Negara Maju Dimulai dari Pendidikan yang Berkualitas

OPINI

Oleh : Rifqi Andika Daniswara

Pada tahun ini yang terus membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus melakukan evaluasi terus menerus dalam melakukan penyesuaian sistem belajar maupun mengajar, agar tidak terjadinya pembebanan dari pihak guru maupun siswa/mahasiswa.

Walaupun Pada Kenyataannya rata-rata anak di Indonesia mengalami tingkatan stres yang lebih tinggi sebelum adanya kegiatan belajar mengajar secara Online , sebagai contoh pendidikan tingkat SD, SMP, dan SMA kegiatan belajar mengajar di mulai pukul tujuh pagi hingga pukul tiga sore dari hari Senin hingga Jumat.

Sesuai Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2020 tentang pencegahan Covid-19 di lingkungan kemendikbud serta Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada satuan pendidikan bahwasanya Nadiem Anwar Makarim berkata pada media massa “Kami mendorong para guru untuk tidak menyelesaikan semua materi dalam kurikulum, yang paling penting adalah mahasiswa  dan siswa masih terlibat dalam pembelajaran yang relevan seperti keterampilan hidup, kesehatan, dan empati”, namun di lapangan kegiatan belajar dan mengajar lebih memusatkan kepada penyelesaian materi dan kurangnya praktik langsung untuk menunjang kegiatan keterampilan dikarenakan akses untuk itu di batasi dengan sistem Online.

Pada awal tahun 2020 mulai bermunculan kebijakan-kebijakan untuk menghindari penyebaran Covid-19, seperti contohnya pembatalannya kegiatan Ujian Nasional pada bulan April, kegiatan belajar mengajar jarak jauh atau Online, dan ujian sekolah di lakukan secara Online pula.

Nadim juga menegaskan untuk proses di ambilnya keputusan dan di mulainya pembelajaran tatap muka atau luring bagi satuan pendidikan di kota maupun kabupaten  dalam syarat berada di zona hijau, namun kebijakan ini bertentangan langsung dengan di bukanya kegiatan perekonomian seperti contohnya mal yang terus di buka dengan syarat menjalin protokol kesehatan, tapi mengapa tidak di terapkan di sektor pendidikan karena tongkat dari suatu negara merupakan pendidikan.

Karena itu, pemerintah bukan hanya berfokus kepada bagian kesehatan dan ekonomi saja, tetapi juga harus fokus kepada pendidikan yang bagaimana sistem-sistem di dalamnya bukan sekedar sekolah atau kuliah daring yang membagikan materi – materi secara monoton yang tidak membuat mahasiswa maupun siswa kurang berkembang.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus berperan memberikan sistem terbaru yang bisa memberikan wawasan walaupun pendidikan daring tetapi bisa memberikan ilmu secara langsung, bukan hanya materi tetapi keterampilan dan moral agar siswa maupun mahasiswa bukan hanya memunculkan kreativitas tetapi sopan santun yang dulunya di berikan terus-menerus di sekolah maupun di perkuliahan.

Selanjutnya, peran guru dan dosen untuk memberikan bimbingan secara materi, moral, dan keterampilan dengan gaya baru untuk menyesuaikan di masa sulit ini yang merupakan hal yang tak terduga oleh karena munculnya pandemi virus covid-19. Dengan itu di perlukan respons yang cepat untuk para pembimbing generasi sekarang.

Hal-hal yang harus di lakukan mempunyai banyak kerangka – kerangka yaitu pertama harus terus melakukan evaluasi cara mendidik agar memunculkan suatu sistem yang pas untuk masa yang sulit ini, kedua untuk para pendidik terus melakukan pendekatan untuk memperkuat generasi-generasi baru agar tidak monoton dan terus berkembang, ketiga peran dari siswa dan mahasiswa untuk terus memberikan kritik maupun saran kepada para pendidik agar saling mempererat antar siswa maupun pendidiknya.

Dengan  memungkinkan terjadinya sistem yang membuat semakin kokoh pendidikan yang membuat generasi masa kini membangun negeri Indonesia ini semakin maju dan terpandang, bukan hanya di kenal karena budaya tetapi pendidikan yang bermutu tinggi serta berkualitas.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *