Pelajar Intelektual di Era Post-Truth

OPINI

Oleh : Heri BDP

Ngobrolin pelajar, memang tak akan habis menjumpai berbagai macam keasyikan tersendiri, ada saja yang menghabiskan waktunya untuk belajar dengan membaca buku, keluar-masuk perpus, aktif mengikuti organisasi sana-sini, juara lomba cabang ini dan itu, main bareng ke tempat wisata, ikut-ikutan nongkrong, berantem dan cek-cok sama teman, punya geng dengan wilayahnya masing-masing, santai dengan doi (bagi yang punya aja yah, yang nggak punya jangan tersinggung, he), atau bahkan ada saja yang hobinya keluar-masuk ruang BK, pokoknya seru sekali kalau bicara tentang pelajar, seperti semboyan bangsa Indonesia, Bineka Tunggal Ika, beraneka ragam tetapi tetap satu jua, berbeda-beda tapi menyenangkan, itulah pelajar, unik dan punya ciri khasnya tersendiri.

Pertanyaannya, apakah, siapakah, bagaimanakah, dan mengapa bisa dikatakan sebagai pelajar Intelektual ?

Biasanya, setiap pelajar diminta untuk mampu menguasai semua mata pelajaran, mempunyai prestasi, baik prestrasi akademik seperti peringkat 1 (satu) tingkat sekolah atau bahkan kabupaten, atau prestasi non akademik seperti juara pada cabang lomba olahraga bulu tangkis tingkat provinsi, ataupun cabang lomba lainnya yang bergengsi. Tapi, kan tidak semuanya dapat berprestasi, hanya pelajar tertentu yang bisa juara, meraih peringkat, dan punya kecerdasan di atas rata-rata, iya kan?

Terus, bagaimana dong kalau pelajar yang tidak meraih apa-apa di sekolah, tidak meraih juara, tidak pandai olahraga misalnya, kurang suka aktivitas sosial, dan sebagainya, apakah masa depannya menjadi suram? Jangan-jangan memang dari sononya ngga bisa apa-apa? Atau mungkin ada bakat dan keistimewaannya sendiri, berbeda dengan yang lain, seperti harta karun yang terpendam, istimewa dan sangat mahal harganya, namun butuh perjuangan untuk mendapatkan harta karun itu, bisa jadi!

Nah, setiap manusia, pasti terlahir dengan keistimewaannya sendiri, tidak mungkin sama dalam bentuk rupanya, kecerdasannya, keterampilannya, dan hal-hal lain berhubungan dengan manusia. Artinya, pelajar pun demikian, ada yang pandai dalam satu bidang, tapi belum tentu pandai juga di bidang lainnya, contohnya, ada yang pandai melukis, tapi kurang dalam memahami pelajaran, ada yang pandai olahraga, tapi kurang dalam berbisnis, dan seterusnya.

Untuk itu, semua pelajar pasti pintar, cerdas dan mempunyai keistimewaan, dengan ciri khasnya masing-masing, itulah yang dinamakan intelektual. Saya yakin, kita semua diciptakan oleh Tuhan, tidak sia-sia dan tanpa tujuan, pasti ada maksud dan alasan kenapa Tuhan menciptakan kita dengan beranekaragam tingkat kecerdasan, keterampilan dan sebagainya. Yang perlu dipahami, bahwa kita harus sadar dengan keadaan, kondisi, kemampuan diri, kekuatan, serta kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri.

Dengan memahami itu semua, maka langkah selanjutnya adalah mencari jalan atau solusi untuk membuat kreativitas dalam kehidupan kita, termasuk sebagai seorang pelajar. Jadi, secara umum, ciri-ciri pelajar intelektual itu:

Mempunyai ciri berfikir dan bertindak berdasarkan ilmu, iman, dan amal secara berkesinambungan antar ketiganya

Melalui gambaran ciri-ciri pelajar intelektual tersebut, memberikan informasi kepada kita, bahwasanya menjadi seorang pelajar intelektual merupakan sebuah anugerah tersendiri.

Didasari dengan ilmu, kemudian di-Imani secara yakin, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Secara otomatis, sebuah amal yang didasarkan pada ilmu, diperkuat dengan keyakinan penuh, akan memberikan efek berbeda dibandingkan dengan amalan yang dilakukan asal-asalan. Mari kita bedah bersama, apa itu ilmu, iman, dan amal, he

Berbicara tentang ilmu, dapat diartikan sebagai pengetahuan terhadap sesuatu secara sistematis (bersambung, berkaitan, sesuai kaidah ilmu) untuk menjelaskan gejala, atau suatu pembahasan, yang mana dapat dipertanggungjawabkan secara akademik (keilmuan). Apa maksudnya yah teman-teman, he, simpelnya gini aja deh saya kasih contohnya, perbedaan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan berdasarkan ilmu.

Pengetahuan biasa:

Masyarakat berpendapat jika terjadi gerhana matahari, maka seolah-olah matahari itu sedang dimakan Buto Ijo, nah untuk mengusir Buto Ijo itu, masyarakat secara bersama-sama menabuh berbagai alat secara serentak dan keras, demi mengusi Buto Ijo

Pengetahuan berdasarkan ilmu:

Terjadinya gerhana matahari dikarenakan adanya posisi Bumi, Bulan, dan Matahari yang membentuk satu garis lurus

Nah, saya kira teman-teman semua bisa memberikan contoh yang lain, dari perbedaan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan berdasarkan ilmu, bisa dilanjut melalui kolom komentar yah kalau mau kasih contoh lain, atau bertanya tentang sesuatu, he  

Lalu, kita pahami bersama bahwa dari abad buahela sampai sekarang, abad-21, milenial, sudah terdapat berbagi macam jenis ilmu, tentunya teman-teman juga dari latar belakang sekolah yang berbeda-beda kan, ada yang dari SMP, SMA, dan SMK, nah ilmu yang dipelajari pun berbeda-beda, ada yang belajar ilmu pengetahuan alam (biologi, fisika, kimia dll), ilmu pengetahuan sosial (geografi, sosiologi, ekonomi dll), ada yang jurusan teknik mesin, teknik kendaraan motor, kelistrikan, dan sebagainya, bahkan belajar agama pun banyak cabangnya, seperti fiqh, akidah dan akhlak, al quran dan hadits, dan sejarah Islam. Di sini, saya hanya ingin berbagi tips saja, bahwa selama belajar dari SD sampai sekarang ini, ternyata semua ilmu itu penting dan pasti bermanfaat, tinggal bagaimana cara kita belajar, memahami, dan diamalkan dalam kehidupan. Tidak ada ilmu yang tidak berguna, yakin deh, he

Yakin? yah tentu saja kita harus yakin, kan poin kedua itu yakin (Iman). Teman-teman pasti ingat, kalau seseorang itu akan diangkat derajatnya dengan ilmu yang ada pada dirnya, itu pun bagi yang beriman. Nah terus, yang dimaksud beriman itu apa toh? Apakah beriman menurut orang Islam, atau beriman terhadap ilmu saja, tidak beriman kepada Tuhan? Itu kan orang-orang non-Islam pada pinter-pinter semua? Teknologinya juga canggih? Iya kan?

Jawabannya jelas, beriman itu seperti imannya orang Islam (rukun Islam, rukun Iman dan Ihsan). Meskipun secara kasat mata ada orang non-Islam yang lebih pintar dan canggih teknologinya, tapi kalau tidak digunakan sesuai aturan Tuhan, kan menjadi berbahaya, bisa-bisa merusak alam, bahkan merusak diri sendiri pun mungkin saja.

Menebang pohon secara berlebihan yang mengakibatkan tanah longsor, dengan alasan untuk lahan pabrik, bisnis, dan segudang alasan lainnya, terus mengubah bentuk tubuh melalui operasi ini dan itu, lebih ekstremnya lagi, ada yang mengubah jenis kelamin dengan alasan kebebasan individu (perjuangan hak asasi manusia), dan masih banyak contoh nyata di dunia ini.

Nah itulah teman-teman, jika ilmu tidak diiringi dengan iman yang benar, sesuai aturan Tuhan, maka akan merusak dan efek negatif lainnya. Bebeda, jika ilmu itu dibarengi dengan iman, pasti membawa kebaikan, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun seseorang itu mengamalkan ilmunya.

Beramal? Yah, kita diwajibkan untuk beramal, dengan ilmunya masing-masing, apalah artinya jika sudah berilmu dan beriman, tapi tidak diamalkan dalam kehidupan, bisa-bisa ilmunya tidak berkah, atau tidak bermanfaat bagi orang lain, lingkungan dan semuanya.

Kita sepakat yah, kalau hidup itu saling tolong-menolong dan membutuhkan satu sama lain, baik sesama manusia, kepada makhluk lain (hewan, jin) dan kepada lingkungan (hutan, sungai, dan ekosistem lainnya).

So! Tahap dan ciri terakhir dari pelajar intelektual adalah beramal, beramal berdasarkan ilmu yang telah dikuasai, dan dengan keyakinan penuh sesuai ajaran Islam terhadap ilmunya.

Bahwa dengan itu semua, in syaa Allah, seorang pelajar intelektual akan terbentuk, pelajar yang bermartabat, berakhlak, dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, sesama manusia, lingkungan-alam, bangsa dan negara, serta dunia dan akhirat, in syaa Allah.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *