Belajar Tatap Muka, Ibarat Menanti Hujan Dimusim Kemarau

OPINI

Oleh : Budi Idris

Dunia pendidikan saat ini sangat menantikan terobosan-terobosan baru dari pemerintah khususnya Kementerian pendidikan, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang semakin hari semakin merosot.

Indikator keberhasilan sistem pendidikan di sebuah negara yang paling  mudah adalah melihat bagaimana moral anak remaja atau anak-anak usia sekolah dalam bertingkah laku. Jika sudah baik moral dan tingkah lakunya maka bisa dikatakan proses pendidikan sudah berhasil.

Adapun indikator mengukur keberhasilan sebuah pendidikan sejak 2018 Indonesia sudah terlibat dalam mengikuti survei lembaga internasional yang lebih terkenal kita sebut penilaian PISA.

Program for International Student Assessment, disingkat PISA adalah penilaian tingkat dunia yang diselenggarakan tiga-tahunan, untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun, dan penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD). Tujuan dari studi PISA adalah untuk menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia, dengan maksud untuk meningkatkan metode-metode pendidikan dan hasil-hasilnya.

Hasil PISA Indonesia di bidang literasi, numerasi dan sains, sangat mengecewakan Indonesia berada diurutan yang kurang pantas sebagai negara besar di dunia.

Saat persoalan ini sudah menjadi fokus pemerintah untuk diperbaiki, ternyata permasalahan baru muncul. Virus Corona atau sering kita sebut covid 19 melanda Indonesia seluruh aspek kehidupan terkena terkena dampaknya.

Dunia pendidikan menjadi salah satu yang paling parah terkena dampak dari masa pendemi ini. Belajar daring atau pembelajaran jarak jauh menjadi opsi pilihan terbaik yang bisa diambil saat ini. Hasilnya sudah bisa ditebak sebagian besar kesulitan melaksanakan pembelajaran dan penurunan kompetensi siswa semakin menjadi.

Hal inilah yang mendasari keinginan seluruh pihak agar pembelajaran tatap muka secepatnya dilakukan kembali. Keinginan yang begitu hebat dari semua pihak ibarat menanti hujan di kemarau panjang. Tak ingin rasanya jiwa raga anak bangsa gersang dan tandus akan ilmu pengetahuan terlebih masalah akhlak yang tidak bisa dipelajari dari google dan internet.

Mudah-mudahan situasi pendemi ini kita menghadapinya seperti filosofis air dimana air akan selalu menyesuaikan bagaimana bentuk wadah penampungnya. Begitu jugalah kita jika hidup dalam masa pendemi ini menghindari tidak bisa namun mengikuti dengan cara melakukan kebiasaan baru seperti memakai masker, sering cuci tangan dan menjaga jarak harus kita lakukan. Intinya hidup bersih lahir dan batin harus menjadi program masing-masing setiap orang.

Belajar tatap muka mungkin sangat beresiko untuk dilakukan namun jauh lebih beresiko jika anak-anak kita tidak mendapatkan pendidikan. Bisa jadi generasi terdidik dimasa yang akan datang akan hilang.

Sebaiknya daerah yang tidak terdampak penularan virus Corona harus secepatnya melaksanakan belajar tatap muka. Agar tidak seluruh peserta didik dari Sabang sampai Merauke memiliki kualitas yang sama nantinya dimasa yang akan datang. Setidak-tidaknya ada dari sebagian daerah yang mendapatkan pendidikam yang baik. Inilah nanti yang menutupi kelemahan dari generasi dimasa mendatang.

Membuka sekolah secara keseluruhan mungkin akan menjadi impian terindah saat ini mudah-mudahan segera mungkin dapat diwujudkan.

Salam hangat terimakasih.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *