LP Maarif NU: Peta Jalan Pendidikan Perlu Tekankan Keagamaan

pendidikan agama

JAKARTA – Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Arifin Junaidi, mengatakan penting untuk mengingat pesan dari Sayyidina Ali, yaitu mendidik anak dengan memprediksi apa yang ada di masa depan.

Sebab, seperti kata Sayyidina Ali, anak-anak ini akan hidup di masa yang akan datang. Terkait hal tersebut, dia mengapresiasi atas dibentuknya peta jalan pendidikan.

“Peta jalan pendidikan penting, sebagai upaya menatap pendidikan hari ini dan masa yang akan datang,” kata Arifin, dalam FGD Peta Jalan Pendidikan, Selasa (2/2).

Dia menyarankan, dalam peta jalan pendidikan yang sedang disusun  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) perlu memelihara nilai-nilai yang baik dari kebijakan sebelumnya. Selain itu, Kemendikbud bisa menambahkan sesuatu yang baru untuk menyesuaikan. 

Arifin juga menyinggung soal pentingnya pendidikan agama dalam peta jalan pendidikan. Dia menilai, dalam desain peta jalan yang sedang disusun masih belum secara kuat merefleksikan pendidikan agama, moral, dan pembentukan karakter.

Menurutnya, penanaman nilai dan pelaksanaan ajaran agama bagi pemeluknya sangat penting dalam pendidikan. Selain itu, perlu ditekankan juga soal menghargai perbedaan agama serta menjalin kerukunan antarumat beragama.

Selain itu, Arifin juga berpesan agar peta jalan pendidikan seharusnya berdasarkan dari dimensi sejarah perjuangan bangsa. “Cita-cita besar para pendiri bangsa tetap harus menjadi orientasi kebangsaan dalam mendesain kebijakan pendidikan di masa depan,” kata dia menegaskan.

Bagi LP Ma’arif NU, peta jalan ini sangat penting. Saat ini, pihaknya mengelola 20.136 satuan pendidikan yang terdiri dari 38,9 persen sekolah dan 61,1 persen madrasah. Jumlah yang sangat banyak ini penting untuk memiliki peta jalan dalam pengembangannya.

Selain mengenai aspek sejarah, Arifin juga mengusulkan agar peta jalan memperhatikan aspek hidrometeorologis sebagai bagian dalam perancangan kebijakan pendidikan. Sebutan Indonesia sebagai negara cincin api menyebabkan potensi-potensi bencana cukup tinggi.

Dia juga mengusulkan, agar pelatihan guru penggerak yang digagas Kemendikbud tidak mengabaikan sumber daya yang sudah ada seperti LPMP. “Sebaiknya didesain dengan tidak mengabaikan sumber daya yang sudah ada supaya tidak kontraproduktif,” kata dia.

Sumber : republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *