Menag Lakukan Pemetaan Awal Dorong Kemandirian Pesantren

Madrasah

JAKARTA:  Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, ia telah menugaskan jajarannya untuk membuat kajian awal terkait kemandirian pesantren. Hal ini disampaikan Menag Yaqut saat menerima audiensi Pengasuh Pondok Pesantren Motivasi Indonesia (PMI) KH Ahmad Nurul Huda, di Kantor Kementerian Agama.

“Salah satu mandatori yang diberikan Presiden kepada saya itu terkait dengan kemandirian pesantren. Presiden menekankan betul. Oleh karenanya kami melakukan pemetaan awal terkait hal ini,” tutur Menag Yaqut, Senin, 8 Februari 2021.

Menurut Menag, pemetaan awal ini amat penting guna memberikan treatment yang tepat bagi tiap-tiap pesantren. Apalagi, saat ini terdapat sekitar 31 ribu pesantren di Indonesia. “Karena tiap pesantren itu kan berbeda kebutuhannya. Karenanya kita perlu tahu untuk mengklasifikasi dan memberikan dukungan yang tepat,” kata Menag.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengapresiasi Pesantren Motivasi Indonesia yang saat ini memiliki berbagai program pemberdayaan ekonomi.  Seperti biro travel haji dan umrah serta kerja sama digital marketing dengan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).

“Keberhasilan PMI dalam pemberdaayaan ekonomi ini bisa menjadi prototype bagi pesantren lain yang ada di Indonesia. Bahkan kalau bisa berjejaring lebih baik lagi. Titik tekannya itu kemandirian,” pesan Menag.

Sebelumnya, Pengasuh PMI KH Ahmad Nurul Huda menyampaikan, pondok pesantren yang genap berusia sembilan tahun pada Februari 2021 ini telah bekerja sama dengan sekitar 200 UMKM di kabupaten Bekasi selama pandemi ini.

“Semula kerja sama ini dilakukan karena kami memiliki Pesantren Motivasi Indonesia (PMI) Mart. Banyak UMKM di Kabupaten Bekasi ini pada saat pandemi mereka kebingungan. Mereka bisa memproduksi, tapi tidak bisa menjual,” tutur pria yang akrab disapa Gus Enha ini.

“Kemudian mereka menitipkan jualannya di PMI Mart ini. Kebetulan, santri-santri kami juga kan belajar digital marketing, mulai lah para santri membantu memasarkan barang umkm tersebut secara online. Ternyata ini efektif dan sangat membantu sekali,” sambungnya.

Saat ini, pesantren yang juga dikenal sebagai Istana Yatim ini juga telah bekerja sama dengan beberapa toko swalayan untuk pemasaran produk UMKM. “Ke depan kami berencana ingin meningkatkan keterampilan santri dalam hal pengepakan dan foto produk. Meskipun pesantren ini merupakan pesantren salafiyah, kami juga melengkapi mereka dengan ilmu entrepreuneur. Ini sejalan dengan arahan Gus Menteri tentang kemandirian pesantren,” tutur Gus Enha.

Berawal dari sana, Gus Enha pun berharap Kemenag dapat mendukung pengembangan digital marketing yang dilakukan PMI. “Saya membayangkan, bila di tiap kabupaten/kota terdapat satu saja pesantren yang dapat melakukan ini, kemudian berjejaring satu sama lain, ini dapat menjadi kekuatan penggerak ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

Sumber : medcom.id  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *