak mengelola, memelihara, dan memimpin kehidupan di bumi ini ketimbang hewan, tumbuhan, dan lain-lain. Kendati demikian, jauh sebelum kita menjadi pemimpin pihak lain, rupanya apa yang ada pada diri kita juga perlu kuasa kuat dalam arti “dimpimpin” sebagaimana yang dapat kita maknai dari gurindam 12 nomor 3 ini.

Syair gurindam 12 nomor 3 dari Raja Ali Aji mengingatkan kembali tentang tiga hal yang perlu dilatih terlebih dahulu sebelum kita memimpin yang di luar diri kita. Raja Ali Aji menyebutkan  “mata, kuping, dan lidah”. Tiga indra tersebut dapat dikatakan sebagai  pokok penggerak dari aktivitas kognitif manusia yakni  membaca, menyimak atau memahami, dan berbicara. Boleh jadi ini dapat kita jadika formula untuk mendidikan anak atau siswa.

Mata

 Kini,  kita hidup dalam basis pengetahuan yang begitu ajaib. Akses informasi begitu mudah. Internet tak harus kita datangi ke warung internet. Gawai di tangan merupakan pintu berselancar menyelami informasi.  Kita akan menemukan informasi atau bahkan didatangi informasi. Pengetahun dasar mengenai bagaimana fakta, bagaimana opini, seperti apa iklan, seperti apa kritik, sepertinya hal mendasar yang harus dipegang. Dalam konteks ini,  mata yang menerima informasi, pengetahuan, data, dan lain sebagainya ini perlu sahabat untuk mengolah, mengevaluasi dan menganalisisnya.

Telinga

Telinga sepertinya simbol paling relevan untuk makna konfirmasi. Dua kombinasi mata dan telinga ini dapat membangun kognisi manusia secara intelektual. Guru atau orang tua, mungkin dapat kita letakan pada fungsi “telinga” bagi para siswa atau pembelajaran secara umum. Ketika siswa datang ke sekolah dengan penuh informasi, para guru atau pendidik mampu mendorong siswa untuk menguraikan mana informasi yang baik bagi perkembangan dirinya.

Lidah

Ketika mata dan telinga mampu bekerja sama  memelihara  banyaknya informasi, hal-hal seperti berita-berita penuh api, hoax, dan memancing kebencian akan padam di dalam otak. Pada kondisi inilah “lidah” sudah boleh digunakan.  Pada konteks ini lidah adalah pelantang suara yang besar, sebagaimana medsos.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *