Metode Mendidik Anak Versi Animasi Upin dan Ipin Ini Kurang Relevan dengan Perkembangan Zaman

OPINI

Oleh : Agil S Habib

Film animasi kartun asal negeri jiran Malaysia, Upin & Ipin, memang termasuk salah hiburan paling menarik khususnya bagi anak-anak. Meskipun menggunakan bahasa melayu sebagai pengantarnya tapi hal itu sepertinya tidak menghalangi minat banyak penggemar untuk menikmati sajian cerita dari animasi lucu tersebut.

Cukup banyak pesan moral yang disampaikan oleh animasi kartun ini yang memberikan pembelajaran berharga bagi para penikmatnya. Solidaritas, kesetiakawanan, optimisme, kekeluargaan, kesederhanaan, dan lain sebagainya. Seandainya diminta rekomendasi tontonan apa di televisi yang bisa menjadi tuntutnan bagi anak-anak khususnya maka kartun Upin & Ipin adalah salah satu tontonan tersebut.

Tapi bagaimanapun juga tidak aga gading yang tak retak. Tidak ada yang sempurna di dunia. Begitupun dengan animasi kartun Upin & Ipin inipun juga memiliki sisi kekurangannya sendiri. Apa saja?

“Pendidikan merupakan sesuatu yang vital dalam membangun peradaban serta membentuk karakter generasi. Diperlukan sebuah upaya yang selaras dengan zaman itu sehingga karakter yang terbentuk benar-benar berkualitas.”

Kebiasaan Kak Ros yang Galak dan Kadang Memukul Adik-adiknya

Upin & Ipin merupakan dua bocah kembar berstatus yatim piatu yang ditinggal mati kedua orang tuanya. Bocah-bocah lucu ini lantas hidup hanya dengan nenenknya yang dipanggil Opa dan juga seorang kakak perempuan yang dipanggil Kak Ros. Upin & Ipin merupakan dua bocah lucu dan menggemaskan. Namun terkadang perilakunya membuat jengkel orang lain termasuk Kak Ros. Dalam beberapa kesempatan tingkah bocah-bocah kecil ini terkadang memang keterlaluan sehingga membuat Kak Ros jengkel dan marah-marah. Tidak jarang karena seringkali dibuat jengkel oleh adik-adiknya Kak Ros pun akhirnya memukul Upin & Ipin. Dalam salah satu episode pernah ada pukulan yang menderat di pipi kedua bocah itu. Sedangkan dalam beberapa episode yang lain pantat Upin & Ipin lumayan sering menjadi sasaran tabokan dari sang kakak.

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin ketika menjalin interaksi dengan anak-anak adakalanya kita dibuat jengkel, marah, dan sejenisnya. Rasanya ingin sekali mencubit atau memukul mereka. Padahal bisa jadi apa yang mereka lakukan adalah semata karena kepolosan yang mereka miliki. Memberikan hukuman fisik memang dianggap paling ampuh dalam memberikan pemahaman kepada anak. Akan tetapi disisi lain hal itu juga memberikan efek takut yang membuat mereka segan untuk mendekat. Dizaman dulu mungkin tidak sedikit dari orang tua kita yang menempuh cara demikian dalam mendidik anak. Barangkali diantara kia termasuk juga diantaranya. Seiring perkembangan zaman tentunya ada banyak hal yang perlu disesuaikan. Sehingga kebiasaan memberikan hukuman fisik seperti pukulan itu rasa-rasanya sudah tidak tepat lagi dilakukan.

Selain hukuman fisik, bentakan sikap galak seseorang yang berujung bentakan ternyata juga kurang baik. Hal itu akan sangat mempengaruhi proses perkembangan syaraf anak. Terutama bagi mereka yang sedang dalam periode emas pertumbuhan.

Cikgu Besar Suka Memberikan Hukuman Fisik Kepada Siswa-siswinya

Sosok Cikgu Besar atau kepala sekolah dalam animasi Upin & Ipin digambarkan dengan tampangnya yang garang dan judes. Sikapnya cenderung menakutkan bagi anak-anak. Dalam suasana normal Upin & Ipin di sekolah bersama teman-temannya lebih banyak dihiasi dengan canda tawa. Namun suasana bisa berubah senyap tatkala Cikgu Besar lewat. Lebih-lebih ketika ibu kepala sekolah itu masuk ke dalam kelas dan memeriksa kuku-kuku para murid. Dia yang ketahuan berkuku panjang akan mendapatkan pukulan tidak menyenangkan dari si kepala sekolah. Sekaligus luapan marah dan juga ceramah yang panjang lebar. Penegakan disiplin sekolah umumnya memang menerapkan hukuman fisik seperti itu. Dan sepertinya cara-cara serupa sudah diadopsi sejak lama.

Namun pendidikan masa kini sepertinya kurang relevan dengan cara-cara “kekerasan” fisik dalam upaya mendisiplinkan anak didik. Cara persuasi mungkin lebih tepat dilakukan meskipun tidak selalu lebih mudah dijalankan. Tantangannya pasti akan lebih sulit dibandingkan sekadar menempuh jalan pintas melalui pemberian hukuman fisik.

Perilaku anak-anak sekolah mungkin dipelengkapi dengan kekonyolan serta hasrat untuk membangkang. Akan tetapi justru disanalah letak peran fungsi seorang guru diperlukan. Mereka harus bisa membentuk kepribadian para murid dengan cara yang lebih bersahabat.

Sayyidina Ali Karumallahu Wajhah pernah mengatakan agar mendidik anak sesuai zamannya. Seiring dengan mulai bermunculannya generasi Alpha maka cara-cara untuk mendidik mereka pun perlu diperhatikan. Penegakan disiplin terkadang tidak harus selalu menggunakan cara-cara berbau fisik, namun lebih mengedepankan pendekatan persuasif dari hati ke hati.

Sulit? Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Memang menjadi tugas utama seorang pendidik untuk menyampaikan cara mendidik dengan metode yang paling bersahabat. Apabila nilai-nilai kedisiplinan bisa ditanamkan dengan cara yang lebih santun mengapa harus dilakukan dengan cara kasar? Apabila upaya mewujudkan metode semacam ini teramat sulit dilakukan maka memang disanalan seorang pendidik layak diberikan apresiasi besar, gaji yang layak, dan penghormatan yang luar biasa.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *