Kisah Dua Orang Siswa di Sekolah

OPINI

Oleh : Mahir Martin (Guru, aktivis dan pemerhati pendidikan)

Alkisah di sebuah sekolah datanglah dua orang siswa untuk belajar. Di sekolah tersebut semua kebutuhan siswa dijamin oleh Sang raja penguasa yang menguasai tempat sekolah tersebut berada. Sang raja penguasa memberikan semua kebutuhan siswa dengan cuma-cuma.

Di sana ada seorang guru utusan Sang raja penguasa. Guru itu mengatakan bahwa Sang raja penguasa memiliki perintah, yaitu agar siswa-siswi di sekolah tersebut untuk belajar dengan baik dan mengikuti bimbingan darinya yang telah ditugaskan Sang raja penguasa di sekolah tersebut.

Setelah siswa berhasil lulus, guru tersebut menjanjikan bahwa Sang raja penguasa akan memberikan nilai yang tinggi kepada siswa yang telah mengikuti bimbingannya dan juga akan memberikan hadiah yang besar.

Namun sebaliknya, jika siswa tidak mau mengikuti bimbingannya, bahkan siswa memilih melakukan tindakan seenak dirinya, maka Sang raja penguasa akan memberikan nilai yang jelek sehingga tidak akan meluluskannya dan memberikan hukuman kepadanya.

Mari kita pikirkan, apakah siswa seharusnya mau melakukan apa yang ditawarkan guru tersebut? Atau apakah pantas kiranya jika siswa memilih tidak melakukannya?

Salah satu dari kedua siswa tersebut menggunakan akal dan logikanya. Dia memilih melakukan apa yang dikatakan gurunya. Dia tidak lagi memikirkan kebutuhannya karena semua sudah dijamin oleh Sang raja penguasa. Dia rajin belajar dengan mengikuti bimbingan gurunya. Pada akhirnya dia lulus dengan nilai baik dan mendapatkan hadiah besar dari Sang raja penguasa seperti yang telah dijanjikan gurunya.

Sebaliknya, siswa yang lain, karena kebodohannya tidak mau mengikuti bimbingan guru tersebut. Dia terlena dengan kenikmatan yang diberikan secara cuma-cuma dan menggunakannya semau dirinya. Pada akhirnya dia mendapatkan nilai yang jelek dan tidak berhasil lulus. Lalu, Sang raja penguasa memberikan hukuman kepadanya.

Dari cerita imajiner ini, muncul pertanyaan, apakah ada Sang raja penguasa yang maha baik dan maha pemurah seperti yang ada dalam cerita ini di dunia?

Dalam realita kehidupan, memang sulit menemukan Sang raja penguasa sesempurna itu di dunia. Namun, kiranya bagi seorang siswa ada poin penting yang perlu direnungi dari cerita imajiner ini yang sangat relevan dengan tugas dan kewajibannya sebagai pelajar.

Sebagai seorang siswa memang seharusnya memahami bahwa tugas utamanya di sekolah adalah belajar dengan sebaik mungkin dengan mengikuti bimbingan guru. Jika siswa melakukan ini, maka dia akan mendapatkan nilai yang baik dan bisa lulus dari sekolah.

Sebaliknya, jika siswa tidak belajar dengan baik dan tidak mengikuti bimbingan guru, maka siswa pastinya akan mendapatkan nilai yang jelek dan tidak akan lulus dari sekolah. Bahkan siswa tersebut akan mendapatkan hukuman tambahan.

Dari cerita imajiner ini juga siswa bisa mengambil makna yang dalam terkait sisi religius dari kehidupan.

Dalam cerita, raja Sang Penguasa tersebut adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Guru utusan raja adalah Nabi pembimbing manusia. Kedua siswa tersebut adalah manusia yang mengikuti aturan agama dan yang tidak menghiraukannya. Sekolah adalah dunia sebagai ladang amal, tempat manusia menjalani kehidupan.

Tugas belajar adalah ibadah. Nilai yang baik adalah pahala, nilai yang jelek adalah dosa. Lulus dengan mendapat hadiah besar adalah balasan surga dan tidak lulus dengan hukumannya adalah balasan neraka.

Selaras dengan hikmah cerita ini, Ustad Bediuzzaman Said Nursi dalam kitabnya Al Kalimat menuliskan, “Wahai jiwa! jika engkau menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan, lalu mengerahkan seluruh potensimu untuknya, maka engkau tak ubahnya seperti burung yang paling hina.

Adapun jika engkau menjadikan kehidupan akhirat sebagai akhir impian serta menggunakan kehidupan dunia sebagai sarana dan ladang untuk meraih akhirat, lalu engkau berusaha untuknya, maka engkau seperti pemimpin seluruh makhluk hidup dan hamba yang mulia di sisi Pencipta Yang Maha Pemurah. Engkau juga akan menjadi tamu yang mulia dan terhormat di dunia ini.

Di hadapanmu terdapat dua jalan, pilihlah mana yang kau suka, serta mintalah petunjuk dan taufik kepada Tuhan Yang Maha Penyayang.[1]”

Ya, Tuhan telah memberikan segalanya bagi manusia untuk hidup di dunia. Namun, Tuhan mengingatkan kita semua bahwa jangan sampai kita terlena dengan kenikmatan dunia.

Kenikmatan dunia hanyalah sementara, bukan untuk dinikmati dengan sepuas-puasnya. Kenikmatan dunia seharusnya dijadikan wasilah untuk mendapatkan kenikmatan yang hakiki kelak di akhirat.

Alhasil, Tugas manusia di dunia adalah untuk menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi segala laranganNya. Bagi siswa, salah satu cara menjalankan perintah Tuhan adalah dengan sunguh-sungguh belajar dan menuntut ilmu dan mengikuti semua bimbingan guru dengan sebaik-baiknya.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *