SKB Tiga Menteri Soal Seragam Sekolah Disambut, Wakil Ketua Komisi X DPR: Implementasi Harus Dipantau

Peraturan Pendidikan

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menyambut baik Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri soal Pakaian Seragam Sekolah.

Inisiatif Mendikbud, Mendagri, dan Menag ini menyebut kebebasan atribut keagamaan pada seragam sekolah merupakan hak individu setiap guru, murid, dan tenaga kependidikan di seluruh Indonesia.

Kepada wartawan, Rabu, 3 Februari 2021,  Hetifah menyebut SKB tersebut harus dapat meningkatkan kualitas pendidikan berkarakter sesuai nilai-nilai Pancasila.

Ia juga berharap aturan ini dapat menciptakan peserta didik, pendidik, serta tenaga kependidikan yang mencintai dan mengamalkan nilai agama yang dianut, sekaligus menjunjung tinggi toleransi perbedaan agama dan budaya.

“Saya menyambut positif inisiatif dari Mendikbud, Mendagri, dan Menag untuk menerbitkan SKB mengenai seragam sekolah yang menetapkan bahwa keputusan mengenakan atau tidak mengenakan atribut agama pada seragam terletak pada masing-masing peserta didik dalam semangat kebhinekaan dan toleransi beragama,” ujar Hetifah.

Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI ini juga menyampaikan baik Pemda maupun seluruh sekolah di Indonesia, kecuali Aceh, harus mengacu pada SKB Tiga Menteri tersebut.

Namun, jika masih terdapat peraturan daerah yang bernuansa intoleran, pemerintah perlu memberi waktu 30 hari setelah SKB ditandatangani agar aturan tersebut dihapus.

“Tentu saja implementasinya harus dipantau dengan baik hingga satuan pendidikan paling bawah. Saya juga mengapresiasi bahwa Kemendikbud telah menyediakan hotline pengaduan. Saya harap dengan ini tidak akan ada lagi peserta didik yang dibatasi haknya untuk belajar karena permasalahan busana,” kata dia.

Hetifah menambahkan semua pihak harus menghormati perbedaan sesuai prinsip bernegara, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

“Institusi pendidikan merupakan elemen penting untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, dan oleh karenanya harus bersifat inklusif dan mengakomodir perbedaan kepercayaan dan nilai-nilai dari setiap anak,” ucap dia.

Sumber : pikiran-rakyat.com  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *