Membangun Peradaban Diri Melalui Refleksi Fatihah

OPINI

Oleh : Choirurrois (Pengamat ekonomi syariah)

Fatihah atau dalam bahasa kita “Pembuka” merupakan arti yang cocok dengan maksud kita mendirikan sholat, yaitu untuk mengetuk pintu langit agar “terbuka”. Kita ingin masuk menuju hadirat-Nya untuk menyampaikan proposal bumi pada langit.

1) Bismillahi al-Rahman al-Rahim

Setelah menyelami makna pujian iftitah, kita mencoba menuai makna surat al-fatihah dalam sholat. Diawali dengan menyebut nama dan sifat-Nya “Allah yang maha rahman dan maha rahim” kita akan belajar untuk memahami makna yang terkandung serta logika dari makna basmalah tersebut. Bismillah dengan menyebut untuk mengingat -Nya sebagai dzat maha pengasih yang kasih-Nya tidak pilih kasih bagi mereka yang meyakini-Nya sebagai pencipta dan pencinta ataupun bagi mereka yang menganggap-Nya sebagai tahayul karena mempercayai sesuatu yang tak wujud menurut logika indrawi, kasih sayang-Nya tetap tercurah pada semua penduduk bumi.

Perlu kita catat bahwa sifat maha pengasih “Ar-Rahman” Allah sebagai tuhan tidak butuh plasbeck dari penduduk bumi, welas asihnya tulus, bahkan meskipun se-antero penduduk bumipun tidak percaya akan ketuhanan-Nya sifat rahmah-Nya tetap mereka dapat.

2. Bl-Hamdu Lillahi Rabbi al-Alamin

Hamdu atau pujian adalah ungkapan akan kesempurnaan Dzat yang dipuji, membangun peradaban diri dengan memuji-Nya merupakan sebuah manifestasi dari perwujudan pernyataan perasaan yang amat mendalam bahwa semua kebaikan yang dilakukan ataupun sudah dicapai semata-mata dilakukan untuk memuji-Nya dengan perilaku. Ketika makna al-Hamdu sudah menyerap dalam fikiran seorang hamba maka akan terjalin komunikasi dialogis antara hamba dengan Tuhannya dalam perjalan spiritualitasnya.

Seperti halnya dikisahkan dalam narasi langit “tatkala seorang hamba mengucapkan al-hamdu lillahi rabbi al-Alamina” disambutlah pujian itu dengan jawaban “hambaku telah memujiku” dalam narasi langit tersebut sangat jelas gambaran bahwa shalat adalah komunikasi antara diri dan hati dengan Tuhan semesta alam (lillahi rabbi al-Alamina).  Maka dari itu untuk dapat membangun pradaban diri melalu pujian pada-Nya pastikan hati kita bersih dari segala kegaduhan semesta, dari segala tipu-tipu nya, agar hati selalu terkoniksi dengan Tuhannya. Nah, untuk bisa terkoniksi dengan-Nya kejernihan hati pun kejernihan nurani adalah syarat mutlak yang wajib dipenuhi. Karena Ia adalah Dzat yang suci dan tidak menerima kecuali yang suci pula.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *