Silent Sustained Reading (SSR) dan Peran Kita Penanam Fondasi Cinta Baca

OPINI

Oleh : Kris Wantoro Sumbayak

Apa jenis buku bacaan favorit anda? Anda suka membaca? Seberapa urgensi membaca di era banjir informasi kini? Jika jawabannya “Tidak ada”, “Tidak perlu” atau kata-kata senada; jangan mengharap lebih pada anak-anak!

Pertengahan bulan Januari, tepatnya Kamis tanggal 14 salah satu guru kelas (usia) kecil (berikutnya disebut panitia) mengumumkan program SSR (Silent Sustained Learning) yang akan dimulai awal pekan depan.

Menurut panitia, Silent Sustained Reading adalah membaca dengan tenang secara berkelanjutan/ terus-menerus, dilaksanakan setiap hari. Buku bacaan bisa berupa dongeng, biografi, komik dan lain-lain.

Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa, menjadikan membaca sebagai budaya/ kebiasaan, serta memfasilitasi perkembangan bahasa secara menyeluruh. Progam ini pernah dilakukan pada 2015, dan akan kembali ‘dihidupkan’. Bedanya, kali ini dilaksanakan dari rumah masing-masing.

Kebijakan pelaksanaan SSR di sekolah kami, anak-anak akan diberi buku cerita dalam bentuk PDF (soft file) yang diunggah ke kelas digital, Google Classroom. Dilakukan 10 menit tiap hari ( 5 halaman) setelah pembelajaran terakhir selesai.

Selesai? Tidak. Setelah membaca siswa diharuskan mengisi my reflection log, difoto dan dikumpulkan kepada wali kelas masing-masing. Jarak tak boleh pro kemandegan literasi serempak.

Sesuai kapasitasnya, format untuk usia kecil (kelas 1-2) lebih sederhana dibanding usia besar (kelas 3-6). Di sini yang menarik. Pada salah satu isian, anak bisa menuliskan kosakata baru yang ditemukan lalu mencari artinya melalui kamus (cetak, elektronik) atau menanyakan orang tua.

 Bagaimana kalau murid (usia kecil) belum bisa membaca? Nah, di sinilah peran kunci kolaborasi orang tua dan guru. Idealnya, anak bisa membaca-tulis-hitung berkat diajari guru (baca: orang tua membayar ke sekolah). Tapi sejak PJJ, orang tualah yang paling terjangkau dengan anak. Mau atau tidak, suka atau tidak, orang tua perlu mengambil peran mengajari dan mendampingi anak membaca.

Pertanyaan paling sulit dijawab, Bagaimana kalau anak tidak memiliki minat membaca? Sering, jika orang tua sibuk dan tak sabar, lebih mudah ‘menuduh’ guru. Apalagi anak lebih tertarik pada aktivitas di media sosial seperti Instagram, Youtube, dan—tentu saja—Tik-tok! Jangankan anak-anak, orang dewasa saja demen. Hayo ngaku…

Tidak masalah beraktivitas di media sosial tadi, toh memang sudah zamannya. Tapi tidak semua kebutuhan anak disediakan mereka. Apa saja kebutuhan itu?

Melansir bimba-aiueo.com, banyak manfaat yang diperoleh jika anak terbiasa membaca buku. Menambah kosakata baru, meningkatkan keterampilan komunikasi, mengenalkan konsep baru, melatih berpikir logis, melatih konsentrasi, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, membuka cakrawala, siap menghadapi kehidupan nyata, membangun hubungan erat dengan orang tua, membentuk pola dan perilaku sosial, serta meningkatkan prestasi akademik.

Salah satu kiat untuk membiasakan membaca ialah SSR. Sejak 1950-an Amerika sudah menjalankan proram ini. Berbagai istilah dipakai untuk menggerakkan program literasi ini, misalnya Free Voluntary Reading (FRV), Self-Selected Reading, Sustained Silent Reading (SSR), dan Drop Everything and Read (DEAR). Istilah terakhir diterapkan di sekolah tempat saya pernah mengajar SMP di Surabaya. Meski berbeda dalam pelaksanaan, tapi prinsipnya sama yaitu mengembangkan kemampuan tiap siswa membaca senyap tanpa jeda dalam waktu tertentu. (doingliteracy.id)

Apakah program SSR efektif? Ada lima prinsip yang menjadi penentu keberhasilan program SSR ini.

1. Siswa memilih/ dipilihkan bahan bacaan. Di sekolah kami, siswa dipilihkan dan dibagikan dalam bentuk soft file. Selain lebih hemat, sangat efektif. Mengingat kebutuhan di masa pandemi membengkak, sedang pendapatan orang tua stag, sebagian mungkin berkurang.

2. Guru menjadi contoh dengan ikut membaca senyap pada saat bersamaan.

3. Timer atau pembatas waktu yang disepakati bersama. Di sekolah kami, 10 menit tiap hari.

4. Tidak ada laporan atau tagihan yang diminta dari siswa. Tujuannya murni memberikan kesempatan siswa menikmati waktu membaca tanpa embel-embel nilai. Kebijakan khusus di sekolah kami, siswa harus mengisi lembar my reflection log tadi. Jika tidak begitu, mereka cenderung ogah-ogahan.

5. Seluruh kelas dan sekolah menjadi bagian dari SSR.

Nah, poin 2 dan 5 jadi masalah tersendiri. Apakah guru, kelas dan sekolah mampu jadi teladan dan bersama-sama murid mengerjakan SSR ini…?

Jika hanya perintah dan keharusan bagi murid, dipastikan hasilnya tidak akan maksimal. Ujungnya asal program berjalan. Lagi pula, kita (guru, orang dewasa) terbudaya memerintah bukan? Dengan banyak alibi sibuk, banyak kerjaan dan sebagainya. Padahal, teladan adalah fondasi mutlak agar anak mau mengerjakan apa yang kita perintahkan. Ingat, ini abad 21!

Tantangan terbesarnya justru pada guru dan sekolah. Jangan sampai kita memerintahkan siswa membaca tapi kita sendiri justru mengoreksi tugas, membuka laptop atau—lebih parah—mengoperasikan ponsel! Ya,

kitalah pemegang kunci untuk menanamkan tonggak cinta baca

Meski sekolah memfasilitasi program SSR, jika dirasa perlu, orang tua bisa menambah jadwal bersama anak. Setidak-tidaknya memberi perhatian, apa yang mereka baca dalam SSR hari ini. Apalagi di masa PJJ, di mana anak berlimpah waktu luang. Dengan apa anda mengisi waktu mereka?

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *