Bagaimana Hasil Tes Covid-19 Setelah Divaksinasi? Ini Jawaban Pakar UGM

Kampus

JAKARTA:  Sejumlah pertanyaan muncul di masyarakat setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan persetujuan penggunaan vaksin Sinovac untuk kondisi darurat.  Salah satunya apakah setelah divaksinasi, seseorang akan memberikan hasil reaktif atau positif ketika diuji dengan rapid test atau tes swab PCR?

Tim peneliti dari Laboratorium Rekayasa Makromolekul, Departemen Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan dua hal mendasar yang patut diketahui. Yaitu soal material biologis dalam vaksin yang digunakan dan prinsip dasar pengujian Covid-19 dengan rapid test, swab PCR, atau metode lain.

Anggota Tim Peneliti vaksin dari UGM, Apt. Muhammad Novrizal Abdi Sahid, M.Eng., Ph.D, menyebut di dunia ada dua vaksin yang telah mendapatkan izin edar.  Yakni vaksin yang diproduksi oleh Pfizer-BioNTech (Pfizer) dan yang disetujui untuk edar di Saudi Arabia dan negara lainnya, serta vaksin Sinopharm yang disetujui untuk digunakan oleh Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

Sedangkan vaksin yang mendapatkan persetujuan untuk penggunaan darurat berjumlah delapan, termasuk vaksin Sinovac yang digunakan di Indonesia.  Menurutnya, vaksin diberikan ke dalam tubuh individu dan diharapkan dapat memicu tubuh untuk memproduksi antibodi.

Antibodi ini yang dapat mempertahankan tubuh dari patogen penyebab infeksi. Dalam konteks ini adalah virus.

“Vaksin secara konvensional digolongkan berdasarkan jenis material aktifnya, yaitu vaksin yang berisi virus yang dilemahkan (attenuated vaccine), virus yang diinaktivasi (inactivated vaccine), dan bagian dari virus (subunit/antigenic vaccine),” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa, 2 Februari 2021.

Novrizal menjelaskan, unsur patogen sebagai material aktif dalam vaksin sudah dimodifikasi sehingga tidak dapat menginfeksi tubuh inang walaupun secara sengaja diberikan ke dalam tubuh. Vaksin Sinovac yang digunakan di Indonesia merupakan vaksin dengan material berupa virus yang dilemahkan (inactivated vaccine), yaitu berisi virus SARS-CoV-2 yang sudah dilemahkan, sehingga tidak bisa lagi memperbanyak diri (bereplikasi) di dalam sel inang.

“Meski begitu, ia masih memiliki protein spike, suatu protein yang penting untuk penempelan virus pada sel inang,” terangnya.

Anggota Tim lainnya, Dr. apt. Muthi’ Ikawati, M.Sc menambahkan, selain vaksin konvensional tersebut, dikenal pula jenis vaksin yang disebut vaksin RNA yang memiliki material komponen aktif berupa asam ribonukleat (ribonucleic acid, RNA). Untuk memproduksi vaksin RNA tersebut, molekul RNA disintesis untuk meniru materi genetik RNA yang dimiliki oleh virus.

“Sehingga ketika diinjeksikan ke dalam tubuh inang, dalam hal ini adalah seseorang yang divaksinasi, sel-sel inang akan ‘membaca’ dan ‘menerjemahkan’ molekul RNA tersebut untuk memproduksi protein tertentu.  Sebagai contoh, vaksin Pfizer merupakan vaksin mengandung RNA yang akan diterjemahkan menjadi protein spike,” jelasnya.

Pada kedua contoh vaksin tersebut, baik vaksin Sinovac maupun Pfizer, kata Muthi, protein spike dapat disebut sebagai antigen, hal inilah yang akan dikenali oleh sel-sel sistem imun sebagai zat asing sehingga sel inang akan mengaktivasi sistem pertahanan tubuh.  Salah satunya dengan menginduksi produksi antibodi dan membentuk memori terhadap antigen tersebut.

“Sehingga jika tubuh seseorang yang telah memiliki ssel memori’ setelah vaksinasi terpapar oleh virus yang sama di kemudian hari, seseorang tersebut telah memiliki ketahanan yang cukup dengan memproduksi antibodi yang mampu mengeliminasi virus tersebut serta mencegah berkembangnya virus tersebut di dalam tubuhnya,” ucapnya.

Hasil Tes Pascavaksin

Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah kedua jenis vaksin ini dapat memengaruhi hasil rapid test atau swab PCR Covid-19? Menurut anggota tim peneliti, Prof. Dr. apt. Ediati Sasmito, S.E, kedua vaksin tersebut secara umum akan meningkatkan produksi antibodi yang bereaksi terhadap SARS-CoV-2. Antibodi yang diproduksi utamanya adalah diedarkan di dalam darah atau limfatik.

Oleh karena itu, bila dilakukan rapid test antibodi, yang umum dikenal dengan rapid test via sampel darah dengan mekanisme penentuan jumlah antibodi yang bereaksi terhadap SARS-CoV-2, kemungkinan vaksin ini akan menyebabkan hasil reaktif setelah divaksinasi.  Karena penerima vaksin telah membentuk antibodi dalam jumlah tertentu yang dapat terdeteksi.

Kemudian bila rapid test dilakukan dengan swab antigen, maka kemungkinan bagi orang yang telah divaksinasi dan tidak dalam kondisi terinfeksi tidak akan diperoleh hasil positif.  Teknik swab atau usapan adalah pengambilan sampel pada area tubuh tertentu dengan melakukan usapan.

“Untuk pengujian covid-19 umumnya dilakukan pada area nasofaring, rongga yang menghubungkan hidung dan saluran napas. Pada area ini antibodi yang terbentuk sebagai hasil pemberian vaksin tidak ada, sehingga kemungkinan memberikan hasil yang negatif,” urainya.

Lantas bagaimana bila dilakukan tes dengan swab PCR?  Tes ini tentu sama halnya dengan swab antigen, swab PCR juga dimungkinkan akan memberikan hasil yang negatif selama sampel diambil dari nasofaring atau orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan).

Sumber : medcom.id  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *