DPR soal Kampus Mengajar: Dunia Pendidikan Dipenuhi Label

Program Pendidikan

JAKARTA, – Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda mengatakan dunia pendidikan akhir-akhir ini dipenuhi dengan label atau istilah. Terbaru, adalah program Kampus Mengajar besutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.

Huda tak ingin program yang dibuat Nadiem itu hanya sekedar memberi label baru tanpa ada implementasi di lapangan.

“Saya pada posisi ingin supaya labeling-labeling baru ini betul-betul diisi dengan kesanggupan pelaksanaan di lapangan, diiringi dengan substansi kegiatan dan program yang tidak terjebak sekadar karitatif atau jangka pendek, tapi continue supaya tidak jadi labeling-labeling,” kata Huda kepada CNNIndonesia.com, Rabu (10/2).

Huda meminta Nadiem membuat Kampus Mengajar menjadi sebuah program yang memiliki komitmen jangka panjang. Menurutnya, langkah itu bisa ditempuh dengan membangun kolaborasi yang solid bersama pemerintah daerah, khususnya di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Huda belum bisa memberikan apresiasi ataupun dukungan terhadap program Kampus Mengajar saat ini. Ia meminta Nadiem membuktikan Kampus Mengajar memiliki skema pelaksanaan program yang baik lebih dahulu.

“Buktikan dulu ini bisa jadi sebuah program yang benar-benar operasional di lapangan. Tentu harus ada skema detail dari level regulasi, impelementasi, monitoring, dan evaluasinya,” tuturnya.

Di sisi lain, kata Huda, Kampus Mengajar tak boleh menjadi program yang menghilangkan peran lembaga lain. Ia meminta lembaga yang sudah eksis bisa dilibatkan dalam program tersebut.

“Setiap kali ada label program baru, semangatnya jangan sampai menegasi kelembagaan yang sudah ada.

Itu penting, jangan sampai ada suasana kelembagaan yang sebenarnya mungkin ada dan lalu tidak difungsikan, itu efeknya tidak baik,” kata Huda.

Sebelumnya, Nadiem meminta mahasiswa semester 5 ke atas di perguruan tinggi negeri dan swasta untuk ikut mengajar siswa Sekolah Dasar (SD) di daerah 3T selama satu semester.

Bagi mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut melalui program Kampus Mengajar, pemerintah menjanjikan bantuan uang kuliah hingga Rp2,4 juta dan biaya hidup sebesar Rp700 ribu per bulan.

“Saya mengajak teman-teman mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk beraksi, berkolaborasi dan berkreasi selama 12 minggu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di SD, terutama di daerah 3T,” kata Nadiem melalui siaran langsung di YouTube Kemendikbud RI, Selasa (9/2).

Kata Nadiem, program ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran di luar kampus dan program studi yang disediakan kementeriannya bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Sumber : cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *