PGSD UMM Gelar Webinar Pendidikan Era Society 5.0

OPINI

Oleh : Dilla Rahma

MalangProdi Pendidikan Guru Sekolah Dasar fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang gelar Seminar Nasional daring, Rabu (3/2). Hadir sebagai pemateri, Pelaksana Kurikulum Pendidikan Direktorat Sekolah Daswar, Wali Kota Batu, Dekan FKIP UMM, dan Kaprodi PGSD. Kali ini, tema yang diangkat adalah tema futuristik “Menyiapkan Pendidik Profesional di Era Society 5.0”.

Dalam sambutannya, Dr. Fauzan, M.Pd., Rektor UMM, mengapresiasi langkah responsif Prodi PGSD terharap isu mutakhir dunia pendidikan. Menurutnya, investasi pendidikan adalah investasi yang sangat berguna bagi bangsa dan negara. Ia pun berharap, kegiatan ini dapat dapat berkontribusi untuk dunia pendidikan pada umumnya dan para pendidik pada khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan baru dalam dunia pendidikan dewasa ini.

“Saya berharap dengan adanya seminar ini dapat menjadi rujukan bagi pelaksanaan merdeka belajar dan membantu para pendidik dalam menghadapi berbagai tantangan baru di dunia pendidikan,” pungkas Fauzan.

Setelah revolusi industri 4.0, era society 5.0 memang menjadi topik yang hangat diperbincangkan dalam berbagai diskursus. Society 5.0 memiliki visi mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik untuk menciptakan masyarakat yang cerdas dan dewasa dalam menggunakan teknologi. 

Terkait hal ini, Analis Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Direktorat Sekolah Dasar, Dwi Nurani, mengatakan profesi guru harus berorientasi pada pembelajaran abad 21 yang mengintegrasikan pembelajaran dan teknologi.

“Pendidik harus memiliki keterampilan di bidang digital dan berpikir kritis. Perlu literasi data, manusia, teknoilogi, dan pembelajar sepanjang masa,” tuturnya.

Namun begitu, disadari bahwa ini memang tidak mudah untuk diterapkan. Apalagi saat ini kita berada dalam situasi pandemi Covid-19.

“Ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dalam menghadapi Society 5.0 dan pandemi Covid-19. Pertama adalah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kedua adalah kendala sinyal yang tidak merata. Ketiga perubahan kebiasaan dari luring ke daring,” terang Dwi.

Dalam hal ini, Dekan FKIP UMM mengatakan, merdeka belajar bisa menjadi terobosan dalam beradaptasi dengan kemajuan zaman.

“Merdeka belajar dapat menjadi sebuah terobosan dalam Pendidikan untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman. Pendidik diberikan keleluasaan mengeksplorasi kreativitasnya dalam pembelajaran, terlebih pada masa pandemi seperti saat ini,” terang Dr. Poncojari Wahyono.

Di sisi lain, Walikota Batu menjelaskan tentang Kebijakan Pendidikan pada masa pandemi covid-19 di Kota Batu. Dalam keterangannya, Dewanti Rumpoko mengatakan Kota Batu belum menerapkan pembelajaran tatap muka meski sempat berada di zona kuning.

Berdasarkan survey yang dilakukan kepada siswa SMP di Kota Batu, 80% responden menginginkan pembelajaran tatap muka. Namun, tentu keinginan itu belum bisa dilaksanakan karena kesehatan harus diutamakan.

“Tapi masalah kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan harus lebih diutamakan,” ungkapnya.

Namun, Kota Batu terus menyiapkan infrastruktur di sekolah untuk memenuhi protokol kesehatan, seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan sebagainya.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *