Kasus Korupsi, Apakah Pantas Dijadikan Pembelajaran Kejujuran di Sekolah?

OPINI

Oleh : Mahir Martin (Guru Aktivis dan Pemerhati Pendidikan)

Kasus korupsi masih banyak ditemukan di negara kita. Bukan kasus kecil, triliunan rupiah dikorupsikan. Dari pejabat daerah, sampai pejabat pusat selevel menteri ada juga yang terjerat.

Masyarakat pasti geram ketika mendengar kasus korupsi. Apalagi jika yang dikorupsi adalah hak rakyat kecil, rasanya sangat tidak etis untuk dilakukan. Ditambah lagi sebenarnya yang melakukan korupsi bukanlah orang yang kekurangan. Masyarakat tak habis pikir, untuk apa dia melakukan korupsi, jika harta yang adapun sudah sangat mencukupi.

KPK dan Pencegahan Korupsi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga anti rasuah di negara kita bukan tak melakukan usaha pencegahan. Meskipun diterpa isu pelemahan, KPK masih tetap bekerja sesuai fungsi utamanya, yaitu memberikan pendidikan anti korupsi kepada masyarakat.

Perlu diakui, pergerakan KPK yang sering diberitakan media massa adalah terkait penangkapan koruptor atau operasi tangkap tangan (OTT). Padahal yang seharusnya diutamakan adalah pemberitaan terkait pencegahan korupsi. Bukankah ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati? Ini yang seharusnya dikedepankan.

Sayangnya, media lebih suka memberitakan kasus-kasus penangkapan para koruptor. Wajar saja, media memang mencari bunga dari sebuah peristiwa. Sebabnya, bisa dikatakan karena itulah bagian hiburannya, itulah yang laku dijual di masyarakat, itulah yang enak diberitakan dan pastinya berpotensi menjadi pusat perhatian dan viral di masyarakat.

Namun, hal ini pastinya memiliki dampak di masyarakat. Sulit diprediksi apakah dampak baik atau malah dampak buruk yang akan dirasakan. Kita semua berharap, maraknya pemberitaan kasus korupsi akan membawa dampak baik di masyarakat. Masyarakat bisa memahaminya dengan komprehensif sehingga pemberitaan bisa dijadikan bahan pelajaran dalam bertindak untuk menghindari perilaku koruptif.

Bagi pendidik, mungkin harus berpikir dua kali untuk menggunakan bahan pemberitaan kasus korupsi sebagai bahan pembelajaran. Takutnya, alih-alih memberikan pembelajaran tentang pencegahan korupsi, pemberitaan justru bisa menjerumuskan siswa untuk melakukannya.

Tentang Kejujuran

Sejatinya, mengajarkan pencegahan korupsi memang tidak mesti mengangkat kasus korupsi sebagai contoh. Inti pembelajaran kasus korupsi sebenarnya adalah tentang kejujuran.

Bicara tentang kejujuran, ada banyak hal yang bisa dijelaskan kepada siswa. Diantaranya, kejujuran dalam menuntut ilmu, kejujuran dalam berkata dan bersikap baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun di masyarakat.

Misalnya, kejujuran dalam menuntut ilmu sangat penting untuk dijelaskan. Ilmu yang didapat seseorang dengan kejujuran akan benar-benar bisa digunakan untuk kemaslahatan masyarakat. Masyarakat pun terhindar dari ketidakjujuran intelektual.

Seorang dokter yang ilmunya didapat dengan kejujuran intelektual bisa mendiagnosis pasiennya dengan benar karena dia memang mengetahui benar keilmuannya. Sebaliknya dokter yang mendapat gelar dokter dengan ketidakjujuran intelektual berpotensi melakukan malpraktek kepada pasiennya karena dia tidak benar-benar memiliki ilmunya.

Di dalam masyarakat kejujuran juga memiliki tempat yang penting. Seseorang yang tidak jujur akan mendapatkan banyak kerugian. Ada sebuah prinsip di masyarakat yang mengatakan, “Pembohong tidak akan pernah dipercayai lagi, walaupun saat itu mereka berkata benar.”

Selain itu, kejujuran juga bermakna integritas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integritas berarti mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran.

Dari definisi ini sangat jelas bahwa kejujuran bisa memancarkan kewibawaan. Seorang pemimpin yang jujur dan berintegritas akan terlihat wibawanya, karena adanya kesesuaian antara hati, tutur kata dan perilakunya. Apa yang dikatakannya selalu mengandung kebenaran.

Terkait dengan kebenaran dan kejujuran di masyarakat, Ustad Bediuzzaman Said Nursi pernah berpesan “Engkau harus berkata benar dalam setiap perkataan, namun engkau tidak berhak untuk menyampaikan semua kebenaran di semua tempat.”

Maknanya, setiap perkataan memang harus selalu benar, tetapi setiap kebenaran tidak harus dikatakan, perlu menimbang kelayakan, kepantasan dan keperluannya untuk dikatakan. Jika tidak layak, tidak pantas dan tidak perlu dikatakan, menyimpannya dalam hati akan menjadi sebuah kebaikan.

Oleh karenanya, disaat begitu banyak contoh kejujuran yang bisa dijelaskan, rasanya memberikan contoh kasus korupsi secara langsung tidak lagi diperlukan. Apalagi jika kasus korupsi itu menimpa pejabat dan para tokoh masyarakat.

Yang kita khawatirkan adalah informasi yang kita berikan justru membuat kebiasan dalam cara berpikir siswa. Karena saking banyak dan biasanya kasus korupsi, siswa bisa saja berpikir bahwa korupsi adalah suatu hal yang biasa. Mereka bisa saja berpikir, “Pejabat ini saja bisa melakukan, kenapa saya tidak.”

Memang, di era informasi yang sangat bebas, kita tidak bisa menutupi setiap informasi. Pada saatnya siswa akan mengetahui juga pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi tersebut.

Ketika itu terjadi, kita sebagai pendidik bisa melakukan pendampingan dan meluruskan pemahaman siswa sehingga tidak terjadi bias. Ini bisa kita lakukan jika siswa itu bertanya tentang hal tersebut, bukan kita yang membuka topiknya kepada siswa.

Alhasil, apakah kasus korupsi pantas dijadikan pembelajaran kejujuran di sekolah? Mungkin hal ini bisa diperdebatkan. Menurut saya, energi positif kejujuran akan lebih tertanam baik dengan menghadirkan contoh-contoh positif kepada siswa.

 Di saat banyak contoh positif kejujuran bisa digunakan kepada siswa, menggunakan kasus korupsi sebagai contoh dalam memberikan pendidikan kejujuran rasanya perlu dikesampingkan. Jikapun diperlukan, pendampingan yang baik harus dilakukan agar tak terjadi bias pada diri siswa dalam memahaminya.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *