Pemerhati pendidikan Papua di Meepago sebut buku lebih baik dari internet

Metode Belajar

Zaman dulu mahasiswa yang ingin mencari referensi untuk mengerjakan tugas kuliah atau mempelajari tentang banyak hal, harus meluangkan waktu untuk mencarinya di rak-rak buku yang ada di perpustakan kampus. Terkadang jumlah buku yang bisa dipinjam pun terbatas. Sering kali pula mahasiswa bersusah payah menulis dengan tangan atau mesin ketik ketika mengerjakan tugas.

Hal di atas dikatakan, Adii Tiborius, pemerhati pendidikan Papua di Meepago. Menurutnya keadaan itu berubah secara drastis seiring perkembangan di bidang informasi teknologi atau information technology (IT). Kehadiran internet disusul dengan ditemukannya mesin pencari atau Google membuat segalanya menjadi lebih mudah.

“Untuk mendapatkan informasi ter-update atau berbagai referensi untuk tugas akademik, mahasiswa tidak lagi harus mencari dengan susah payah di perpustakaan. Tinggal duduk di depan monitor komputer, di smartphone buka google.com dengan mengklik sekali saja. Dalam hitungan detik, semua yang memiliki hubungan dengan kata kunci yang ditulis akan muncul. Tinggal pilih mana yang diinginkan atau dirasa memiliki relevansi dengan pemenuhan kebutuhan. Mudah sekali,” katanya, kepada Jubi, Minggu (7/2/20210).

Kemudahan itu menurut Adii, membuat para pengguna internet sangat termanjakan. Tugas yang dulu membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dan pemikiran atau kontemplasi yang mendalam, kini bisa diselesaikan dengan cara yang terbilang instan.

Namun, lanjut dia, hal itu tidak membuat mahasiswa menjadi semakin cerdas. Sebaliknya justru membuat pola pikir para mahasiswa menjadi dangkal. Dicontohkannya, dahulu seorang mahasiswa yang diberi tugas oleh dosen untuk membuat makalah akan pergi ke perpustakan untuk mencari buku dan kemudian membacanya, hingga ia menemukan pemahaman.

“Apakah memiliki relevansi dengan tugas tersebut atau tidak. Walaupun sangat banyak dan tebal buku yang harus dibaca, tapi mahasiswa tetap melakukannya demi melaksanakan tugas dari dosen. Hal yang sama tidak akan terjadi di era internet sekarang. Kebanyakan mahasiswa saat ini lebih suka memilih untuk menggunakan jalan pintas,” katanya.

Dalam kasus ini, kata dia, bisa dipastikan bahwa sebagian besar dari mahasiswa hanya akan membuka google.com dan mencari apa saja yang dibutuhkan. Tanpa perlu membaca hingga akhir serta banyak pertimbangan, mereka akan langsung menyalin materi yang ada di internet itu dan bahkan mengganti identitas penulisnya dengan identitas mahasiswa itu.

“Dari sinilah praktek plagiarisme menjadi lebih marak lagi. Ironisnya lagi, tidak hanya mahasiswa saja yang melakukannya, tetapi juga tidak sedikit dosen, bahkan yang sudah bergelar profesor sekalipun. Pernah terjadi, seorang calon doktor yang batal mendapatkan gelarnya, lantaran belakangan diketahui bahwa ia menggunakan hasil penelitian orang lain. Juga pernah mencuat kasus plagiarisme yang dilakukan oleh dua calon profesor yang berasal dari Manado. Sesungguhnya, semua itu adalah bukti faktual bahwa sering kali di balik kemudahan yang ditawarkan oleh internet, terdapat efek negatifnya, yakni kecenderungan untuk melakukan plagiarisme semakin besar di segala kalangan dalam dunia akademik,” tuturnya.

Lanjutnya, plagiarisme hanya semakin mempertumpul otak untuk berpikir kreatif. Ia menjelaskan, Nicholas Carr dalam bukunya berjudul The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains? menyebut tentang bahaya internet bagi otak, karena berpengaruh pada cara berpikir. Menurutnya, kurangnya wawasan mengenai bahaya internet telah membuat sebagian orang terjerumus kepada hal negatif, yaitu kecenderungan untuk mengarah kepada alam kedangkalan dan budaya instan, sehingga menyebabkan daya kreativitas lumpuh atau mati.

“Sebab, budaya instan itu telah mendorong untuk kita tidak mau lagi menggunakan otak untuk berpikir secara maksimal. Memang, tidak ada aturan yang melarang untuk percaya pada internet. Namun, jika internet hanya akan semakin memperdangkal pikiran dan kreativitas, serta mendorong untuk melakukan plagiarisme, maka lebih baik meminimalisir penggunaannya,” sarannya.

Sementara itu, Koordinator Gerakan Papua Mengajar (GPM), Agustinus Kadepa, mengatakan internet sesungguhnya telah banyak membantu manusia, utamanya mahasiswa dalam melaksanakan tugas-tugas perkuliahan dari dosen.

“Namun, tidak dapat dipungkiri pula bahwa internet juga memicu tindak plagiarisme yang menyebabkan kedangkalan berpikir dan membuat kita jadi tidak kreatif,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia berharap budaya membaca dan menulis harus digalakkan kembali. Sebab, keduanya akan melatih otak untuk terus berpikir. “Karena jika orang terus berpikir maka akan semakin cerdas dan kreatif, sehingga mampu menambah kepercayaan terhadap kemampuan diri dan akan semakin jauh dari plagiarisme yang merupakan ‘dosa’ terbesar dalam dunia akademik.”

Sumber : jubi.co.id  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *