Ngapain Juga Kuliah S3?

OPINI

Oleh : Asep Totoh Widjaya (Guru SMK Bakti Nusantara 666)

IMPIAN dan Cita-cita tertinggi semua orang untuk bisa sekolah ke jenjang pendidikan formal paling tinggi saat ini yaitu S3, atau doktoral. Untuk meraih gelarnya bisa doktor jika dari dalam negeri, bisa pula PhD (philosophy of doctor) jika lulusan luar negeri. Dan Gelar doktor lain masih banyak, tergantung universitas dan jurusan yang diikuti.

Diluar pendidikan formal, adalah gelar kehormatan doktor honoris causa sebagai pemberian perguruan tinggi kepada tokoh yang mumpuni di bidang tertentu. Maka kita sering menemukan penulisan nama seseorang dengan gelar DR dan Dr, tentunya ini adalah penghormatan bagi seseorang untuk mempertanggung jawabkan gelar tersebut.

Dalam buku Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD), penulisan gelar secara intens disinggung, bahkan disertai beberapa contoh penulisan yang benar. Gelar DR menyatakan gelar kehormatan doktor honoris causa. Gelar tersebut diberikan perguruan tinggi kepada tokoh yang mumpuni di bidang tertentu.

Sementara itu, gelar Dr ialah singkatan dari doktor. Gelar ini adalah gelar kesarjanaan tertinggi yang diberikan perguruan tinggi kepada seorang sarjana yang telah menulis dan mempertahankan disertasinya. Ini merujuk pada gelar kesarjanaan yang sudah ditempuh seseorang, yakni strata tiga (S-3).

Tak kalah menarik adalah muncul pertanyaan adalah "susah payah sekolah S3 untuk apa ?"

Ya, itulah pertanyaan yang sering muncul karena menyelesaikan studi s3 memang tidak mudah. Dengan tugas jurnal, makalah, penterjemahan, proposal yang berjenjang dari pengajuan judul, pra kualifikasi, kualifikasi, proposal, presentasi alat ukur, mencari data, presentasi hasil, sampai tahap akhir ujian tertutup dan ujian terbuka. Tampak kasat mata sepertinya urut dan mudah. Namun di balik itu, revisi berbolak balik revisi, akan membuat mahasiswa menjadi merasa bodoh, tak berdaya dan akhirnya menyerah.

Ada banyak kisah mahasiswa dalam menyelesaikan studinya, ada yang mengundurkan diri dari perguruan tinggi lain karena masa studi melampaui standar, lantas mengikuti perkuliahan doktoral lagi di tempat lain. Ada yang bisa menyelesaikan di tempat lain, ada ada juga yang sampai detik akhir masa studi deadline, hampir habis, ternyata tugas-tugas tidak terselesaikan. Maka gugur lagi studinya, artinya dua kali menjalani program studi doktor dan gagal meraih gelar tersebut. Jadi, lebih dari 10 tahun menjadi sia-sia dan terbuang percuma semua pengorbanan.

Jadi mengapa kita harus kuliah sampai S3 atau doktor, bagi saya sendiri hidup hanya sekali, masa mau dapat doktor saja tidak bisa. Jika secara fisik dan usia masih ada yang lebih tua, lebih kurang nilai dan prestasi akademis, juga lebih kurang ekonominya dari kita nyatanya bisa doktor.

Dengan profesi sebagai guru honorer di SMK swasta dan dosen tidak tetap di sebuah PTS, Alhamdulillah disaat pandemi covid19 tanggal 23 Desember 2020 saya mampu mempertahankan disertasi ” Strategi Mutu dan Daya Saing Perguruan Tinggi Swasta Dalam Rangka Meningkatkan Keunggulan Bersaing Berkelanjutan (studi di Universitas Berbasis IT di Bandung Jawa Barat)”.

Menjadi sebuah pemahaman dan keyakinan penulis juga menyarikan serta mengutip sambutan Rektor UII, jika menjadi seorang doktor :

Pertama. Bagi saya sebagai seorang muslim, menuntut ilmu adalah wajib hukumnya. Dlam menuntut , ilmu Rasulullah pun bersabada; “Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR Tabrani).

Menjadi sebuah keyakinan jika orang-orang yang mempunyai derajat yang paling tinggi di sisi Allah ialah orang yang beriman dan berilmu. Sebagaimana dalam surat Al Mujadilah ayat 11. Allah Ta’ala berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Kedua. Menjadi doktor adalah nikmat yang harus disyukuri, karena tidak semua yang mengambil dokotr bisa menyelesikannya denga beraneka ragam alasan penyebabnya. Maka tanpa Izin allah dan dukungan semua pihak, untuk menjadi doktor hanya menjadi sesuatu imajinasi.

Dalam penelitian Litalien et al (2015), di Amerika Utara tingkat kegagalan studi doktor diperkirakan mencapai 40-50%. Selanjutnya Johnson et al., (2020) di Australia sebelum pandemi covid19 melanada, sekitar 20% mahasiswa program doktor tidak bisa menyelesikan studinya. Lalu, ketika pandemi melanda banyak mahasiswa menghadapi masalah pendanaan akut. Sebanyak 45% dari 1200 responden memiliki kemungkinan menghentikan studi sampai akhir tahun ini.

Ketiga. Doktor adalah kaum elit di negeri ini. Datanya sebagian besar doktor berafiliasi dengan lembaga pendidikan tinggi. Menurut data mutahir di Pangkalan Data Perguruan Tinggi menunjukkan bahwa dari 296.040 dosen, hanya 42.825 atau 14,46% yang berpendidikan doktor.

Keempat. Doktor sebagai ulul albab dan al-rasikhuna fi al-ilmi. Konsep pertama adalah ulul albab, orang yang akalnya berlapis-lapis (QS Ali Imran: 190-191). Ulul albab secara bahasa berasal dari dua kata: ulu dan al-albab. Ulu berarti ‘yang mempunyai’, sedang al albab mempunyai beragam arti. Kata ulul albab muncul sebanyak 16 kali dalam Alquran. Dalam terjemahan Indonesia, arti yang paling sering digunakan adalah ‘akal’. Karenanya, ulul albab sering diartikan dengan ‘yang mempunyai akal’ atau ‘orang yang berakal’. Al-albab berbentuk jamak dan berasal dari al-lubb. Bentuk jamak ini mengindikasikan bahwa ulul albab adalah orang yang memiliki otak berlapis-lapis alias otak yang tajam.

Ulul albab mempunyai dua misi: berzikir dan berpikir. Berzikir diartikan secara luas, tidak hanya secara vertikal transendental, tetapi juga horizontal sosial. Peduli dengan kondisi bangsa dan negara, juga bisa masuk ke dalam zikir sosial ini. Bukankah zikir berarti ingat dan ingat terkait dengan kepedulian? Orang yang tidak peduli tidak akan ingat dengan realitas yang bahkan ada di sekelilingnya.

Misi berpikir melingkupi dua hal: fenomena alam dan fenomena sosial. Inilah kajian riset, termasuk yang dilakukan secara istikamah oleh para doktor. Riset pada intinya adalah mengungkap “pesan tersembungi Allah” yang terselip di banyak fenomena alam dan sosial. Ilmu yang didapatkan dapat kita anggap sebagai hidayah. Dan hidayah, hanya diberikan kepada yang sungguh-sungguh. Inilah “jihad” dalam arti yang luas (QS Al-Ankabut: 69).

Konsep kedua adalah al-rasikhuna fi al-ilmi, orang-orang yang mendalam ilmunya (QS Ali Imran: 7). Tentu kita akan mudah sepakat kalau doktor adalah orang-orang yang mendalam ilmunya. Saya tidak menjebakkan diri dalam diskusi definisi ilmu di sana.

Yang saya pahami, kedalaman ilmu seharusnya membimbing kepada Sang Pemilik Ilmu. Kedalaman di sini hanyalah perspektif manusia. Dalam pandangan Allah, manusia tidak diberi ilmu kecuali hanya sedikit (QS Al-Isra’: 85), dibandingkan ilmu Allah yang tidak terbatas. Ilmu tersebut tidak habis ditulis jika saja air laut menjadi tinta dan pepohonan menjadi penanya. Bahkan jika dihadirkan sejumlah itu lagi (QS Luqman: 27). Metafora ini sudah cukup memberi gambaran keluasan ilmu Allah dan kekerdilan pengetahuan kita.

Bagian akhir dari tafsir Ibnu Katsir untuk ayat 7 dari Surat Ali Imran mencatat karakteristik para orang yang mendalam ilmunya (al-rasikhuna fi al-ilmi) ini: (1) tawaduk kepada Allah, (2) menghinakan diri di depan Allah untuk mendapatkan ridaNya, (3) tidak berbesar diri terhadap orang yang berada di atasnya, dan (4) tidak merendahkan orang yang berada di bawahnya.

Sehingga konsep ulul albab dan al-rasikhuna fil al-ilmi berfokus kepada nilai esoteris menjadi orang dengan akal berlapis dan mempunyai ilmu yang dalam.

Semoga Allah swt membimbing langkah kita semua, terutama bagi para doktor baru, untuk terus berkiprah, menebar manfaat, dan meninggalkan jejak sebagai “khairunnas anfa uhum linnas”.. Aamiin

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *