Sekolah Tatap Muka Dilakukan Jika Ada Persetujuan Pemda dan Kepala Sekolah

GURU Papua Program Pendidikan

Penyebaran COVID-19 di Kota dan Kabupaten Sorong, Papua Barat, sampai saat ini masih mengkhawatirkan. Oleh karena itu, jika ada yang ingin melakukan sekolah tatap muka, asal ada persetujuan dari Pemerintah Daerah, Kepala Sekolah dan Komite Sekolah.

“Bagi saya semua sekolah sudah bisa belajar tatap muka, asal ada persetujuan dari pemda, kepala sekolah dan komite sekolah. Jadi tolong jangan tanya saya lagi, tanya bupatinya atau gubernurnya. Karena itu sudah keputusan pemda, komite sekolah dan kepala sekolah. Mohon anak-anaknya diberitahu bapak ibu guru, karena anak-anak terus nge Instagram saya kapan sekolah buka,” demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Anwar Makarim, menjawab pertanyaan dari salah satu siswa SMK Negeri 3 Kota Sorong dalam kunjungannya, Rabu (10/2).

Menurut Nadiem, pihaknya sebenarnya menganjurkan agar sekolah tatap muka dilakukan kembali, apalagi di tempat-tempat seperti Indonesia timur atau di luar kota-kota besar. “Tapi di Sorong kondisinya mungkin masih mengkhawatirkan, tetapi di tempat-tempat lain kalau misalnya ada kecamatan-kecamatan atau desa desa di luar Kota Sorong yang bisa buka, kami merekomendasikan untuk segera melakukan tatap muka,” ujarnya.

Lanjut Menteri Pendidikan, dari dulu SMK masih boleh melakukan tatap muka, namun untuk yang kerja praktek saja. Bahkan dari awal kebijakan sejak bulan Agustus, SMK boleh tatap muka untuk yang prakteknya. Katanya, kemarin itu karena ada zona merah dan kuning, yang gak boleh itu tatap muka didalam kelas, tapi yang kerja praktek boleh.

“Jadinya ini benar-benar keputusan antara Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, Gubernur dan anda, silahkan diskusikan bagaimana sudah siap belum. Kalau saya sih apalagi di Indonesia Timur, di mana SMK lebih sulit lagi maka saya condong mendorong untuk mulai melakukan tatap muka. Mau dua hari seminggu atau tiga hari seminggu terserah, yang penting kan nggak boleh lebih dari lima puluh persen kapasitas pas masuk pada protokolnya,” tegasnya.

Ditambahkan Nadiem, tujuan kunjungannya ke beberapa sekolah yang ada di Kota dan Kabupaten Sorong, Papua Barat, yaitu bukan untuk mengajar tapi untuk belajar. “Saya disini bukan untuk mengajar, tapi saya disini untuk belajar.  Saya datang langsung ke lapangan, untuk mengetahui langsung isi hati dari masing-masing peserta didik dan tenaga pendidik kita, termasuk uneg-unegnya maupun isu-isunya. Jauh lebih gampang untuk mengeluarkan itu semua, kalau kita bertemu tatap muka walaupun dengan protokol kesehatan,” ucapnya.

Diakui Nadiem, dari awal menjadi menteri,  dirinya berjanji akan berkeliling di berbagai macam daerah terluar Indonesia dan yang terjauh dari Jawa. “Akhirnya ini yang pertama kali kita sampai di Papua Barat dan harapannya ini bukan yang terakhir kali. Luar biasa penerimaan dan jumlah pembelajaran yang saya dapat dari trip ini,” pungkasnya.

Sumber : kumparan  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *