Juni 16, 2021
Penggunaan Virtual Reality untuk Pendidikan Meningkat Saat Pandemi

Penggunaan Virtual Reality untuk Pendidikan Meningkat Saat Pandemi

JAKARTA:  Laporan dari World Economic Forum yang terbit pada Oktober 2020 menyebutkan,

bahwa penyerapan teknologi Virtual Reality dalam dunia pendidikan mencapai 70 persen hingga 2025.  Virtual Reality dinilai mampu meningkatkan pencapaian siswa dalam hal pemahaman materi, peningkatan emosi positif, hingga kemampuan berpikir kritis.

Terlebih lagi di era pandemi covid-19 seperti sekarang ini, banyak peserta didik mengalami kebosanan karena metode belajar daring yang kurang efektif.  Dampaknya, banyak peserta didik menginginkan metode belajar baru yang lebih menyenangkan meski harus dilakukan secara daring.

“Salah satu solusi bagi tenaga pendidik dan peserta didik adalah dengan menggunakan teknologi Virtual Reality sebagai media pembelajaran.  Pembuktian ini telah dilakukan di banyak negara dalam bentuk penelitian ilmiah universitas maupun penelitian independen,” kata Managing Director Millealab, Andes Rizky, Rabum 3 Februari 2021.

Virtual reality adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer.  Lingkungan tersebut dapat berupa tiruan yang sebenarnya maupun lingkungan imajinatif.

Andes mengatakan, hal inilah yang membuat LenteraEdu menginisiasi program Virtual Reality Ambassador untuk mencetak tenaga pendidik yang dapat menjadi pionir-pionir teknologi imersif dalam dunia pendidikan Indonesia.  Dalam program ini, LenteraEdu menggandeng Millealab yang merupakan satu-satunya produk Virtual Reality berbasis all-in-one platform cloud karya anak bangsa.

Andes meyakini, bahwa teknologi Virtual Reality dapat menjadi solusi bagi penyesuaian kegiatan belajar mengajar di era pandemi.  Sekaligus sebagai gerbang untuk menyatukan teknologi yang bersahabat bagi tenaga dan peserta didik secara bersamaan.

Millealab telah memberikan warna tersendiri dengan memberikan program pelatihan pembuatan Virtual Reality dan program kompetisi 1.000 guru dan 100 sekolah pionir VR di 34 provinsi sejak 2019.  Program ini didukung oleh Ikatan Guru Indonesia DKI Jakarta, SEAMOLEC, dan Pusat Data Informasi (Pusdatin) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Kami (Millealab) sebelumnya telah melakukan uji coba di 10 provinsi dengan bekerja sama dengan sekolah-sekolah yang direkomendasikan jaringan Ikatan Guru Indonesia,” terangnya.

Uji coba yang melibatkan 1.800 peserta didik dari jenjang dasar dan menengah ini memberikan hasil yang sangat positif. Dari data uji coba, penggunaan VR dapat meningkatkan emosi positif siswa hingga 90 persen, meningkatkan daya ingat dan pemahaman siswa pada konteks pembelajaran hingga 80 persen, dan juga mampu meningkatkan nilai rata-rata kelas hingga 53 persen.

Kombinasi antara pengalaman pendidik dan fasilitator dari LenteraEdu dengan teknologi bersahabat dari Millealab akan saling melengkapi.  Hal ini pun dibuktikan dengan banyak dan meriahnya antusiasme yang didapatkan dari proses pendaftaran VR Ambassador.

Hingga hari terakhir, jumlah data yang masuk sebagai pendaftar adalah 3 kali lipat dari target peserta. Dari jumlah ini, LenteraEdu dan Millealab melakukan seleksi hingga mendapatkan 100 calon ambassador terbaik.

Program VR Ambassador ini akan dilaksanakan sepanjang enam bulan. Program awalnya akan menargetkan untuk mencetak 100 VR ambassador yang dapat menciptakan pembelajaran inovatif dengan menggunakan teknologi VR dan melakukan ujicoba kepada peserta didik.

“Kemudian, para VR Ambassador ini wajib melakukan diseminasi kepada 50 tenaga pendidik di tempat mereka berada. Sehingga memperluas praktik baik dan dampak positif yang diberikan,” kata Head of Program Putera Sampoerna Foundation, Juliana.

Sumber : medcom.id  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *