Kemendikbud Sesalkan Bursa Pemilihan Rektor Kerap Diwarnai Konflik

Dikti

JAKARTA: Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Nizam, menyesalkan konflik yang kerap terjadi dalam bursa pemilihan rektor. Situasi itu mestinya tak terjadi, apalagi berulang.

“Saya tuh sedih setiap ada pemilihan rektor selalu saja ada friksi, konflik, dan sebagainya,” kata Nizam dalam konferensi pers secara daring, Kamis, 28 Januari 2021.

Nizam memahami pasti ada dinamika dalam setiap pemilihan rektor. Namun, kata dia, alangkah eloknya jika semua pihak bersikap dewasa dan mendukung para rektor yang terpilih. Terlebih, rektor terpilih sudah pasti telah melalui proses penjaringan yang kompetitif.

“Yang terpilih dan tidak terpilih itu kan hasil dari pemiilihan akhir. Mestinya dihormati dan didukung,” ujarnya.

Nizam menekankan, kalau pun ada perbedaan pendapat, adalah hal biasa dan tak perlu jadi masalah yang berlarut, apalagi saling menjatuhkan. Paling penting, sikap dewasa harus dikedepankan, dan selalu mempercepat terjadinya konsolidasi.

“Harapan saya, setiap pemilihan rektor, kalau sudah dapat calon terbaik, siapa pun yang terpilih itu kemudian jangan dicari kesalahannya, dimakzulkan dan sebagainya. Tapi dukung penuh dan konsolidasinya pun tidak butuh waktu yang lama,” ungkapnya.

Bukan rahasia umum, bursa pemilihan rektor perguruan tinggi memang kerap diwarnai konflik. Malah, tak jarang berujung pada timbulnya faksi-faksi dalam institusi.

Uniknya, isu yang biasa muncul dalam setiap proses pemilihan rektor yakni terkait dugaan plagiarisme. Teranyar, tudingan plagiasi dialamatkan pada Rektor Universitas Sumatra Utara (USU) terpilih Muryanto Amin.

Bahkan, tuduhan ini berujung terbitnya Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan Rektor USU lama Runtung Sitepu dan menyatakan Muryanto terbukti bersalah dengan melakukan plagiat karya sendiri atau self plagiarism. SK bernomor 82/UN5.1.R/SK/KPM/2021 itu ditandatangani Runtung pada 14 Januari 2021.

Namun, hasil kajian Kemendikbud yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi menyatakan Muryanto Amin tak dapat dikatakan melakukan plagiasi.

Sumber : medcom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *