Satu Bulan Satu Buku (Sabu-Sabu) Langkah Pasti Menuju Guru Berbudaya Literasi

OPINI

Oleh : Cipto Lelona

Satu Bulan Satu Buku (Sabu-Sabu) hendaknya menjadi kebutuhan guru untuk menambah asupan sehat menu profesinya agar makin sehat dan berkualitas. Gerakan Sabu-Sabu akan mendorong tumbuh kembang setiap guru menuju kondisi 4 sehat 5 sempurna. Empat Sehat meliputi : sehat wawasan, sehat inovasi pembelajaran, sehat pengetahuan serta sehat skilL menulisnya (LITERASI). Lima sempurna meliputi : sempurna pola pikirnya, sempurna  membuat rancangan pembelajaran, sempurna melayani pembelajaran,sempurna melaksanakan pembelajaran dan  sempurna mengembangkan profesinya melalui karya-karya profesinya.

Komponen empat sehat  lima sempurna tersebut merupakan komponen yang akan membawa sosok guru pada peraihan tahta sosial dan tahta spiritual. Tahta sosial berkaitan pengakuan masyarakat tentang profesi guru yang makin mantap dan disegani, sedangkan  tahta spiritual berkaitan sikap bangga dan rasa puas dalam melaksanakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang dijalankan. Sikap tersebut sekaligus merupakan ungkapan syukur yang berkualitas kepada sang Khaliq kita.

Pada giliranya komponen-komponen tersebut akan mendorong guru memperoleh ” personal branding”, yaitu pengakuan, penghargaan dan  penilaian masyarakat yang positip tentang sosok hebat yang namanya guru. Nah, disini konsep orang Jawa tentang symbol penegakan moral  guru sebagai sosok yang dapat “digugu” dan “ditiru” akan menjadi realita.

Saat ini guru sedang disorot dalam hal  budaya menulis. Sebagian menilai budaya menulis guru masih rendah, bahkan ada yang menilai budaya menulis guru memprihatinkan. Indikator sederhana yang dapat digunakan adalah berapa jumlah guru dalam satu wilayah kota/kabupaten yang sudah mempunyai golongan IV b.  Kenaikan pangkat ini merupakan salah satu indikator rendahnya budaya menulis guru. Sebab masih terlalu banyak ditemukan guru berhenti pada golongan IV a. 

Mengapa membutuhkan budaya menulis ? Sebab untuk menuju golongan IV b dipersyarakatkan melakukan pengembangan diri dan publikasi ilmiah serta pembuatan karya inovatif. Persyaratan tersebut membutuhkan rangkaian aktivitas, selain kegiatan diklat/worshop/bimtek, tetapi juga harus melakukan publikasi ilimiah; bahkan salah satunya adalah pembuatan laporan penelitian (Penelitian Tindakan Kelas) khususnya. Semua unsur ini tentu tidak lepas dari buku dan budaya menulis.

Di tengah perhatian riil pemerintah yang begitu besar pada nasib kesejahteraan guru, sudah saatnya guru melakukan muhasabah profesi. Salah satu langkah wujud mubahasabah profesi adalah meningkatkan kualitas profesi melalui budaya menulis. Upaya tersebut tentu membutuhkan instrumen pokok yaitu buku. Bukulah yang harus menjadi mitra guru dalam mengembangkan kualitas layanan dan karir guru. Maka sudah saatnya guru meningkatkan budaya menulis “setidaknya dimulai “dengan gerakan “Sabu-Sabu ( Satu Bulan Satu Buku )”. Guru berkarya, siswa  bangga;  Indonesia makin jaya.  Mari kita wujudnya mimpi ini secara bersama-sama.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *