Teknologi Pendidikan Berbasis Virtual Reality Dibutuhkan Hingga 2025

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Tahun 2020 adalah masa di mana manusia menghadapi perubahan yang besar dan mendadak karena pandemi Covid-19. Sektor pendidikan pun mengalami hal yang serupa. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya dilakukan tatap muka, kini berganti menjadi kegiatan daring.

Salah satu solusi bagi tenaga pendidik dan peserta didik adalah dengan menggunakan teknologi Virtual Reality sebagai media pembelajaran. Kebutuhan pendidikan akan teknologi Virtual Reality ini pun diaminkan oleh laporan dari World Economic Forum (WEF) yang diterbitkan pada bulan Oktober 2020.

Laporan terbaru WEF menyebutkan bahwa penyerapan teknologi Virtual Reality dalam dunia pendidikan mencapai 70 persen hingga tahun 2025. Kebutuhan yang tinggi ini tentunya bukan tanpa dasar, Virtual Reality terbukti mampu meningkatkan pencapaian siswa dalam hal pemahaman materi, peningkatan emosi positif , hingga kemampuan berpikir kritis.

“Pembuktian ini telah dilakukan di banyak negara dalam bentuk penelitian ilmiah universitas maupun penelitian independen,” bunyi laporan tersebut seperti dikutip Senin (1/2).

Sebagai salah satu platform pendidikan yang peduli dengan perkembangan teknologi edukasi, LenteraEdu yang diinisiasi oleh Putera Sampoerna Foundation meyakini bahwa teknologi Virtual Reality dapat menjadi solusi bagi penyesuaian kegiatan belajar mengajar di era pandemi sekaligus sebagai gerbang untuk menyatukan teknologi yang bersahabat bagi tenaga dan peserta didik secara bersamaan.

Tahun ini, LenteraEdu menginisiasi program VR Ambassador untuk mencetak tenaga pendidik yang dapat menjadi pionir-pionir teknologi imersif dalam dunia pendidikan Indonesia.

Dalam program ini, LenteraEdu menggandeng Millealab yang merupakan satu-satunya produk Virtual Reality berbasis all-in-one platform cloud karya anak bangsa. Millealab, sejak tahun 2019 telah memberikan warna tersendiri dengan memberikan program pelatihan pembuatan Virtual Reality dan program kompetisi 1.000 guru pionir VR serta 100 sekolah pionir VR di 34 provinsi yang didukung oleh Ikatan Guru Indonesia DKI Jakarta, SEAMOLEC, dan Pusat Data Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Kami (Millealab) sebelumnya telah melakukan ujicoba di 10 provinsi dengan bekerja sama dengan sekolah-sekolah yang direkomendasikan jaringan Ikatan Guru Indonesia. Ujicoba yang melibatkan 1.800 peserta didik dari jenjang dasar dan menengah ini memberikan hasil yang sangat positif,” kata Managing Director Millealab, Andes Rizky.

Hingga hari terakhir, jumlah data yang masuk sebagai pendaftar adalah 3 kali lipat dari target peserta. Dari jumlah ini, LenteraEdu dan Millealab melakukan seleksi hingga mendapatkan 100 calon ambassador terbaik.

Program Dilakukan 6 Bulan

Program VR Ambassador ini akan dilaksanakan sepanjang enam bulan. Program awalnya akan menargetkan untuk mencetak 100 VR ambassador yang dapat menciptakan pembelajaran inovatif dengan menggunakan teknologi VR dan melakukan ujicoba kepada peserta didik. Kemudian, para VR Ambassador ini wajib melakukan diseminasi kepada 50 tenaga pendidik di tempat mereka berada. Sehingga memperluas praktik baik dan dampak positif yang diberikan.

Head of Program Putera Sampoerna Foundation, Juliana menyampaikan guru dan teknologi adalah katalisator yang dapat mempercepat upaya perubahan, disinilah peran guru sebagai penggerak transformasi untuk menciptakan inovasi pembelajaran melalui pengembangan media belajar berbasis VR. Kolaborasi dengan Milealab merupakan upaya kerja bersama untuk mempercepat laju perubahan tersebut.

Dalam program VR Ambassador ini terdapat guru-guru SMK yang juga terdaftar sebagai calon VR Ambassador, dengan bergabungnya guru-guru tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas lulusan dibidang vokasi yang akan berdampak pada meningkatnya jumlah pelaku pelaku usaha kecil menengah yang lebih kompeten.

Sumber : merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *