Merdeka dalam Belajar (Esai Kritik dan Saran Sistem Pendidikan Selama Pandemi) Bagian 1

OPINI

Oleh : Citra Melati

“Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedang merdekanya hidup batin itu terdapat dari pendidikan.”

-Ki Hadjar Dewantara-

Merdeka belajar yang selama ini digembar gemborkan apakah mengandung makna merdeka yang nyata? Bagaimana implementasi teknisnya ?

Dalam pendidikan, merdeka dalam belajar adalah kebutuhan anak. Suatu keharusan dan pentingnya anak merasa merdeka dan tidak merasa terkekang saat belajar. Oleh karena itu, sesuai yang diamanahkan Ki Hadjar Dewantara, siapa lagi kalau bukan tugas pendidik untuk membantu, menuntun, dan memerdekakan lahir dan batin anak dalam belajar.

Masa pandemi diibaratkan masa jeda dari sekolah, selama ini, waktu sekolah hanya terkotak dalam teks buku dan ceramah di kelas. Demikian juga sekolah selama daring hanya terpusat pada banyak penugasan tapi minim bahkan nihil pemahaman pembelajaran, sehingga pembelajaran daring terkesan semu dan hanya formalitas.

Apa yang terjadi anak malah mengalami kendala dan beban lebih daripada masa sekolah biasanya, sekolah hanya berisi beban tugas-tugas yang memuakkan dan menyita waktu dan perhatian (sebagai ganti “waktu” di sekolah) dimana pemindahan pengajaran guru dialihkan ke orang tua dan pemindahan belajar kelas di rumah. Sehingga metode pembelajaran sekolah terkesan memaksakan.

Tugas yang memaksakan, perintah, dan hukuman, itulah sistem pendidikan Indonesia yang masih berjalan saat ini. Anak yang tidak mengerjakan tugas (saat daring), dinilai jelek, tanpa tahu sebab anak itu memang malas atau ada faktor lain. Bisa saja kondisi keluarga yang melatarbelakanginya, atau bahkan pembelajaran dan tugas yang tidak menarik dan kurang menumbuhkan antusiasme belajar anak.

Anak juga terbiasa percaya dan menganggap apa yang guru ajarkan selalu benar dan baik, sehingga anak terbiasa hanya menuruti perintah guru, jarang diberi ruang untuk berpendapat. Penyampaian kritik dan saran dengan sopan dan santun juga diperlukan, tanpa adanya itu tak akan ada anak kritis karena takut mengkritik dan hanya diam jika ada hal yang salah.

Anak sekedar patuh mengerjakan dan mengumpulkan beban tugas setiap hari tanpa tahu makna belajar sebenarnya. Anak sering dihantui dengan pekikan seperti “Ayo, semangat mengerjakan tugas anak-anak”, “Besok, harus segera dikumpulkan”, “Bagi yang tidak mengumpulkan tugas, tidak dapat nilai”, dimana yang menurut, patuh, dan semangat mengerjakan beban tugas adalah anak yang baik. Mereka melaksanakan perintah karena takut bukan karena kesadaran dan tanggung jawab diri.

Anak-anak terbiasa dengan ancaman, ketakutan, dan menuruti dan mengiyakan semua perintah dan aturan, tanpa diberi ruang dalam berekspresi, berpendapat, dan bertanya banyak hal. Oleh sebab itu, pentingnya untuk banyak berdiskusi dan berkompromi kepada anak mengenai pembelajaran bukan asal memberi tugas yang tidak bermakna. Sebab, hal ini tergantung pada kesadaran guru apakah menjadikan anak didiknya menjadi manusia merdeka atau penurut perintah saja.

Mereka yang terbiasa bergerak perintah dari luar yang bukan berasal darinya, tanpa tahu maksud dibaliknya, membuat daya kritis serta kepercayaan diri mereka akan mati. Mereka tidak tahu mana yang salah dan benar, dan bila tahu apa yang benar, anak tidak punya keberanian untuk mengungkapkan dan mempertanggungjawabkannya, memilih tidak usah banyak bicara, lebih baik diam saja, lebih aman, yang penting atasan (guru) senang (generasi ABS), meski ada hal yang bertentangan.

Akhirnya, anak menjadi mesin pelaksana perintah. Mereka tidak punya kemandirian, dan kreativitas dalam memutuskan untuk melakukan apa yang diinginkan di kemudian hari, karena anak bergantung pada pemberi perintah. Ketika diberi kebebasan, tampaknya mereka masih bingung karena mereka terbiasa tergerak oleh karena perintah orang lain.

Berbeda dengan anak yang diberi kebebasan dalam bidang yang diminati, dia mungkin akan ada perasaan senang belajar, mencoba belajar dari kesalahan dan kegagalan, bertanggung jawab atas pilihan yang dipilih, sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan merdeka. Penjabaran tersebut bermaksud sebagai salah satu poin penting dalam memberi kemerdekaan anak dalam belajar.

Kembali mengingat kondisi pandemi, anak harus menjaga imunitasnya dan tidak boleh terlalu capek dalam menuntaskan beban tugas yang terlalu banyak, karena kesehatan harus menjadi prioritas. Guru sekolah hendaknya bisa kerjasama terbuka dan diskusi dengan orangtua dalam pembelajaran daring yang selaras dengan keadaan anak di rumah serta memahami kondisi individu anak baik secara fisik dan mental.

Guru seharusnya memacu kreativitasnya bagaimana menerapkan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan dengan mengaktifkan kemampuan sosial dan emosional anak tidak hanya sisi akademis saja sehingga anak tidak jadi mesin pelaksana tugas semua pelajaran di tiap harinya.

Guru seharusnya aktif dalam menumbuhkan minat belajar, memberikan kemerdekaan dalam belajar dan aktif berperan menumbuhkan potensi anak, bukan untuk memenuhi tugas dan kompetensi saja apalagi membuat anak aktif mengerjakan setiap hari yang monoton dan membosankan yang pada akhirnya anak jadi tertekan dan malas belajar.

Guru dan anak seharusnya sebagai mitra yang sejajar, guru tidak bertindak posisi di atas (top-down), merasa berkuasa dan serba tahu sehingga dengan mudah memerintah anak didik dengan tugas yang tidak berkualitas. tidak menganggap posisi anak dibawah, seolah anak tidak tahu apa apa, tapi sebenarnya mereka mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, tapi rasa ingin tahu itu dikubur dengan lontaran, “kerjakan tugas saja, biar dapat nilai”, “ayo tingkatkan lagi belajarmu lagi agar nilaimu tidak jelek”, “ada yang ditanyakan?” tapi hampir tidak ada yang berani bertanya, karena mungkin takut, tidak paham, atau tidak antusias belajar dan bertanya.

Berilah tugas yang bisa menciptakan karakter anak, bukan mendidik anak seperti kerbau dungu yang hanya menurut saja. Anak layaknya robot yang melaksanakan perintah dan guru layaknya rentenir yang menagih utang tugas anak yang belum dikumpulkan.

Rajin belajar bukan berarti mempelajari dan menghafal semua buku teks pelajaran sekolah, atau asal menurut perintah tanpa tahu alasan dan pembelajaran di belakangnya. Makna rajin belajar seharusnya lebih ditekankan anak belajar apa saja yang menarik, banyak bertanya, kritis, menambah pengetahuan yang kontekstual, dsb. sehingga bisa dikatakan mereka sedang aktif dan haus belajar dalam mendapatkan ilmu.

Pemerintah sebagai pemangku kebijakan tidak seharusnya menuntut pemenuhan standar dan kompetensi kurikulum kepada guru selama pandemi, guru sebagai pelaksana pendidikan seharusnya juga memaklumi kondisi dan tidak menuntut anak didik untuk memenuhi nilai tugas jika dirasa terlalu membebani anak, jika terlalu banyak tuntutan dan beban tugas akan berdampak kepada anak didik sebagai penerima pendidikan sekolah.

Jika pendidikan sekolah apalagi di masa pandemi sekedar atribut pemenuhan nilai administratif diatas kertas bukan pemenuhan nilai pada diri anak sesungguhnya, maka angka rapor hanya menggambarkan angka intelektualitas yang kosong tidak ada gunanya.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *