Pesantren dan Boarding School Solusi Pendidikan saat Pandemi

OPINI

Oleh : Muhammad Iqbal, Ph.D (Psikolog/Dekan Fak Psikologi Universitas Mercu Buana)

PANDEMI Covid-19 terjadi telah mengubah banyak tatanan dunia, mulai dari ekonomi, sosial hingga pendidikan. Jutaan anak di seluruh penjuru dunia tidak bisa mengikuti pendidikan sebagaimana mestinya. Karena pembatasan gerak sekolah terpaksa dilakukan secara daring/online, ini tentu saja merubah perilaku dan kebiasaan siswa sehingga tentu saja ada banyak keluhan dan kendala dalam proses pembelajaran.

Ada banyak kendala dalam pelaksanaan pembelajaran saat pandemi yang dilakukan secara daring, karena minimnya dukungan fasilitas, kesiapan pendidik hingga terbatasnya kuota, hingga sulitnya anak berkonsentrasi dalam pendidikan daring. Sementara itu pendidikan dasar dan menengah adalah fondasi utama bagi anak dalam melanjutkan pendidikan tinggi dan karir ke depan, termasuk fondasi dalam pembentukan karakter serta akhlak, sehingga harus ada upaya yang progresif untuk meningkatkan kualitas Pendidikan saat pandemi.

Situasi Covid-19 diprediksi akan berlangsung lama, walaupun vaksin sudah mulai di suntikan, tidak ada jaminan Corona akan berhenti. Apalagi yang bisa divaksin usia 18-59 tahun sehingga anak tidak termasuk kategori penerima vaksin dan tentu saja pendidikan daring harus dilakukan dalam waktu lama.

Bahkan para ilmuan dan pengamat memprediksi pandemi ini akan berlangsung lama bisa sampai 4-5 tahun ke depan. Ini tentu saja memerlukan sebuah inovasi dan kreatifitas serta kebijakan yang progresif, bila tidak kita akan mengalami “lost generation” karena anak tidak mendapatkan Pendidikan yang berkualitas.

Kelemahan pendidikan daring adalah pembentukan karakter dan akhlak. Sistem daring membuat guru mengalami kesulitan dalam mendidikan, membentuk dan mengawasi siswa. Padahal tujuan pendidikan nasional itu bukan hanya pelajaran akademik saja namun juga akhlak mulia. Ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dalam UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa tujuan Pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Namun, tidak semua pendidikan terhenti, ada sekolah yang bisa berjalan, yaitu sekolah berasrama “boarding” seperti pesantren dan sekolah umum yang berbasis pendidikan karakter (akhlak mulia) atau yang dikenal dengan “boarding school”. Di era pandemi pesantren dan “boarding school” masih tetap berjalan .

Di beberapa tempat sekolah berasrama dan pesantren tetap bisa menjalankan pendidikan di saat pandemi. Ini karena sekolah berasrama berada dalam satu kawasan yang mudah di awasi dan tidak bercampur dengan dunia luar. Guru juga tinggal dalam satu kawasan sekolah sehingga mereka sangat mudah “dikarantina” dan bila ada yang terkena sangat mudah terdeteksi.

Di sekolah berasrama dan pesantren pendidikan bisa berjalan sebagaimana biasa. Mereka belajar dari pagi hingga malam serta program-program yang membentuk karakter dan akhlak mulia.

Tentu saja ke depan generasi pesantren dan sekolah berasrama ke depan di prediksi akan unggul di bandingkan sekolah umum biasa bila sekolah umum, khususnya milik pemerintah tidak progresif dan inovatif dalam mendesain pembelajaran di saat pandemi

Di era pandemi, bila orang tua tidak mampu membimbing anak dalam belajar daring, kurang ketrampilan dan kesabaran. Untuk itu saya menyarankan orang tua Ketika tahun ajaran baru bisa memasukan anaknya ke pesantren atau sekolah berasrama yang bisa berjalan dengan baik di saat pandemi.

Pesantren dan sekolah berasrama juga harus bisa bertranformasi di era digital saat ini. Literasi digital dan penguasaan teknologi informasi harus menjadi perhatian serius dalam kurikulum pembelajaran. Jangan sampai mereka lulus namun tertinggal teknologi informasi

Namun kendala yang dihadapi orang tua dalam memasukan anak ke pesantren atau “boarding school” adalah biaya. Untuk itu saya mengusulkan kepada pemeritah agar segera membuat terobosan dengan mendirikan sekolah-sekolah berasarama di tingkat kabupaten/kota dan provinsi sebagai sebuah upaya.

Dari pada pemerintah mengeluarkan biaya hingga triliunan rupiah untuk kuota internet, dan banyak mubazir serta berpotensi merugikan Negara karena banyak siswa yang tidak memiliki gadget dan tidak mendapat sinyal di daerahnya, ada baiknya anggaran tersebut digunakan untuk membangun sekolah berasrama berbasis karakter. Khususnya pada jenjang pendidikan menengah dan menengah pertama, sehingga bisa melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan berakhlak mulia.

Sumber : sindonews.com  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *