TK Hingga SMP di Solok Tunda Pembelajaran Tatap Muka

sumatera barat

SOLOK: Wilayah Solok, Sumatra Barat, memilih menunda Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tingka Taman Kanak-Kanak hingga SMP. Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Solok Zulkisar mengatakan, penundaan dilakukan karena belum semua tenaga pengajar menjalani pemeriksaan covid-19.

Sesuai dengan surat edaran Gubernur Sumatra Barat, kata dia, pemeriksaan untuk mendeteksi penularan covid-19 harus dilakukan pada para guru di seluruh satuan pendidikan. Pemeriksaan wajib sebelum pembelajaran tatap muka dilaksanakan.

“Dalam surat edaran itu dijelaskan setiap guru pada satuan pendidikan wajib melakukan tes usap sebelum melaksanakan pembelajaran tatap muka,” kata Zulkisar di Arosuka, Selasa, 2 Februari 2021.

Ia mengatakan, pembelajaran tatap muka di sekolah sempat dilakukan pada Senin, 4 Januari 2021 mengacu surat edaran Gubernur Sumatra Barat.

“Namun setelah itu keluar lagi surat edaran gubernur tentang guru diwajibkan melakukan tes usap sebelum pembelajaran tatap muka,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa Dinas sudah mengajukan permohonan dana ke pemerintah kabupaten untuk melakukan pemeriksaan covid-19 pada guru-guru di sekolah. Bupati Solok disebut sudah menyetujuinya.

“Anggaran untuk pelaksanaan tes usap terhadap guru di Kabupaten Solok ini sekitar Rp500 juta,” katanya.

Ia mengatakan, ada sekitar 7.000 guru yang akan menjalani pemeriksaan usap covid-19. Ia menjelaskan, sekolah menengah atas dan kejuruan di Kabupaten Solok sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka karena tenaga pengajarnya sudah menjalani pemeriksaan covid-19.

“SMK dan SMA di Kabupaten Solok sudah mulai belajar tatap muka, karena tenaga pengajar sudah lakukan tes usap dan mereka di bawah naungan dinas provinsi,” kata dia.

Pembelajaran tatap muka di tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama akan dilakukan setelah para guru menjalani pemeriksaan covid-19. Kebijakan itu dijalankan guna mencegah munculnya klaster penularan virus corona di sekolah.

Salah satu orang tua seorang siswa sekolah dasar, Rahmi Dewi, 38, berharap pemerintah segera mengizinkan pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah. “Belajar secara daring itu susah, apa lagi anak saya masih kelas 3 SD, susah mengajarnya di rumah, enggak mau nurut sama saya,” kata Rahmi.

Sumber : medcom.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *