Menjaga Pendidikan dan Kecerian Murid TK Tak Hilang

Pendidikan Usia Dini

Wajah Martha begitu ceria. Duduk di depan layar ponsel, dia sedang asyik bercengkrama. Sejumlah siswa Taman Kanak-Kanan (TK) menjadi kawan bicaranya pagi itu. Pembahasan mereka lebih banyak permainan. Martha terus mencoba beragam metode agar para siswa tetap semangat.

Kelas dimulai tiap jam 8 pagi. Sudah hampir setahun kelas diisi Martha menjalani proses belajar tatap muka via virtual selama pandemi Covid-19. Tak sedikit orang tua siswa ikut mendampingi. Menemani para anak agar mau ikut belajar.

Bukan menjadi hal mudah bagi perempuan 28 tahun itu mengajar semua siswanya. Sulit membuat para murid TK berminat interaksi daring. Mereka lebih cepat bosan dan justru meninggalkan pelajaran. Tidak mudah memang menjalani proses belajar dengan cara ini.

“Anak-anak terlihat tidak semangat, malas menerima pelajaran. Tapi mungkin karena pelajarannya tidak menyenangkan atau memang mereka sudah bosan dengan situasi seperti ini,” ujar Martha bercerita kepada merdeka.com pada Selasa, 2 Februari 2021 lalu.

Suara riang para siswa TK di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, menjadi hal paling dirindukan. Tidak ada lari murid lari ke sana-sini. Tiada lagi tawa dan tangis di kelas yang didengar. Semua kini terpaku di depan layar ponsel maupun laptop. Riuh suasana kelas itu mendadak sunyi akibat pandemi Covid-19.

Martha memahami bahwa usia anak TK sangat tidak nyaman belajar secara daring. Sebab sejatinya, anak pada jenjang awal di dunia pendidikan ini sangat membutuhkan aktivitas fisik dan saling berinterkasi untuk meningkatkan kualitas sosial mereka.

Sebagai pengajar, tentu masalah ini menjadi tanggungjawab berat. Semua cara sesuai aturan pemerintah dan sekolah harus dituruti. Ini demi membantu menekan penyebaran virus asal China tersebut.

Dalam proses belajar daring, durasi kini hanya 45 menit. Waktu ini berkurang cukup jauh. Beragam materi Martha dan guru lain siapkan tiap hari. Mencoba berbagai cara agar anak antusias mengikuti pembelajaran.

Setelah durasi belajar daring usai, anak-anak didik tetap melakukan tugas luring. Hasil mereka kemudian diunggah ke Seesaw, sebuah platform digital bagi murid dan guru saat mengunggah tugas.

“Durasi ini, durasi yang efektif anak-anak menerima pelajaran dengan baik sekaligus ini secara tidak langsung berdampak terhadap guru dengan mempersiapkan materi dengan baik,” kata dia.

Tiap pengajar, kata Martha, diminta mengajar yang mampu merangsang kreativitas motorik anak. Caranya para orang tua murid datang ke sekolah sesuai jadwal ditentukan agar tidak menimbulkan kerumunan. Mereka kemudianmengambil learning kit (alat pembelajaran).

Bermacam learning kit diberikan tergantung tema yang akan dikerjakan. Esok harinya, para murid bersiap mengembangkan materi bersama-sama saat belajar daring dimulai. Upaya itu diharapkan mampu menjaga kemampuan murid tidak dalam belajar.

Fokus anak-anak di jenjang TK memang untuk bermain dan beraktivitas yang menyenangkan. Tentu perlu diselingi belajar. Jika terdapat paradigma jenjang pendidikan tersebut merupakan kesempatan anak belajar membaca dan menulis maka pemikiran ini banyak ditentang.

“Jadi di TK bukan melatih calistung (membaca menulis berhitung), ini mindset yang keliru,” ujar Pakar Pendidikan, Doni Koesuma, Kamis kemarin.

Sebenarnya aktivitas pembelajaran online di masa pandemi menjadi momen berharga bagi orang tua dan murid. Mereka bisa meningkatkan kualitas komunikasi yang mungkin selama ini sangat berjarak. Sehingga peran orang tua di rumah menjadi krusial.

“Bagaimana guru dan orang tua berkomunikasi dalam proses pendidikan anak selama masa pandemi. Komunikasi orang tua tidak harus melalui tatap muka daring kalau alat-alat ini tidak tersedia,” kata Doni menjelaskan.

Terkendala Masalah Ekonomi

Daya ekonomi dan sosial turut membentuk bagaimana sekolah menyiasati minat belajar bagi anak didik TK. Mengajarkan mereka secara daring hampir mustahil efektif. Terlebih para orang tua dari murid di sekolah minim pengetahuan dengan teknologi.

Kondisi ini dialami Siti, kepala sekolah TK swasta di Bekasi. Harus diakui bahwa banyak orang tua terkendala mengoperasikan aplikasi virtual. Di samping itu, kuota internet juga salah faktor utama. Tidak semua orang tua siswa mampu untuk ikut belajar virtual dengan alasan ekonomi.

Padahal, Siti dan guru-gurunya sangat mendukung belajar daring jika melihat kondisi pandemi saat ini. Namun, hal ini tidak bisa dipaksakan jika elemen yang penting seperti kemampuan orang tua, tidak bisa mengimbangi kemajuan teknologi.

“Di sini kendalanya di orang tua, selain itu kuota juga masih kendala utama melakukan kelas daring,” ujar wanita berusia 45 tahun tersebut kepada merdeka.com.

Orang tua para murid di sekolah Siti rata-rata bekerja sebagai buruh kasar. Masih sedikit di antara mereka memiliki akses luas untuk mengoperasikan sebuah aplikasi di luar Whatsapp atau menonton video via Youtube.

Dalam memberikan tugas untuk para siswa, Siti meminta mendokumentasikan memakai format video. Sehingga aktivitas anak direkam agar para guru bisa melihat perkembangannya.

Siti pun berinisiatif tetap melaksanakan sekolah tatap muka. Tidak semua hadir nantinya. Langkah ini diambil agar para guru tetap melakukan penilaian perkembangan daya belajar murid secara langsung. Sebab melakukan penilaian secara daring, dianggapnya tidak maksimal.

Selain itu, hal penting bagi Siti adalah para lulusan sekolahnya mampu membaca dan menulis. Dua kemampuan itu menurutnya menjadi modal utama untuk masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya, Sekolah Dasar (SD).

Tuntutan agar orang tua kreatif selama mendampingi buah hati juga dirasakan Rina, 28 tahun. Anaknya yang berusia 4 tahun merupakan murid TK swasta di Bekasi. Sebagai ibu, dia mengakui bahwa mendampingi anak belajar daring sangat sulit. Namun, segala keluhan dan stress itu mampu direda dengan cara berkomunikasi dengan guru secara intens.

Rina dengan guru kelas kerap kali saling bertukar ide agar anak mau menerima pelajaran dan tidak bosan. Salah satunya, melakukan video call saat anak Rina malas mengerjakan tugas lipat kertas.

Upaya itu dilakukan lantaran perasaan putri Rina sangat mudah berubah. Jika anak menolak melipat kertas, Rina langsung melakukan panggilan video kepada guru. Nantinya, guru akan bertanya keinginan anak Rina atau bahkan memberikan nilai bintang jika sang anak mau melipat kertas. “Cara itu sedikitnya ampuh. Jika di kemudian hari anak kembali menolak belajar, cara lain akan dilakukan,” ucap Rina mengungkapkan.

Sumber : merdeka.com  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *