Asuransi Pendidikan Bumiputera: Produk Unggulan Berujung Petaka

Program Pendidikan

JAKARTA – Hari ini, Jumat (12/2/2021) berbarengan dengan Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili, Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 merayakan ulang tahun ke-109.

Tepat sehari sebelumnya, para nasabah di seantero Indonesia ramai-ramai menggeruduk tiap kantor cabang perusahaan asuransi mutual ini, seperti diberitakan banyak media massa. Tapi, bukan untuk merayakan ulang tahunnya, para nasabah hanya ingin mengingatkan kembali. Di usia sepuh, sudah sakit-sakitan pula, AJB Bumiputera 1912 jangan lantas pikun membayar tanggung jawabnya kepada nasabah.

Kondisi ini turut tergambar di depan kantor pusat AJB Bumiputera 1912, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (11/2/2021) sore hari. Para nasabah korban gagal bayar berseragam merah, dengan beragam atribut dan spanduk bernuansa ‘Korban Bumiputera’, saling berbagi cerita lewat orasi.

Sembari bercerita, para nasabah pun melontarkan pandangan-pandangannya terhadap kondisi terkini perusahaan, mulai dari sengkarut politik internal, sampai mengomentari sikap Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ketua Perkumpulan Pemegang Polis AJB Bumiputera Indonesia Yayat Supriyatna mengungkap kepada Bisnis bahwa pandangan para nasabah ini telah dipadatkan ke dalam empat tuntutan, yang kompak diserukan seluruh nasabah gagal bayar di seantero negeri. Intinya sederhana, ‘Pak Tua’ ini jangan sampai lupa diurus, jangan pula terus dibiarkan jalan sendiri tanpa diobati. Bisa mampus nanti!

Berdasarkan pengamatan Bisnis, kebanyakan kisah pilu yang diungkap nasabah bersumber dari kekecewaannya terhadap gagal bayar dari produk asuransi terkait pendidikan.

Seperti diketahui, asuransi jiwa pendidikan memiliki fungsi sebagai jaminan dana pendidikan anak. Biasanya memiliki pencairan nilai tunai dalam periode tertentu, baik ketika nasabah masih hidup atau telah meninggal, dengan biaya premi yang dapat disesuaikan dengan tingkat pendidikan yang ingin dicapai.

Sebagai produk asuransi, para orang tua selaku nasabah tentu menekankan manfaat asuransi jiwa dari produk ini, sebagai proteksi agar sang anak tetap bisa bersekolah, apabila nasabah tutup usia sebelum jangka waktu pembayaran premi habis.

Apabila hal buruk terjadi, produk ini biasanya mengakomodasi pembebasan keluarga nasabah dari kewajiban membayar premi. Polis asuransinya pun tetap aktif, sehingga anak selaku penerima manfaat asuransi tetap menerima nilai tunai sesuai jangka waktu yang ditentukan.

Koordinator Nasabah Korban Bumiputera Nasional Erwin Nasution mengungkap kebanyakan nasabah gagal bayar memang didominasi terkait produk asuransi pendidikan.

Menurutnya, jumlah terbanyak lainnya sebagian bersumber dari produk proteksi pensiun dari Dana Pensiun Lembaga Keuangan atau DPLK Bumiputera. Benang merahnya, kedua produk ini sama-sama membutuhkan jangka waktu pembayaran premi yang panjang.

“Asuransi ini kan memang awalnya didirikan oleh para guru. Jadi memang wajar kalau produk-produk asuransi pendidikan yang paling melekat di benak masyarakat,” ujarnya ketika Bisnis temui di lokasi.

Barangkali selaku perwujudan ikatan emosional dan sejarah, produk AJB Bumiputera 1912 yang identik dengan proteksi pendidikan memang terbilang populer, seperti Produk Asuransi Beasiswa (dwiguna) dan Produk Mitra Cerdas (unit-link).

Seorang bapak dalam orasinya menceritakan upayanya belasan tahun rutin membayarkan premi salah satu produk asuransi pendidikan AJB Bumiputera, dengan janji nilai tunai sekitar Rp30 juta setelah jatuh tempo. Niatnya, sekaligus menjadi tabungan agar anaknya bisa berkuliah.

Kini, setelah sang anak berhasil masuk salah satu perguruan tinggi terkemuka, rencana besarnya kandas akibat janji manfaat produk asuransi tersebut tak kunjung cair. Hal serupa diceritakan seorang ibu, di mana rencana suaminya yang telah meninggal untuk menjamin dana pendidikan kedua anaknya, kini tinggal cerita. Masih banyak lagi kisah sejenis yang berkaitan dengan kekecewaan akibat produk pendidikan.

“Jadi kalau boleh dikaitkan, kenapa masih banyak anak-anak Indonesia tidak mampu meneruskan sekolah, tidak jadi menggapai pendidikan tinggi, ya karena Bumiputera ini salah satunya,” tambahnya.

Sedikit berbeda, Setyo (59) seorang pensiunan asal Semarang, Jawa Tengah, mengungkap sebenarnya punya cerita cukup baik bersama AJB Bumiputera lewat pengalamannya memegang lima buah polis.

Setyo tertarik mengikuti dua jenis produk dari AJB Bumiputera, yaitu satu polis asuransi jiwa dan empat polis asuransi jiwa pendidikan untuk mempersiapkan sekolah keempat anaknya. Beruntung, kini hanya tersisa satu polis lagi yang masih jadi tanggungan dan terdampak gagal bayar, yaitu asuransi pendidikan untuk putri bungsunya.

“Mungkin karena nilai manfaat saya itu kecil-kecil, di bawah Rp10 juta semua karena sesuai kebutuhan saja. Memang, waktu mencairkan yang anak ketiga mulai susah. Sejak tahun 2000, selesai 2018, terlambat enam bulan dan dicairkan langsung dari pusat. Padahal, yang sebelumnya lancar-lancar saja,” ungkapnya kepada Bisnis.

Menurutnya, dahulu asuransi pendidikan AJB Bumiputera memang populer di kalangan sesama rekan kerja atau saudara-saudaranya yang berprofesi sebagai guru di desa. Terutama, terkait fleksibilitas dalam membayarkan premi. Bisa secara tahunan, triwulanan, bulanan, bahkan harian pun ada. Sehingga dirasa sanggup mengakomodasi kalangan akar rumput yang berminat memiliki proteksi finansial demi pendidikan buah hatinya.

“Jadi harapannya, tentu ada kebijakan seperti sebelumnya, yang mengutamakan pencairan dengan nilai kecil-kecil dulu. Apalagi Bumiputera ini kan banyak nasabah dari kalangan menengah ke bawah yang jadi korban, dan seperti saya, belasan tahun berdarah-darah membayar premi demi anak-anaknya,” tambahnya.

Sumber : bisnis.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *