Kader LPM di Pamekasan Antusias Ikuti Kegiatan Follow Up Kepenulisan

OPINI

Oleh : Nurus Solehen (Jemaah Kompasianer Bermukim di Pulau Garam)

Kader ‘LPM Semesta’ di kampus Universitas Madura, Pamekasan, cukup antusias mengikuti kegiatan follow up kepenulisan yang digelar di sekitar halaman Stadion SGMRP Pamekasan di Desa Ceguk, Kecamatan Tlanakan, Minggu (24/1).

Sedikitnya ada sekitar 30 kader anggota dan kepengurusan bersatu dalam forum diskusi tersebut. Mereka saling tukar pendapat seputar kepenulisan. Sebab beberapa hari sebelumnya, kader baru LPM tersebut sudah mengikuti kegiatan Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar (DJTD).

Pimpinan Umum LPM Semesta Yeyen Dwi Septiyani mengatakan, acara follow up merupakan kegiatan akhir DJTD. Berharap setelahnya, semua kader baru LPM ini dapat mengaplikasikan kemampuan menulisnya di dunia kampus.

Menurutnya, materi follow up tersebut di meliputi pengantar dan prinsip jurnalistik, reportase, ansos dan reksos, dan editing karya dan desainer.

“Pengurus akan terbuka kepada seluruh kader mengenai kejurnalistikan. Nanti kader akan dibimbing langsung dalam kegiatan reportase dan dalam membuat berita,” kata Yeyen.

Pembuatan berita tersebut, sambung dia, tentu adalah informasi-informasi seputar kampus. Seperti kegiatan UKM dan UKK, mahasiswa berprestasi, karir dosen, dan seputar informasi di bawah jajaran fakultas dan universitas.

Sementara itu, Nurus Solehen pemateri Follow Up mengapresiasi ide kader LPM untuk menghidupkan informasi publik kampus. Sebab sejatinya Pers Mahasiswa (Persma) adalah kontrol publik untuk kampus.

“Sebagai persma tentu harus mengikuti kaidah kejurnalistikan. Kritis dalam mengontrol, tidak takut dikecam dan diancam, misalkan ada pihak yang mau mengintervensi tugas kita,” kata eks Jurnalis Kabar Madura tersebut.

Nurus mengungkapkan, jadi kader persma merupakan impian baik mahasiswa. Sebab tidak semua mahasiswa memiliki keterampilan menulis. Di LPM semua dapat dipelajari. Baik dalam menulis fiksi maupun nonfiksi.”

“Mengabdi di LPM mudah, tidak seperti organisasi lain. Cukup menghidupkan organisasi dengan karya itu sudah lebih dari cukup,” tandasnya.

Sumber :  kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *