Cerita Ketegaran Para Orang Tua yang Merawat Anak Berkebutuhan Khusus

Pendidikan Usia Dini

MAHESA Mardiansyah Muhammad lagi-lagi dikeluarkan dari sekolah. Sang ibunda, Yenni Darmawanti, begitu hancur dibuatnya. Anak sulungnya yang mempunyai autism spectrum disorder (ASD) itu sulit sekali mendapatkan ijazah taman kanak-kanak (TK).

Awalnya Mahesa dikeluarkan dari taman pendidikan anak usia dini (PAUD) ketika berusia 3,5 tahun. Padahal, sudah setahun dia aktif di PAUD tersebut.

Yenni merasa, di PAUD itu, banyak wali murid yang melihat Mahesa sebagai anak yang aneh dan bermasalah.

Kemudian, Mahesa dipindahkan ke sekolah luar biasa (SLB). Di sana, Mahesa berkembang dengan baik dan belajar toilet training dengan cepat. Namun, dia hanya bertahan enam bulan. Sifat autismenya itu membuat Mahesa meniru orang-orang di sekitarnya. ’’Dia jadi meniru teman-temannya yang suka membenturkan kepala dan berteriak-teriak,” ucap Yenni, Rabu (20/1).

Mahesa pun pindah ke sebuah TK. Namun, untuk masuk TK itu, dia harus mengulang di playgroup (PG). Yenni menerima syarat itu karena sadar anaknya memiliki autisme. Tidak seperti anak-anak pada umumnya. Namun, ketika akan mengambil rapor dan hendak memasukkan Mahesa ke TK, pihak sekolah menolak memberikan evaluasi nilai. Mahesa disebut tidak mencapai perkembangan yang sesuai untuk dapat mengikuti aktivitas di TK.

Dengan hati yang gundah, Yenni lagi-lagi terpaksa memindahkan Mahesa. Kali ini ke TK inklusi yang dapat menampung anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun, ketika tes IQ, Mahesa mendapatkan hasil tes 78. Angka tersebut rendah sehingga Mahesa masuk kategori borderline. Psikolog yang melakukan tes IQ pun menyarankan kepada kepala sekolah agar mengeluarkan Mahesa dari TK itu. Sebab, perilaku Mahesa dinilai bisa memberikan efek buruk pada anak-anak lainnya.

Kisah keluar masuk sekolah itu terjadi bertahun-tahun lalu. Mahesa kini sudah berusia 9 tahun dan mengenyam pendidikan tingkat sekolah dasar (SD). Masalah Yenni juga bertambah ketika suaminya, Yan Mardiansyah, sakit psoriasis. Yan tak bisa bekerja selama setahun. Saat itu Mahesa sudah mempunyai dua adik, Ganesha Mardiansyah Ibrahim dan Mahadana Nur Mardiansyah.

Saat Yan sakit, ketiga putra mereka menderita skabies. Keadaan ekonomi pun memburuk. Saat itu Yenni terpaksa meminjam uang ke kas RW di tempat tinggalnya di sebuah kompleks perumahan di Sidoarjo. Uang tersebut dipinjamnya dengan bunga yang besar. Tetangga-tetangganya tampak tidak memberikan dukungan maupun empati pada musibah yang dialaminya. Yenni merasa keadaan Mahesa dan putra bungsunya, Dana, yang mempunyai down syndrome, menjadi bahan cibiran warga.

Hal-hal itulah yang membuat Yenni berusaha bangkit. Saat itu Yenni sudah bergabung dengan sebuah komunitas untuk para orang tua yang memiliki anak dengan down syndrome. Namun, karena putra sulungnya, Mahesa, mengalami autisme, Yenni tak bisa mengajaknya turut serta ke komunitas itu.

Yenni pun bertemu dengan Susilo Bhakti Kusumaningtyas, teman lamanya. Susi yang juga mempunyai keponakan ABK lantas ingin tahu lebih banyak mengenai ABK. Susi pun mengajak suaminya, Eko Suryo, mendirikan komunitas bersama Yenni.

Komunitas tersebut membawahkan ABK dengan berbagai keistimewaan. Ada tunanetra, cerebral palsy, autisme, dan lain-lain. Komunitas tersebut diberi nama Ananda Mutiara Indonesia (AMI) yang kini sudah berstatus yayasan. Yayasan itu sudah tersebar di beberapa kota. Antara lain, Sidoarjo, Probolinggo, Ponorogo, Malang, Blitar, dan Pasuruan. Yayasan tersebut sudah membantu sekitar 300 ABK dan orang tuanya.

Perempuan 41 tahun itu mengungkapkan, tidak mudah menjadi orang tua ABK. Selain dikucilkan lingkungan dan kesulitan mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang memadai, Yenni pernah mengalami guncangan mental. Dia terus menangis, meratap, mengapa Tuhan memberikan cobaan yang seberat gunung. Cobaan makin bertambah saat dia sendiri diajak bunuh diri sekeluarga oleh sang suami. Semakin nyata dia merasakan bahwa mengasuh dua anak ABK tidaklah mudah.

Namun, seiring usaha penerimaan diri dan suami yang juga berusaha mengubah cara berpikir, niat itu urung dilakukan. Keduanya kini menganggap ABK adalah tiket bagi orang tua menuju surga. Ujian yang dialami orang tua ABK akan diganjar dengan sesuatu yang manis. Kalau tidak di dunia, di akhirat sudahlah pasti.

Semangat itulah yang dia tularkan kepada para orang tua ABK. Bersama para orang tua lainnya, Yenni memberikan dukungan sosial agar para orang tua lebih kuat menghadapi ujian nasib yang seperti roller coaster. Aktivitas lain seperti pemeriksaan kesehatan gratis dan latihan terapi di rumah juga dilakukan Yenni bersama orang-orang lain yang menaruh kepedulian pada ABK.

Dia juga rutin membagi-bagikan bantuan berupa susu, obat-obatan, makanan, alat gendongan bayi, dan lain-lain kepada para orang tua. Bantuan itu diberikan lantaran tidak semua orang tua ABK hidup dalam keadaan yang berkecukupan. ’’Biaya hidup ABK itu lima kali lebih mahal daripada anak-anak pada umumnya. Makanan, obat-obatan, dan terapi kesehatan untuk mereka itu mahal,” ujar Yenni.

Mantan pegawai asuransi tersebut juga mendorong para orang tua untuk menjadi sosok setegar batu karang, yang tak mudah terkikis terjangan ombak. Orang tua yang tegar akan mampu membina ABK dengan baik dan menjaga keutuhan keluarganya. ’’Banyak pasangan yang berpisah ketika tahu anaknya ’’istimewa’’. Mereka lari dari tanggung jawab dan biasanya menyalahkan ibu. ’’Nah, ibu harus kuat mental, ayah pun jangan hanya mencari uang. Harus sama-sama berusaha dan saling support,” katanya.

Deny Wijayanti, salah seorang relawan psychosocial support untuk Yayasan AMI, mengungkapkan, para orang tua ABK memang mempunyai beban ekstra. Banyak di antara mereka yang tidak mendapatkan dukungan dari pasangan, keluarga besar, tetangga, dan lingkungan pekerjaan.

Hal itu membuat kondisi psikis orang tua rentan. Belum lagi jika ada masalah ekonomi. Banyak juga orang tua ABK yang ingin menyerah dan mengakhiri hidup akibat masalah keluarga yang kompleks.

Deny pun sering mengadakan sesi curhat bagi para orang tua ABK. Melalui sesi tersebut, para orang tua ABK diharapkan mendapatkan ’’keluarga baru’’. ’’Ini membuat mereka merasa tidak sendirian ketika menghadapi ujian. Kita bisa menghadapi ini bersama-sama dan saling menguatkan,” tuturnya.

Sumber : jawapos.com  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *