Fenomena Rendahnya Budaya Menulis Guru

OPINI

Oleh : Cipto Lelono

Sebagai  kesimpulan, rendahnya budaya menulis guru masih memerlukan penelitian dan kajian yang komprehensif. Namun  apabila dilihat sebagai fenomena, kondisi tersebut dapat menjadi  fakta yang bisa dijadikan bahan perbincangan.

Fenomena tersebut setidaknya bisa dicermati pada  jumlah  yang tidak sebanding antara guru golongan  IV/a dengan guru golongan IV/b. Kondisi tersebut muncul sebagai akibat diterapkannya syarat “wajib menulis” dalam bentuk laporan penelitian. Dampaknya banyak guru yang memiliki golongan IV/a sudah lebih dari 10 tahun, belum bisa naik pangkat karena belum bisa menunjukkan karya tulisnya. Dampak lanjutan kebijakan tersebut, sekarang sudah dirasakan oleh guru-guru yang mempunyai golongan III/d. Sebab untuk naik pangkat ke IV/a, juga wajib menyusun laporan penelitian.

Mengapa fenomena tersebut bisa muncul ? Hal ini tentu memunculkan beberapa kemungkinan sebagai penyebab. Kemungkinan bisa berasal dari internal diri guru sendiri maupun eksternal di luar guru. Faktor  internal  bisa saja terkait dengan motivasi, mindsite dan orientasi guru.

Motivasi berkaitan erat dengan apa yang ingin dilakukan guru dalam menjalankan tugas profesinya. Ketika keinginan guru dalam melayani siswa secara maksimal, maka secara otomatis guru akan mencari berbagai metode, media, strategi maupun pendekatan yang bervariasi. Kondisi  demikian akan mendorong guru berusaha melakukan pemetaan kelebihan dan kekurangan tentang proses pembelajaran yang dijalankan. Sampai tahap inilah ada celah guru melakukan iktiar menulis problematika di kelasnya melalui tulisan.

Mindset berkaitan erat dengan pola pikir guru tentang profesinya yang dijalani. Ketika pola pikir guru dalam menjalankan tugas profesinya dilandasi dengan mindset yang dinamis, terbuka dapat dipastikan guru membutuhkan asupan materi dan langkah-langkah yang diperlukan guna melayani kebutuhan peserta didiknya di kelas.

Langkah tersebut akan mendorong guru membaca berbagai sumber yang relevan. Pada tahap inilah ada celah guru untuk menulis  segenap kebutuhan peserta didiknya dalam proses pembelajaran. Tahap berikutnya, ada celah yang memungkinkan guru mencoba menulis problematika yang terjadi di dalam kelasnya, baik yang menyangkut keaktifan, motivasi, kerjasama, kreativitas, dll  yang masih dianggap mempunyai masalah.

Orientasi berkaitan erat dengan idealisme guru dalam menjalankan tugas profesinya. Ketika orientasi guru diarahkan pada layanan pembelajaran yang aplikatif dan  reflektif, maka guru akan berjuang menjadi  sosok guru yang profesional. Pada saat orientasi menempatkan bingkai layanan yang professional, maka guru akan berjuang sekuat tenaga agar dalam melayani peserta didiknya di dalam kelas tidak sekedar menjalankan tugas formal, tetapi menyiapkan generasi muda yang mempunyai kecerdasan intelektual, sosial maupun spiritual. Kondisi demikian akan mendorong guru berusaha menjadi sosok yang inspiratif bagi peserta didiknya. Ketika kondisi demikian terwujud, guru akan berusaha  menjadi teladan  baik langkah pengembangan ilmu, sikap dan perilakunya. Di sinilah celah besar guru menulis terbentang luas.

Sedangkan faktor eksternal, terdapat beberapa kemungkinan antara lain sistem lingkungan kerja yang belum mendukung, kontrol  kegiatan pengembangan guru yang  belum maksimal dan reward yang dipandang belum sepadan.

Sistem lingkungan kerja bisa berupa budaya yang berkaitan dengan budaya menulis. Apabila budaya tersebut sudah mapan, kemungkinan besarnya akan mendorong guru berkompetisi dalam melahirkan budaya menulisnya. Apabila belum, maka akan berpulang pada kesadaran guru sendiri dalam melakukan budaya menulis.

Kontrol terhadap kegiatan pengembangan diri guru juga penting dalam menumbuhkan budaya menulis guru. Baik itu kegiatan diklat fungsional yang dilakukan maupun kegiatan kolektif yang dilakukan guru. Langkah ini berfungsi untuk memacu guru dalam melakukan pengembangan diri, khususnya budaya menulis.

Reward yang memadai merupakan langkah penting dalam mendorong guru meningkatkan budaya menulis. Langkah ini juga berfungsi untuk memberikan motivasi guru untuk berjuang melahirkan budaya menulisnya.  Yook…mulai belajar menulis !!

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *