Baikkah Gagdet bagi Anak

OPINI

Oleh : Andi Gunawan

Sudah lama para pelajar menjalankan kegiatan sekolah daring disebabkan covid 19 yang berlangsung lebih dari 10 bulan yang memaksa para pendidik untuk mengubah pola pembelajaran dan mengganti atau merubah metode pembelajaran untuk beradaptasi terhadap situasi saat ini.kegiatan pembelajaran tatap muka pun dilarang untuk meminimalisir penularan covid 19 . Tidak bisa dipungkiri metode pembelajaran ini tidak adanya kendala, banyak yang keberatan pada metode ini sebab baik pihak pengajar ataupun pelajar dan orangtua masih kurang siap beradaptasi untuk keadaan yang sangat tiba-tiba ini.

Gadget sebagai media alternatif pembelajaran via online menjadi sebuah kendala dalam pembelajaran via daring sebab masih banyak para orangtua yang belum sanggup membeli smartphone dan belum juga masalah kebutuhan primer smartphone seperti kuota. Adapun potensi bahaya apabila penggunaan gadget atau smartphone tidak terkendali yang sekarang ini Kian Tengah mengancam masa depan anak-anak kita . Hal ini disebabkan kurangnya literasi digital dari pelajar baik dari orang tua ataupun anak. Penyalahgunaan gadget Bagi kalangan pelajar merupakan keresahan yang paling banyak dikeluhkan oleh orang tua. Candu  akan gadget menjadi keresahan salah satunya terutama bagi anak yang memasuki umur kemasan yang seharusnya mengekspor atau belajar akan lingkungan sekitarnya untuk memenuhi  perkembangan sang anak . Tetapi malah terdiam dan terus meratapi screen smartphone yang menghambat perkembangan anak.

Berdasarkan penelitian Richard Balding, seorang psikolog di Department of Psychology University of Worcester, salah satu gadget yakni ponsel cerdas atau smartphone makin sering digunakan untuk membantu orang tetap bersentuhan dengan berbagai aspek kehidupan mereka. Dan sebenarnya, kecanduan tersebut malah menimbulkan stress. Kecanduan gadget ini berdampak pada kesehatan mata.

Jika diperhatikan seksama gadget terutama smartphone akan selalu dibawa kemanapun pengguna bepergian walaupun di rumah sekalipun jika di ruang keluarga saat makan bahkan saat sebelum tidur pengguna masih tetap menatap screen smartphone bahkan Kalau berpergian keluar pun Smartphone tidak akan absen pada barang bawaan yang wajib dibawa kalau pun tertinggal di rumah kali pun pasti akan rela kembali untuk membawanya itu salah satu ciri sikap kita bahwa kita sudah tercantum dalam emosional kita akan sangat terganggu jelas barangnya biasanya ada dan tidak luput dari pandangan hilang Tidak tampak.

Beberapa dampak buruk lainnya yang dikhawatirkan terjadi pada anak atau pengguna smartphone yang mengalami ketergantungan gadget.

1. Anak-anak memilih teman yang bersifat Maya daripada nyata

Fenomena ini yang sangat sering membuat cemas para orang tua apabila sang anak tidak memiliki teman sebayanya, dikhawatirkan jika terus-menerus bermain smartphone anak mengalami kemunduran dalam berpikir , mengambil keputusan, dan buruknya berkomunikasi kekurangan dalam pengucapan kata.  Kekurangan itu akan menjadi kekurangan bagi dirinya yang mengakibatkan rasa rendah diri pada saat memasuki jenjang pendidikan formal anak akan memasuki sebuah lingkungan . Masyarakat , anak diharuskan berkomunikasi dengan teman sekolahkan bila tidak akan dicap sebagai penyendiri . Penyendiri sangat rentang terhadap diskriminasi dari temannya bahkan menjadi sasaran empuk menjadi korban pembullyan . Biasanya sangat remaja rentan terhadap yang namanya trauma jika anak mengalami terus-menerus tindak pembullyan tidak bisa dipungkiri anak akan memilih mengurung dirinya di tempat yang dianggapnya aman berkat kecanggihan teknologi masa kini yang melahirkan inovasi-inovasi terhadap gaya hidup bisa lihat seperti media sosial media sosial ini yang akan menjadi sasaran pelampiasan terhadap korban untuk mengobati stresnya yang terus berdatangan yang anggap media sosial itu sebagai program pemindahan kehidupan yang mana kita dapat rekayasa latar belakang membuat karakter baru kayaknya di game itu semua menjadi Domino yang paling dicemaskan oleh orang tua.

2. Melakukan kegiatan yang tidak pantas di media sosial

Orang tua khawatir jika anak melihat hal-hal yang tidak seharusnya ketika mereka berselancar di dunia maya. Ada kemudahan yang didapat pada gadget menjadi jual utama seperti layanan media sosial ataupun mesin pencari Google yang kerap kita andalkan kalau ada manfaat gadget bagi keseharian tapi tak luput dari bahaya yang ditimbulkannya salah satunya dari konten visual yaitu ancaman pornografi ancaman itu sendiri disebabkan penyalahgunaan penggunanya sendiri.

Berkurangnya konsentrasi anak pada pelajaran mengakibatkan kemunduran yang disebabkan dari konten-konten yang tidak senonoh yang berbau pornografi menjadikan isi kepala anak tercemar lebih dari itu saya rasa ingin tahu anak pada apa yang ia tonton mengakibatkan hasrat akan seksual meningkat dan meniru adegan tersebut yang tertanam kuat dalam diri mereka sudah tidak heran kan lagi jika saat ini kita sering menerima kabar bahwa tentang tindak pornoaksi di kalangan siswa SD maupun SMP walaupun pemeran yang masih satu keluarga Adapun mastrubasi seakan menjadi keseharian hidup mereka dan parahnya lagi di bawah kebiasaan itu sampai mereka beranjak dewasa.

3. Anak menjadi temperamental

Dampak buruk selanjutnya pada anak yang terpapar gadget berlebihan adalah anak menjadi lebih temperamental perubahan sikap ini akan terus memburuk seiring dengan meningkatnya waktu  berinteraksi dengan gadget berjam-jam.Seringkali anak yang berinteraksi dengan pemakaian gadget yang terlalu lama akan mengalami tantrum, atau bentuk umum dari agresivitas pada anak, terutama anak balita.

Jika anak-anak sudah tumbuh dewasa anak yang kecanduan gadget akan lebih besar berkemungkinan untuk tidak mematuhi suruhan orang tua.

4. Rusaknya penglihatan

Pada masa parlementer kita diharuskan sesuai stay home,sekolah pun di rumah kan karena dilarang  kegiatan tatap muka dengan yang mengajar , para murid mengambil alternatif dalam pembelajaran dengan memakai mesin pencarianan. Bagi mahasiswa seringkali membaca buku elektronik daripada buku konvensional dan membaca di situs-situs jadi tidak ada alasan lagi tidak ada literasi. Mata akan cepat lelah apabila terus-terusan melihat pada jarak yang konstan dan dipercepat karena paparan Secret gadget atau smartphone dan diperburuk dengan jarak yang relatif lebih dekat daripada buku hingga mata menjadi lebih cepat lelah,disarankan mengubah ukuran font menjadi lebih besar pada smartphone dan mengatur jarak baca kira-kira kurang lebih 35 cm dari mata dapat membantu mengurangi gejala mata lelah.

Dari keseluruhan dampaknya smartphone atau gadget sebenarnya dapat kita hindari dengan berkegiatan positif dan memulai dari kita sendiri sadar bahwa kita adalah makhluk sosial walaupun saat pandemi ini kita harus Social distancing tetapi tidak membatasi untuk silaturahmi. Sebagaimana nya tugas orang tua dapat mengawasi dan mengontrol kegiatan keseharian anak.  Kalau membiarkannya akan membahayakan anak karena tidak ada navigasi dari orang tua. Saat kondisi ini orang tua dituntuk untuk memerankan karakter teman bagi anak, menjadi tempat berkeluhkesahnya bisa mendapat kesulitan . Sekiranya orang tua belajar literasi digital sebagai bekal untuk menjadi teman belajarnya anak dan menambah kenyamanan anak.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *