Gita Savitri Cerita Soal Pendidikan Vokasi di Jerman

Internasional

JAKARTA – Pendidikan vokasi acapkali dipandang sebelah mata, dimana kebanyakan orang tua menginginkan anak-anaknya untuk menempuh pendidikan dengan jurusan yang mengandalkan teori serta ilmu eksak.

Content Creator, Gita Savitri yang saat ini berada di Jerman mengatakan stigma dan prestise memang masih membayangi pendidikan vokasi, khususnya di Indonesia.

“Kalau di Indonesia, waktu saya SMA, mostly anak-anak yang masih SMA selalu ditempatkannya, harus di Universitas yang praktik. Di Jerman setelah primary school, mereka sudah dijuruskan,” katanya pada Webinar Dies Natalis Ditjen Pendidikan Vokasi “Anak Vokasi Jaman Now-Mengenal Vokasi Lebih Dekat” akhir pekan lalu.

Menurut dia, bahkan di Jerman, seorang siswa yang mengambil sekolah vokasi bisa terjun langsung dengan cara belajar melalui wilayah yang diinginkan. Misalnya belajar vokasi di sebuah toko, setelah 2-3 tahun akan ada ujian yang harus ditempuh.

“Yang membuat Vokasi di Jerman bagus karena sinergi pemerintah dengan institusi pendidikannya,” katanya.

Namun dia bangga, saat ini sudah ada Dirjen Pendidikan Vokasi yang bisa mengarahkan dan memberikan fasilitas bagi siswa vokasi. Bahkan sebagaimana yang dia ketahui, dari SMK ada link and match. Dimana ada pelatihan yang berguna bagi siswa tersebut.

“Pelatihan dan guru ada studi banding. Aku optimis anak muda dari awal, dia tahu ingin menjadi apa dan industri apa dia tertarik,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto mengatakan tak hanya sekedar link and match, bahkan harus naik kelas menjadi link and super match. Maksudnya adalah kerjasama antara pendidikan vokasi dan industri tak hanya sebatas MoU belaka.

“Levelnya menikah sampai punya anak. Sehingga link and match ini ada 8 paket mulai dari kurikulum yang sinkron, soft skill karakter bagaimana pengajarannya, guru tamu yang ahli di bidangnya, mengajar minimal 50 jam, dan lainnya,” katanya.

Secara singkat Wikan menjelaskan, setidaknya ada tiga poin penting definisi dari pendidikan vokasi. Pertama pendidikan Vokasi adalah ilmu terapan. Dua, cenderung lebih spesifik, meski wilayahnya tidak sempit.

“Misalnya underwater welding. Atau mungkin voice offer. Content Writer. Lebih spesifik, lebih dalam tapi tak sempit,” katanyanya.

Ketiga, lanjut Wikan, harus relevan atau match, cocok dengan yang dibutuhkan oleh dunia kerja masa kini. Pendidikan Vokasi ini juga identik dengan sebuah perubahan di masa depan.

“Anak vokasi harus mencintai proses belajarnya. Karena harus menghadapi tantangan baru, sehingga siap untuk belajar hal baru,” pungkasnya.

Sumber : cnbcindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *