Manfaat Pendidikan Kewirausahaan di Sekolah Dasar

OPINI

Oleh : Nurul Aini Maftuhah

Indonesia merupakan negara yang memiliki asset kekayaan alam melimpah, baik kekayaan daratan maupun lautan. Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau yang sudah menjadi identik ciri khas dengan sebutan “Negara Seribu Pulau”.

Selain sebagai negara seribu pulau Indonesia juga dikenal dengan istilah “Paru-Paru Dunia”, karena memiliki beberapa hutan yang rindang akan pepohonan hijau. Maka dari itu kekayaan alam Indonesia sudah tidak diragukan lagi dikalangan negara-negara lain.

Selain kekayaan alam, jumlah penduduk Indonesia semakin hari semakin bertambah. Menjadi negara urutan ke 4 terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dengan penduduk mencapai 267.026.366 jiwa. Dengan bertambahnya penduduk mau tidak mau pasti akan terjadi pengangguran massal. Di mana lahan pekerjaan yang tercipta tidak sinkron dengan banyaknya penduduk yang tinggal. Kekerasan sosial semakin merajalela dengan alasan untuk mencukupi kebutuhan. Tidak hanya orang tua, namun anak kecil juga menjadi incaran untuk diperjualbelikan.

Di sinilah pentingnya bagaimana cara untuk membangun peluang pekerjaan agar mengurangi kekerasan yang terjadi. Salah satunya dengan memberikan pembelajaran pendidikan kewirausahaan kepada peserta didik. Pendidikan kewirausahaan adalah senjata penghancur pengangguran dan kemiskinan, dan menjadi tangga menuju impian setiap masyarakat untuk mandiri secara finansial, memiliki kemampuan membangun kemakmuran individu, sekaligus ikut membangun kesejahteraan masyarakat (Jamal Ma’mur Asmani: 2011).

Pendidikan kewirausahaan mengajarkan penanaman nilai-nilai kewirausahaan yang akan membentuk karakter dan perilaku untuk berwirausaha agar peserta didik dapat mandiri. Pendidikan kewirausahaan juga mampu membekali peserta didik dengan berbagai kompetensi kewirausahaan yang nantinya akan membawa manfaat besar bagi kehidupannya.

Menurut Agus Wibowo, terdapat dua cara untuk menanamkan mental kewirausahaan Pertama, mengintegrasikan pendidikan kewirausahaan ke dalam kurikulum, karakter keilmuan kewirausahaan sebaiknya didesain untuk mengetahui (to know), melakukan (to do), dan menjadi (to be) entrepreneur. Kedua, aktivitas ekstrakurikuler perlu dikemas sistemik dan diarahkan untuk membangun motivasi dan sikap mental wirausaha. Yang perlu diketahui dengan jelas bahwa pendidikan kewirausahaan tidak semata mengajarkan peserta didik untuk pandai berdagang (berbisnis) tetapi lebih kepada penanaman mental wirausaha yang di dalamnya ada semangat pantang menyerah, berani mengambil risiko, pandai melihat peluang, berjiwa kreatif dan penuh inovasi.

Maka dari itu perlu adanya penanaman pendidikan kewirausahaan di setiap jenjang pendidikan. Tidak hanya diberikan kepada peserta didik yang sudah berstatus mahasiswa, namun alangkah baiknya jika sekolah dasar sudah dibekali ilmu kewirausahaan. Seperti yang telah dipaparkan oleh Agus Wibowo pendidikan kewirausahaan di jenjang sekolah dasar bisa diaplikasikan melalui integrasi di beberapa mata pelajaran. 

Anak didik di sekolah dasar di tingkat kelas atas sudah mempunyai penalaran akan terjadinya fenomena di kalangan masyarakat. Setiap dari mereka sudah sering melakukan transaksi jual beli, seperti membeli layang-layang. Saat ini permainan layang-layang menjadi trending di kalangan masyarakat. Layang-layang yang di desain sebagus mungkin untuk diterbangkan dengan indahnya suasana sore.

Banyak pedagang yang memanfaatkan momen ini untuk membuat karya layang-layang dengan seni yang menarik sehingga laku untuk dijual. Harga yang ditawarkan tidak sepadan dengan uang saku anak sekolah. Jika memang dari keluarga yang berada pasti sangatlah mudah untuk membelinya, tapi bagi keluarga yang sederhana butuhlah waktu beberapa hari dengan menabung, atau bahkan hanya bisa menikmati pemandangan tanpa mampu memiliki.

Dari sinilah pendidikan kewirausahaan dapat ditanamkan di sekolah dasar. Pendidikan kewirausahaan dengan materi pembuatan layang-layang. Guru dapat membagi beberapa kelompok dalam satu kelas. Setiap kelompok memiliki ketua yang bertanggung jawab atas segala keperluan dan anggota kelompoknya. Anggota kelompok juga harus bisa bekerja sama satu sama lain sehingga menghasilkan suatu karya seni yang bernilai jual tinggi.

Tidak hanya berdampak pada kesenangan semata, namun juga bisa membantu perkembangan psikologi anak. Mereka diajarkan ilmu kepemimpinan, kerja sama, menghargai, mandiri. Maka dari itu diharapkan dapat menjadi kehidupan bermasyarakat bekal kelak di masa depan. Dan juga bermanfaat bagi kemajuan bangsa Indonesia, seperti yang dikatakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan cita-cita untuk Indonesia menjadi negara maju pada 2045 ini merupakan sesuatu yang bisa dicapai.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *