Rahasia Sistem Pendidikan Singapura Maju!

OPINI

Oleh : Tama

Mendengar kata Singapura, pasti kita terbayang gedung-gedung modern, bersih, rapi suasana negara maju. Kemajuan negara tetangga Singapura tidak hanya terletak pada sisi ekonomi saja, akan tetapi juga pada sistem pendidikan mereka yang sudah berhasil. Tahu kah kalian jika dua dari universitas di Singapura masuk kedalam top 15 universtitas terbaik di dunia, yaitu National University of Singapure (NUS) diurutan ke 11 dan Nanyang Technological University, Singapore (NTU) pada urutan ke 13 terbaik di dunia tahun 2020 [1].

Singapura juga tergolong jejeran negara dengan sistem pendidikan yang berhasil, hal ini dilihat dari hasil Programme for Internasional Student Assesment(PISA) yang diumumkan pada tahun 2019 silam di Paris. Untuk negara Asia, Singapura berada diposisi ke dua setelah China, di susul Malaysia diurutan ke 56, Indonesia diurutan 72[2]. Penilaian PISA diadakan tiga tahun sekali untuk mengukur pemahaman siswa dengan melihat penilaian pada poin literasi, matematika dan sains.

Menurut Harry Fletcher-Wood dalam artikelnya di improvingteaching.co.id[3], tidak ada rahasia khusus dalam sistem pendidikan di Singapura. Apa yang diterapkan oleh pemerintah Singapura sebenarnya  juga sudah dilakukan oleh beberapa negara maju termasuk di Inggris, tempat Harry Fletcher-Wood berasal. Contoh yang disebutkan oleh Harry adalah tentang pelatihan guru, program pelatihan disana memang baik, tapi hasil pengamatan Harry, tetap ada case dimana tutor terlalu sibuk untuk hadir dalam pelatihan sehingga proses pelaksanaannya pun terkadang ada yang tidak optimal.

Apa yang menjadikan pendidikan di Singapura berbeda menurut Harry, mereka menerapkan sebuah sistem desentralisasi terpusat, ada arahan apa yang hendak dicapai, dan sekolah diberikan kebebasan mencari jalan terbaik untuk mencapainya. Semua elemen di dalam sistem tersebut terhubung dan saling mendukung satu sama lain. Contoh pada sistem pembelajaran meraka yang menarik, untuk dapat mengajar disana harus melewati tahap seleksi yang sangat ketat dan selektif, kemudian dari seleksi tadi dipilih orang-orang pilihan yang terbaik, meski sudah mendapat SDM terbaik tetap mereka yang sudah dipilih kemudian diberi pelatihan dan pengembangan diri yang profesional. Pelatihan dan pengembangan diri yang disesuaikan dengan standar-standar tujuan yang ingin dicapai sehingga semakin menghasilkan guru yang baik dan efektif.

Orang-orang ini juga yang kemudian di masa depan, dipersiapkan untuk ditempatkan pada posisi staf kementerian pendidikan, institusi pendidikan nasional, dan akademi guru di Singapura. Setelah mereka terpilih dan sudah masuk dalam posisi dimana mereka terpilih, orang-orang ini juga yang kemudian akan mendisain kurikulum yang baik dan dukungan efektif apa yang dibutuhkan guru-guru kedepannya. Proses ini membentuk sebuah siklus berkelanjutan yang baik, dukungan untuk membentuk guru yang baik, kepemimpinan yang baik, melatih dan mempertahankan guru-guru yang terbaik. Atau jika boleh penulis katakan, mereka menempatkan orang-orang yang memang berkompeten pada bidangnya masing-masing.

Kemudian terlintas di pikiran, Singapura kan negaranya kecil dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak, ya pasti tergolong mudahlah untuk diatur. Untuk masalah ini dalam tulisannya Fletcher menerima pernyataan dari narasumbernya bahwa luas wilayah menurut narasumbernya mempengaruhi efektifitas mengajar, contoh untuk ketetepatan waktu para guru hadir di kelas, dan untuk jaringan pengajar mereka banyak saling kenal satu sama lain. Meskipun luas wilayah dan jumlah penduduk mungkin bisa mempengaruhi, akan tetapi konsistensi dan pengontrolan pemerintah dalam menerapkan sistem sangat luar biasa hebat, ada upaya dan kerja keras disana yang negara-negara kecil lainnya belum bisa capai seperti Singapura saat ini. Singapura memiliki sebuah sistem pendidikan yang saling terintegrasi, terhubung bersama untuk berkembang dan penerapan perencanaan sistem yang berkelanjutan.

Dukungan sistem yang baik ini tidak hanya datang dari dukungan pemerintahan saja, akan tetapi ada peran masyarakat yang membuat sistem semakin kuat dan efektif. Contoh adanya dukungan orang tua terhadap pendidikan anak-anak mereka. 70% orang tua di Singapura memberikan kelas tambahan diluar kelas sekolah kepada anak mereka, toko buku menyediakan hampir setengah dari tokoh adalah buku-buku bahan pelajaran[4].  Di Singapura juga tidak menerapkan istilah “Talent Myth” atau anak yang pintar dari sananya, semua anak sama, tidak ada nilai ranking atau anak-anak top di kelas. Jadi budaya kita yang bilang “lihat itu, anak tetangga selalu ranking 1 di kelas” itu mungkin tidak terlalu dipakai ya disana, mungkin saja. Dan memang benar, menghilangkan sistem ranking dikelas bisa menurunkan tingkat stress pada siswa.

Upaya yang dilakukan pemerintah Singapura sangat serius dalam mengontrol kualitas pendidikan, ditambah budaya masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan, semakin mendukung dalam membentuk sistem pendidikan mereka yang baik. Jika kita membandingkan dengan sistem pendidikan kita, memang harus diakui bahwa banyak pekerjaan rumah yang harus diperbaiki oleh pemerintah, tidak mudah memang, dengan jumlah penduduk dan luas wilayah yang besar pasti akan memberikan tantangan besar bagi pemerintah.

 Apapun itu keadaan kita sekarang, kita patut bersyukur karena kita, penulis ataupun pembaca sekalian masih jauh lebih baik dibanding dengan saudara-saudara kita di luar sana yang mungkin masih kurang beruntung dalam hal pendidikan. Oleh karena itu disini penulis ingin mengajak kepada pembaca dan termasuk penulis sendiri untuk terus tidak berhenti belajar. Mungkin saat ini kita memang berasal dari negara dengan sistem pendidikan yang bukan terbaik, tapi kita adalah negara dengan masyarakat yang siap bersaing untuk perubahan yang lebih baik.

Sumber : kompasiana.com  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *